27 October 2020, 04:40 WIB

Nikmat Energi Terbarukan di Dusun Terpencil (1)


(Liliek Dharmawan/N-2) | Nusantara

TIGA tahun lalu, warga Dusun Bondan yang kebanyakan merupakan petambak hanya bisa menjual ikan segar. Saat itu, belum ada listrik yang masuk ke dusun yang berada di Desa Ujung Alang, Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ini.

Namun, sejak 2017, listrik dari energi terbarukan masuk ke wilayah ini. Anak-anak bisa belajar di malam hari, dan UMKM tumbuh. "Warga sudah bisa membuat olahan dari ikan segar dan udang mentah," aku Kepala Dusun Bondan, Irawan.

Pada 2010, warga sempat menarik kabel PLN dari Desa Grugu, Kawunganten yang berjarak 5 kilometer. Nyala lampu tidak stabil dan warga harus membayar mahal. "Sebelum tahun 2010, di malam hari, kami masih mengandalkan lampu minyak tanah," kata Apudin, tokoh warga.

Perubahan besar terjadi setelah PT Pertamina Refinery Unit IV Cilacap memberi perhatian pada nasib warga.

Pada 2017, Pertamina Cilacap membawa teknologi hybrid energi one pool (Heop). Teknologi sederhana ini menggabungkan antara panel surya dengan kincir angin. Kampung pun menjadi terang.

Pertamina terus memberi perhatian pada dusun paling terpencil di Cilacap itu dengan mengembangkan teknologi energi terbarukan berbasis matahari dan angin yang disebut sebagai pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH). Peluncuran PLTH dilaksanakan pada Maret 2019 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

Dengan adanya PLTH di Dusun Bondan, ada 43 rumah warga dari 78 keluarga dan fasilitas umum yang teraliri listrik. Warga yang belum dapat listrik PLTH bisa menggunakan teknologi Heop.

Dengan kapasitas 180 kilowatt per bulan, PLTH mampu menurunkan emisi hingga 1,1 ton equivalent (Eq) CO2. Tidak mengherankan jika kemudian kawasan setempat disebut sebagai wilayah energi bersih dan menjadi daerah mandiri energi. Tahun lalu, kampung ini diganjar juara pertama Lomba Desa Mandiri Energi tingkat Jawa Tengah.

"Kami juga bisa berhemat. Dulu dari listrik PLN hasil menarik kabel, kami mesti bayar iuran Rp60 ribu-Rp100 ribu per bulan per rumah," tambah Apudin.

Dengan listrik PLTH, warga hanya membayar iuran Rp25 ribu per bulan. Dana itu digunakan untuk pemeliharaan fasilitas.

Dengan PLTH, selain iuran lebih murah, listrik yang dihasilkan juga lebih stabil. "Tidak seperti dulu, lebih sering remang dan redup daripada mencrang kayak sekarang," tandasnya. (Liliek Dharmawan/N-2)

BERITA TERKAIT