26 October 2020, 02:50 WIB

AS Catat Rekor Kasus Covid-19 Tertinggi 2 Hari Berturut-turut


MI | Internasional

AMERIKA Serikat mencatat rekor jumlah kasus covid-19 harian baru tertinggi untuk hari kedua secara berturut-turut pada Sabtu (24/10), berdasarkan angka dari Universitas Johns Hopkins yang mencatat peringatan tumbuhnya penyebaran.

Negara itu melaporkan 88.973 infeksi baru antara jam 8.30 malam hari Jumat hingga Sabtu jam 8.30 malam waktu setempat. Angka tersebut menunjukkan lonjakan jauh di atas 79.963 hari sebelumnya.

Sebanyak 8.568.625 kasus telah dilaporkan di AS dengan 224.751 kematian tertinggi di dunia.

Wabah terburuk saat ini di AS terjadi di bagian utara dan barat tengah. Sekitar 35 dari 50 negara bagian mengalami peningkatan jumlah kasus yang signifikan.

“Jumlah kematian selama 24 jam secara umum tetap stabil sejak awal musim gugur, antara 700 dan 800. Pada hari Sabtu, AS mencatat 906 kematian,” lapor Johns Hopkins.

Presiden Donald Trump telah berusaha untuk menepis kritik keras atas penanganannya terhadap krisis kesehatan menjelang pemilihan 3 November, terutama dari lawannya dari Partai Demokrat, Joe Biden. 

Pada hari Sabtu, mantan Presiden Barack Obama menyerang pendekatan Gedung Putih (Trump) terhadap pandemi. Dia mengatakan pada rapat umum di Florida bahwa upaya Trump telah menambah kekacauan.

“Gagasan bahwa entah bagaimana Gedung Putih ini telah melakukan apa pun, tetapi benarbenar mengacaukan. Hal ini adalah omong
kosong,” kata Obama.

Trump telah berusaha untuk mengecilkan virus itu meskipun telah tertular dan pulih darinya sendiri. Dia mendorong bisnis harus dibuka kembali sehingga ekonomi negara dapat pulih.

“Pemilihan ini adalah pilihan antara pemulihan super-Trump dan depresi Biden,” katanya kepada para pendukung di North Carolina, Sabtu.

Eropa melaporkan 200.000 kasus infeksi korona harian untuk pertama kalinya pada hari Kamis, karena banyak negara Eropa Selatan minggu ini melaporkan jumlah kasus tertinggi
dalam satu hari.

Menurut perhitungan Reuters, Eropa menyumbang hampir 19% kematian global dan sekitar 22% kasus global. (Van/AFP/I-1)

BERITA TERKAIT