27 October 2020, 03:35 WIB

BP Tapera Peluang Penuhi Kebutuhan Rumah Rakyat


Gana Buana | Ekonomi

ASOSIASI pengembang properti, Real Estat Indonesia (REI), menyambut baik keberadaan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera). Bahkan, mereka berharap Tapera segera beroperasi.

Ketua Umum DPP REI Paulus Totok Lusida mengatakan, Tapera dianggap sebagai solusi pembiayaan kepemilikan rumah pertama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Namun, penggelolaannya harus ditata lebih baik dan transparan mengingat dana tersebut milik publik.

Menurut dia, adanya bonus demografi pada 2025 menyumbang potensi sangat besar bagi bisnis sektor perumahan. Untuk itu, diperlukan kerja sama strategis dari pemerintah, BP Tapera, perbankan, dan pengembang dalam memanfaatkan peluang tersebut.

“Kerja sama yang perlu dilakukan, salah satunya, BP Tapera harus menempatkan dana Tapera di bank. Dengan begitu, bank memiliki kecukupan likuiditas untuk menurunkan suku bunga KPR. Kami juga berharap akan paket-paket subsidi yang lebih luas cakupannya dari sisi harga rumah yang lebih dari Rp200 juta, dan juga dari sisi pasar,” ujar Totok dalam diskusi virtual di Jakarta, Senin (19/10).

Ia berharap, ketersediaan dana Tapera akan mendukung penyediaan rumah bagi kelompok milenial, ASN, TNI, Polri, dan masyarakat kelas menengah lainnya yang tidak bisa masuk program FLPP.


Potential buyer

Komisioner BP Tapera Adi Setianto mengatakan tata letak demografi Indonesia akan membuat kebutuhan rumah meningkat pesat dalam kurun waktu 2020-2030. Hal itu tentu memunculkan potensi bisnis yang luar biasa bagi pengembang dan juga perbankan dalam sisi pembiayaan perumahan.

“Bonus demografi di Indonesia diperkirakan terjadi pada 2025 dengan rasio ketergantungan penduduk mencapai titik terendah, yaitu 44,2. Hal ini berarti setiap 100 orang yang bekerja menanggung 44 orang yang tidak bekerja. Bonus demografi ini menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” jelas Adi.

Menurut Adi, hadirnya BP Tapera menjadi salah satu penggerak pertumbuhan sektor sekunder di Indonesia. “Tumbuhnya sektor sekunder di Indonesia diyakini mampu membuka lapangan usaha dan menyerap tenaga kerja pada sektor tersebut. Pertumbuhan tersebut juga dapat mendorong investasi dan inovasi teknologi pada sektor sekunder.”

Dok. BP Tapera

Komisioner BP Tapera, Adi Setianto.

 

Adi mengungkapkan kesiapan Tapera untuk menangkap besarnya potensi bonus demografi yang sudah mulai terasa pada 2020 ini. Caranya ialah membuka akses dan kemudahan bagi siapa saja yang ingin menjadi peserta dan mendapatkan manfaat dari kepesertaan.

“Tidak hanya itu, kemudahan akses untuk menjadi peserta ini juga akan mengarah kepada dorongan sektor properti untuk dapat mengakomodasi permintaan (demand) yang terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Madya BKKBN, Muktiani Asrie Suryaningrum, mengungkapkan pada tahun ini Indonesia sudah menikmati bonus demografi, yaitu dua orang usia produktif menangani kurang dari satu orang usia nonproduktif. Dari jumlah usia produktif tersebut, sekitar 25% didominasi usia 14-24 tahun.

“Jumlah usia produktif yang cukup besar di Indonesia ini pastinya jadi peluang bagi sektor perumahan untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka akan rumah,” tandas Muktiani. (S-1)

BERITA TERKAIT