26 October 2020, 13:45 WIB

Ragi dari Mesir Kuno Digunakan Lagi untuk Membuat Roti


Galih Agus Saputra | Weekend

SEKITAR 2000 SM, seorang pembuat roti di kota Thebes, Mesir kuno, mencoba membuat ragi dan mengolahnya menjadi adonan roti berbentuk segitiga. Setelah dipanggang, roti itu kemudian dikubur dalam sebuah upacara yang berlangsung di bawah kuil Firaun Mentuhotep II, di tepi barat Sungai Nil.

Ragi dan roti itu pun kemudian 'tertidur' seperti mumi hingga akhirnya ditemukan oleh Seamus Blackley pada 2019. Selain dikenal sebagai perancang Xbox, Blackley juga merupakan seorang egyptolog amatir. Ia kemudian menyedot bakteri yang ada dalam roti tersebut dengan jarum suntik dan menghidupkannya kembali menjadi biang (starter) ragi.

Seamus mengaku penasaran tentang hasil jika roti yang berasal dari jaman kuno ini dibuat ulang di tahun masehi. "Aku mencoba belajar darimu, temanku. Suaramu tidak akan pernah diam. Semoga kamu tetap hidup, selamanya," katanya, seperti dilansir dari Sapien.org, Sabtu, (24/10).

Dalam eksperimennya ini, Seamus bekerjasama dengan Arkeolog asal Australia, Serena Love. Eksperimen berlangsung di halaman belakang rumahnya di California, Amerika Serikat, dan metode yang diterapkan mengikuti cara yang dilakukan para pembuat roti di masa kejayaan piramida, yakni dengan memanggang di dalam tanah.

Seamus dan Serena akhirnya benar-benar berhasil membuat roti itu pada Maret silam. Sebagaimana diketahui, tekstur roti tersebut rupanya cukup padat sementara aromanya asam dan rasanya manis seperti gula merah. “Itu ajaib karena benar-benar hidup dari masa lalu," imbuh Serena.

Pencapaian itu kemudian memicu reaksi para pecinta kuliner. Seamus dan Serena bahkan turut disebut sebagai 'perampok ragi yang hilang'. Meski begitu ada juga anggapan bahwa apa yang dilakukan Seamus dan Serena ini ialah prestasi di bidang arkeologi. Petualangan mereka termasuk dalam 'gastroegyptology' atau lebih tepatnya dalam sub-bidang yang dikenal sebagai arkeologi eksperimental.  

Arkeologi eksperimental sendiri mulai dikenal pada 1960-an. Bidang penelitian ini kemudian semakin populer dan menghasilkan sejumlah penciptaan kembali seperti kapal, alat batu, hingga bir. Di mata kalangan arkeolog eksperimental, langkah seperti ini dapat dilakukan untuk mengisi catatan kosong sejak masa lalu hingga masa kini. (M-1)
 

BERITA TERKAIT