25 October 2020, 22:25 WIB

Optimisme Petani Cidaun Hingga Sleman di Masa Pandemi  


Iis Zatnika | Nusantara

Usep, petani yang sehari-hari bergelut dengan komoditas holtikultura dengan memanfaatkan suburnya dataran tinggi tanah tatar sunda, menjadi salah satu peserta program pelatihan Bango Pangan Lestari yang diselenggarakan The Learning Farm di Sukaresmi serta di Cidaun, keduanya kecamatan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Rabu (23/9).

Diselenggarakan pada masa pandemi covid-19, Usep dan tak kurang 20 petani lainnnya dari wilayah penghasil aneka sayuran itu terlebih dahulu harus lolos dari tes cepat. Setelah dinyatakan bebas korona, dengan tetap menggunakan masker juga pelindung wajah transparan, mereka praktik langsung.

Karung yang terhampar dengan onggokan daun-daun dan sisa-sisa tanaman padi pascapanen itu kemudian diolah menjadi pupuk kompos cair. Pertanian pun menjadi sirkular dan berkelanjutan, tak meninggalkan limbah pun beranjak bertahap dari penggunaan kimia yang berlebihan.

Tak kalah pentingnya, mereka dibagi dalam kelompok dalam pelatihan Analisa Usaha Tani. Salah satu kasus yang dibahas dengan detail hitungan rupiah, adalah penanaman jagung manis. Mereka belajar bersama menghitung keuntungan yang diperoleh dari selisih pendapatan dikurangi modal. Berikutnya, ada kalkulasi pengeluaran yang merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap, di antaranya ongkos penyiapan lahan, benih, pupuk daun, pupuk susulan, pestisida serta ongkos kerja.

Modul bersampul biru yang bergambar lahan kedelai nan hijau dengan sosok petani dan putranya, yang menjadi salah satu buah tangan buat Usep dan para petani lainnya dari kegiatan itu, menjadi penanda bahwa kegiatan bahwa ikhtiar peningkatan mutu dan kapabilitas petani mestinya tetap bergulir di masa pandemi. Terlebih, ketika Indonesia dan seluruh dunia dirundung korona yang memicu pertumbuhan pendapatan domestik bruto (PDB) minus 5,32% year on year atau minus 4,19% quarter to quarter, seperti yang dirilis pada Berita Resmi Statistik 5 Agustus 2020, nyatanya pertanian justru tumbuh moncer hingga 16,24%.

"Kondisi ini menimbulkan harapan sekaligus membuktikan bahwa di masa krisis seperti ini pertanian bisa terus bertahan, sehingga ini bisa menjadi momentum kita untuk melakukan berbagai upaya perbaikan yang harus dilakukan komprehensif dan berkelanjutan. Pembenahan yang diperlukan meliputi aspek produksi, distribusi hingga harga," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi dalam peluncuran Bango Pangan Lestari melalui daring di Jakarta, Selasa (25/10).

Ketika digital kian dekat dengan kehidupan sehari-hari di tengah pergelutan masyarakat untuk bertahan dan bangkit di masa pandemi, Usep dan kawan-kawannya pun terhubung dengan Sayurbox dan Tanifund. Dua perusahaan rintisan yang menggeluti pertanian itu melibatkan mereka sebagai pemasok. Petani didekatkan dengan konsumennya, memotong rantai panjang yang selama ini menyebabkan harga jual hasil panen mereka bisa terpaut hingga 18% pada komoditas beras hingga 65% pada cabai merah.

Dari puluhan orang di Cianjur, Hernie Raharja selaku Director of Foods and Beverages PT Unilever Indonesia, Tbk menyatakan, akan meneruskan rangkaian pelatihan itu pada lebih dari 500 orang petani di seluruh pulau Jawa. Masing-masing, akan dilakukan Tanihub pada petani binaannya di Bandung, Cianjur, Kuningan, Sleman, dan Malang. Sedangkan Sayurbox akan menyelenggarakan pelatihan di Cipanas, Lembang dan Cibodas yang diselengarakan mulai September hingga Desember 2020. Pun, segarnya hasil panen jagung, labu, beras, kol, buncis, daun melinjo hingga kacang panjang mereka pun akan diusung dalam paket siap masak. Di antaranya, sayur asam, cap cay goreng hingga nasi kuning yang dipadukan dengan kecap yang kacang kedelai hitamnya ditanam 10.500 petani di atas lahan 3.900 hektare lahan yang tersebar di Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Jawa Timur secara berkelanjutan.

Kolaborasi banyak pihak ini, kata Rusli Abdulah, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) diharapkan bisa menghadirkan senyum di wajah para petani yang kendati sektor yang digelutinya bertumbuh, namun kesejahterannya tak serta merta membaik. “Di balik fakta bahwa pertanian tidak terkontraksi pada kuartal II 2020, namun kesejahteraan petani kian tergerus. Buktinya, indeks Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan, yaitu perbandingan antara indeks harga yang diterima terhadap indeks harga yang dibayar, kian menurun. Di awal tahun NTP 104,16, pada Juli turun menjadi 100,09,” kata Rusli.

"Berangkat dari kondisi itu, kami optimistis, kerja bersama ini akan menjadi daya ungkit, pelatihan akan menghadirkan mitra-mitra petani baru yang nantinya akan punya pilihan untuk menjual," ujar Aria Alifie Nurfikry, Vice President of Marketing TaniHub Group.

Ketika petani kian dekat dengan konsumennya, manisnya jagung hasil panen dan segarnya tomat yang mereka tanam tak hanya menghadirkan energi dan kesehatan buat konsumennya, namun juga optimisme saat mereka menanam benih, membuat pupuk organik dan di saat panen, menunggu tim perusahaan rintisan datang langsung ke kebun.

BERITA TERKAIT