27 October 2020, 05:25 WIB

Waspadai Gempa Intraplate


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa tektonik dengan magnitudo 5,6 pada pada Minggu (25/10) yang terjadi di Pangandaran, Jawa Barat, dikategorikan sebagai intraplate earthquake yang menyebabkan kerusakan dan guncangannya dirasakan hingga jarak yang jauh, sampai Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta kemarin menjelaskan dengan kedalaman 62 km, gempa tersebut diduga dipicu adanya patahan atau deformasi pada badan lempeng Indo-Australia yang menghunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

Bidang kontak antarlempeng itu, kata dia, berada di kedalaman sekitar 50 km, sehingga jika gempa itu memiliki kedalaman 62 km, pusat gempa berada di bawah bidang kontak antarlempeng (intraplate earthquake).

Menurut Daryono, salah satu ciri gempa intraplate earthquake akan memberikan dampak guncangan yang lebih besar daripada yang semestinya. "Fakta ini tampak pada dampak gempanya, dengan kekuatan magnitudo 5,6 yang menyebabkan kerusakan rumah dengan spektrum guncangan yang luas mencapai Semarang dan Yogyakarta," kata Daryono.

Gempa tersebut, imbuhnya, menyebabkan 29 rumah rusak dan tiga orang luka-luka. Getaran gempa Pangandaran tersebut juga dirasakan di wilayah Kabupaten Ciamis hingga menyebabkan kerusakan 65 rumah warga. Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ciamis Memet Hikmat, kemarin, gempa Pangandaran menyebabkan kerusakan rumah warga di sepuluh wilayah kecamatan.

BPBD Ciamis mendata kerusakan rumah dengan kategori ringan sampai berat di Kecamatan Lakbok, Banjarsari, Purwadadi, Pamarican, Ciamis, Tambaksari, Sadananya, Cimaragas, Banjaranyar, dan Baregbeg.

Kerusakan rumah paling banyak terjadi di Kecamatan Pamarican (38 rumah) disusul Purwadadi (12 rumah).

Lebih lanjut, Daryono menjelaskan, gempa intraplate dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar, seperti halnya peristiwa gempa Padang berkekuatan 7,6 dengan kedalaman 87 km pada 30 September 2009 yang menyebabkan sebanyak 1.117 orang meninggal.

 

Susulan

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,5 kemarin pagi kembali mengguncang Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Pusat gempa terjadi di 95 kilometer Barat Daya Kabupaten Pangandaran, dengan titik 8.22 LS-107.81 BT di kedalaman 10 kilometer namun tidak berpotensi tsunami. "Getaran gempa dirasakan sebagian warga Pangandaran. Sebagian warga juga sempat keluar dan kembali lagi ke rumahnya setelah terjadi getaran," kata petugas operator Pelabuhan Perikanan Cikidang Pangandaran, Massen Sutartono.

Dia menambahkan warga Pangandaran sekarang masih tetap waspada terhadap dua kejadian gempa yang berselang sehari itu.

Gempa bumi juga terjadi Buol, Sulawesi Tengah sekitar pukul 16.26 Wita, kemarin, terasa hingga di pusat ibu kota Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. "Getarannya membuat panik, berlangsung sekitar 20-30 detik. Saya meminta anak-anak keluar rumah," ujar Pardi, seorang warga.(AD/H-1)

BERITA TERKAIT