27 October 2020, 01:30 WIB

Universitas Syiah Kuala Kembangkan Ayam Organik Bebas Antibiotik


Mediaindonesia.com | Humaniora

Tiga dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengembangkan peternakan ayam organik bebas antibiotik dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat.

Kegiatan tersebut dilakukan melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Produk yang dilakukan tiga dosen dari bidang ilmu berbeda, yaitu Tedy Kurniawan Bakri (Farmasi), Heru Fahlevi (Ilmu Ekonomi) dan Allaily (Peternakan).

“Program ini bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan dan perekonomian masyarakat yang terlibat, sebab selama ini, budidaya ayam yang dilakukan masyarakat masih berkonsep rumahan yang hasilnya belum begitu maksimal dirasakan dan masyarakat umumnya masih menggunakan pakan-pakan yang masih kurang baik,” kata Dosen Unsyiah, Tedy Kurniawan Bakri di Aceh Besar, Senin (26/10).

Ia menjelaskan pakan merupakan bagian penting untuk meningkatkan kualitas dan pertumbuhan ayam ternak.

Dalam program yang dilaksanakan di Gampong Lambiheu, Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar, pihaknya menggunakan pakan hasil fermentasi yang dapat menyehatkan ayam karena mengandung asam organik dan probiotik.

Selain itu, pakan fermentasi dari berbagai mikroorganisme ini juga mampu menggantikan peran antibiotik di dalam saluran pencernaan ayam.

Dalam kegiatan tersebut para dosen mensosialisasikan cara budidaya ayam tanpa menggunakan antibiotik, tetapi dapat menghasilkan ayam yang sehat dan mampu meningkatkan perekonomian.

Pihaknya juga mengajak masyarakat untuk membudidayakan maggot, larva lalat Black Soldier Fly (BSF) sebagai bahan pakan sumber protein bagi ayam. Pakan jenis tersebut dapat diperoleh masyarakat dari tepung ikan hasil impor.

Ia mengatakan dengan budidaya maggot, masyarakat dapat lebih mandiri dan hemat untuk menyediakan pakan tinggi protein yang selama ini harganya relatif mahal.

Pihaknya menargetkan dengan budidaya tersebut dapat menekan biaya pakan yang menghabiskan 70 persen dari total produksi.

Selain itu, masyarakat desa juga dibekali ilmu pemberdayaan ekonomi dan kesehatan ternak menggunakan ramuan herbal, sehingga mendukung kesehatan konsumen.

Kemudian untuk proses pemasaran produk dilakukan melalui media Instagram @darussalamorganicchicken dan pemasaran langsung di swalayan 212 dan Grand Aceh Kuliner.

Tedy berharap program ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat yang tadinya bertani sayur, bahkan juga tanpa ada pekerjaan.


“Keuntungannya tidak hanya dalam hal ekonomi saja, tetapi juga konsumen menjadi lebih sehat menikmati ayam organik bebas antibiotik, terlebih di masa pandemi ini,” katanya. (OL-12)

BERITA TERKAIT