25 October 2020, 12:44 WIB

Wamenag Minta Warga Wajib Rawat Kebhinekaan dan Jaga Indonesia


Alexander P Taum | Humaniora

WAKIL Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'Adi, Sabtu (25/10) malam, menyerukan segenap komponen bangsa Indonesia untuk terus menerus merawat kebhinekaan, merawat kesatuan, serta menjaga Indonesia sebagai rumah bersama. Sebab, di usianya yang ke-75, Indonesia masih bisa rukun, damai, aman, dan tidak ada konflik yang berarti.

Sedangkan, di sisi lain, banyak negara dilanda konflik berkepanjangan, bahkan ada pula negara yang sudah punah akibat konflik yang terus menerus.

Seruan tersebut disampaikan Wakil Menteri Agama di aula Hotel Palm, Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (25/10) malam.

Baca juga: JK Jadi Saksi Penandatanganan PKS Museum Muhammad SAW di Indonesia

Berbicara dalam kesepatan tatap muka bersama Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lembata, serta keluarga besar Kementerian Agama, Zainut menegaskan Indonesia memiliki banyak karunia.

"Ada banyak negara dilanda konflik. Bahkan ada negara yang sudah punah. Uni Soviet sudah tidak ada. Yugoslavia sudah tidak ada. Negara-negara teluk, konflik berkepanjangan. Antara Afganistan dan Pakistan terus terjadi konflik peperangan. Korbannya tidak sedikit. Rakyat sipil, perempuan, dan anak-anak menjadi korban. Semua rakyat mengalami duka luar biasa. Sementara Indonesia, alhamdulilah, rukun. Saya datang di Lembata, masyarakatnya saling gotong royong, ramah, senyum. Ini luar biasa," ujar Wamen Agama, Sabtu (24/10) malam.

Mantan Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Tengah itu menyebut Indonesia adalah negara yang sangat besar. Ada 17 ribu lebih pulau, ada 19 etnik,
ada 1.300 suku bangsa, ada 700 lebih bahasa daerah dan 6 agama. Itu merupakan suatu pluralitas kebhinekaan yang luar biasa.

Menurutnya, ada tiga modal dasar yang dimiliki bangsa Indonesia yang menyebabkan negeri ini tetap utuh dan satu dalam perbedaaan.

"Setidak-tidaknya ada tiga modal dasar yang kita miliki. Yang pertama adalah modal rohani, bahasa, dan ideologi. Bangsa Indonesia ini bangsa yang religious, agamis, kehidupan keagamaan begitu semarak dimana-mana. Praktik keagaaam mewarnai kehidupan bangsa Indonesia. Bukan hanya pada kehidupan kemasyarakatan, tapi juga kehidupan kenegaraan. Praktik keagamaan juga mempengaruhi kehidupan negara. Ini karena negara Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama," ujar Zainut.

Kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia syarat dengan nilai-nilai keagamaan yang kuat. Ini yang menjadikan masyarakat Indonesia itu
menjadi masyarakat yang ramah, masyarakat yang penuh toleransi, masyarakat yang gotong royong, persaudaraannya kuat, baik persaudaraan keagamaan maupun persaudaraan kebangsaan.

Pejabat diambil sumpahnya agar bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, masyarakat, dan lebih dari itu tanggung jawab dia kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Itulah nilai nilai keagaman yang masuk dalam kehidupan kenegaraan kita.

"Kita bersyukur karena agama yang dianut adalah agama yang moderat, agama yang penuh persaudaraan, bukan agama yang menafikan kelompok lain," ujar Zainut.

Wakil Menteri Agama kemudian mengkritik kemunculan fenomena keagamaan secara ekstrem bahkan cenderung liberal serta klaim agama tertentu paling benar. Hal itu lebih disebabkan karena orang belajar agama tidak melalui sumber-sumber yang punya otoritas keilmuan yang benar.

"Orang yang kehidupan beragamanya diwarnai sikap mau benar sendiri lebih disebabkan karena belajar agama bukan dari ulama, dari pastor, dari pendeta, atau dari thabib. Orang belajar dari google. Boleh jadi dia mendapatkan informasi agama yang benar tapi boleh jadi dia tidak
mendapatkan informasi dari sumber-sumber yang punya otoritas keilmuan yang benar. Ini yang membahayakan. Bisa jadi dia memahami keagamaan secara ekstrem, secara liberal, yang keluar dari teks atau sumbernya. Dirinyapun bersyukur bahwa Pemahaman agamadi Indonesia adalah secara rahmatin al amin," papar Zainut.

"Meskipun berbeda-beda, kita adalah satu. Kebhinekaan kita adalah takdir Allah. Nilai nilai yang sangat luhur ini menjadi nilai bersama, sebagai sebuah kebersamaan. Berbeda-beda tapi tetap satu. Inilah yang harus kita rawat, kalau tidak kita bisa pecah," lanjutnya.

Selain itu, ada pula modal Bahasa Indonesia ternyata benar-benar mempersatukan Negara Indonesia yang sangat beragam.

"Di Afsel, ada 9 bahasa yang satu dengan lainnya tidak saling paham. Indonesia yang ada 400 bahasa, tetapi cukup dengan satu Bahasa Indonesia, kita bisa saling memahami. Ini luar biasa. Sadar bahwa Tuhan beri karunia kepada bangsa Indonesia," kata Zainut.

Modal pemersatu bangsa yang ketiga adalah modal ideologi yang kuat. Pancasila menjadi falsafah bangsa yang berdaya mempersatukan perbedaan. Pancasila ini kita akui sebagai suatu kesepakatan Nasional.

"Di dalam Pancasila itu, ada perjanjian untuk saling membantu, saling  menghormati, tidak boleh menyakiti satu dengan yang lain. Pancasila
adalah jalan keluar (solusi) kebangsaan yang sudah ditemukan oleh para pendiri Bangsa. Sehingga kita harus menjaganya agar Bangsa Indonesia ini  aman, damai dan sentausa," ujar Wakil Menteri Agama.

Ditegaskan, warga Negara NKRI berkewajiban merawat kebhinekaan, merawat kesatuan dan menjaga Indonesia Rumah kita Bersama. (OL-1)

BERITA TERKAIT