25 October 2020, 09:59 WIB

MBS Khawatir Dibunuh jika Normalisasi Hubungan Saudi-Israel


Wisnu AS | Internasional

AMERIKA Serikat terus mendesak Arab Saudi untuk segera melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Tapi, tampaknya kerajaan itu mengkhawatirkan dampak buruk akibat realisasi kebijakan tersebut.  

Menurut laporan Haaretz yang dikutip Middle East Eye, miliarder Israel-Amerika, Haim Saban, mengungkapkan kekhawatiran Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman atau dikenal sebagai MBS.

Putra mahkota Saudi mengatakan kepada Haim Saban bahwa jika pihaknya mengikuti langkah Uni Emirat Arab dan Bahrain akan membuatnya, "Dibunuh Iran, Qatar, dan rakyat saya sendiri."

Pengusaha di bidang hiburan itu membuat klaim pada acara kampanye online pro-Biden pada Rabu dengan mengangkat judul Keamanan dan Kesejahteraan Israel di Gedung Putih Biden. Ini diselenggarakan oleh Florida untuk Joe Biden dan Kamala Harris.

UEA dan Bahrain, yang secara erat mengoordinasikan kebijakan luar negeri mereka dengan Arab Saudi, menormalisasi hubungan dengan Israel pada Agustus lalu. Mereka memperkuat langkah tersebut dengan upacara penandatanganan di Gedung Putih bulan lalu.

Saban, miliarder pendiri Saban Center for Middle East Policy di Brookings Institution, ialah salah satu dari sedikit Demokrat yang hadir ketika perjanjian yang dijuluki Abraham Accords ditandatangani pada 15 September. Presiden Donald Trump menyebut kesepakatan itu dengan Abraham Accords yang diambil dari nama ayah para nabi agama monoteistik bermula di Timur Tengah, yakni Yudaisme, Kristen, dan Islam.

Pada Jumat (23/10), Presiden AS Donald Trump mengatakan dia mengharapkan Arab Saudi juga menyetujui hubungan yang lebih dekat dengan Israel dalam beberapa bulan mendatang. Meskipun demikian, survei baru-baru ini menunjukkan mayoritas populasi Arab terus menentang normalisasi dengan Israel.

Komentarnya muncul tak lama setelah Sudan menjadi negara Arab ketiga dalam beberapa bulan terakhir yang menormalisasi hubungan dengan Israel. Awal bulan ini, Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan al-Saud mengatakan kerajaan tidak akan mengakui Israel sampai ada kembalinya negosiasi Israel-Palestina.

Saban, seorang donor lama untuk partai Demokrat, juga menggunakan platformnya pada acara online Rabu, untuk memuji calon presiden dan komitmen 47 tahun mantan Wakil Presiden Joe Biden untuk Israel. "Semua orang Yahudi di Amerika yang peduli dengan aliansi AS-Israel tahu mereka dapat tidur nyenyak di bawah kepresidenan Biden," katanya.

Kesepakatan normalisasi sebagian besar telah dipenuhi secara positif di antara Demokrat dan Republik. Miliarder itu juga mengklaim bahwa Presiden Donald Trump memainkan peran kecil dalam mengamankan Persetujuan Abraham karena sebagian besar kontribusi dilakukan menantu dan penasihat seniornya, Jared Kushner.

"Semua pujian harus diberikan kepada Jared Kushner dan (pembantunya) Avi Berkowitz, yang bekerja sangat keras untuk itu," kata Saban.

Trump telah menyoroti kesepakatan normalisasi Arab dengan Israel sebagai pencapaian besar saat ia mencari masa jabatan lain dalam pemilihan 3 November, dengan basis Kristen evangelis-nya yang sangat mendukung Israel.

Namun, kesepakatan normalisasi telah membuat marah warga Palestina. Mereka dianggap telah menikam dari belakang karena memberi penghargaan kepada Israel dan mengizinkannya melanjutkan pendudukan ilegal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur serta pengepungannya di Gaza. (OL-14)

BERITA TERKAIT