25 October 2020, 06:24 WIB

Serangan terhadap Sekolah di Kamerun, 8 Siswa Tewas


Faustinus Nua | Internasional

PBB melaporkan serangan kelompok bersenjata di sebuah sekolah di barat daya Kamerun telah menewaskan sedikitnya delapan anak pada Sabtu (24/10).

"Sedikitnya delapan anak tewas akibat tembakan dan serangan dengan parang, di Mother Francisca International Bilingual Academy," kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam sebuah pernyataan resmi.

"Dua belas lainnya terluka dan dibawa ke rumah sakit setempat," tambah pernyataan itu.

PBB mengatakan serangan itu merupakan salah satu yang terburuk di wilayah tersebut hingga saat ini.

Baca juga: Suriah Hargai Belasungkawa Indonesia atas Tewasnya Mufti Damaskus

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap sekolah dwibahasa di Kumba itu. Tetapi, daerah tersebut telah dilanda kekerasan antara separatis Anglophone dan pasukan pemerintah selama tiga tahun terakhir.

Dua wilayah berbahasa Inggris di provinsi Kamerun, Barat Daya dan Barat Laut, telah lama menentang diskriminasi yang dirasakan dari mayoritas penutur bahasa Prancis di negara itu. Kedua wilayah itu menjadi pusat konflik yang melibatkan militan separatis yang mengincar tentara dan menuntut penutupan kantor pemerintah daerah dan sekolah.

Pertempuran telah merenggut lebih dari 3.000 nyawa dan memaksa lebih dari 700.000 orang mengungsi dari rumah mereka sejak 2017.

Pihak berwenang pun tidak menyalahkan kelompok mana pun atas serangan pada Sabtu (24/10) itu. Chamberlin Ntou'ou Ndong, prefek departemen Meme, tempat sekolah itu berada, mengecam kelompok pelaku dan berharap pelakunya dapat segera diungkap.

"Orang-orang ini akan ditangkap apa pun yang diperlukan. Saya ulangi, apa pun yang diperlukan," kata dia.

Sejak awal September, tentara melancarkan operasi melawan militan di wilayah Northwest. Sejak dimulai, gerakan tersebut menjadi lebih radikal, dan separatis mengganti nama wilayah menjadi Republik Ambazonia, yang tidak pernah diakui secara internasional.

Arrey Elvis Ntui, seorang analis senior di International Crisis Group di Kamerun menyampaikan strategi para pemberontak termasuk memboikot sekolah.

"Sekitar 700.000 anak muda dikeluarkan dari sistem sekolah karena konflik," katanya kepada AFP.

"Pemerintah dan masyarakat sipil anglophone telah memberikan banyak tekanan pada kelompok separatis. Hal itu mengizinkan anak-anak mereka kembali ke sekolah, dan beberapa yang telah ditutup dalam beberapa tahun terakhir mulai melanjutkan kelas lagi," kata Ntui.

Tahun lalu, dua siswa dibunuh kelompok separatis di Buea, ibu kota Wilayah Barat Daya yang digambarkan sebagai "pembalasan" karena menentang penutupan sekolah secara paksa.

Pada 2018, pemberontak membunuh seorang kepala sekolah, memutilasi seorang guru, dan menyerang beberapa sekolah menengah. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT