25 October 2020, 05:57 WIB

Supaya Psikis Anak Tetap Terjaga


Wan/SS/N-2 | Humaniora

DUNIA anak itu bermain dan bermain dengan teman. Mereka selalu berkumpul dan tidak harus menjaga jarak.

Namun, di masa pandemi, bermain dan berkumpul seakan direnggut dari anak-anak. Sama seperti orang dewasa, mereka harus menjaga jarak dengan orang lain.

“Perubahan itu pasti membuat anak-anak stres. Dunia mereka, bermain dengan teman-teman sebaya, seakan direnggut, hilang,” ungkap psikolog anak dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan, di Media Center Satgas Penanganan Covid-19, di Jakarta, kemarin.

Sani punya solusi untuk mencegah anak mengalami stres dan kejenuhan. “Anak-anak harus didorong selalu menjaga komunikasi dengan teman-teman mereka, lewat sambungan telepon, virtual, tukaran foto, dan sering bertegur sapa. Yakinkan anak bahwa situasi pandemi pasti akan berakhir.”

Ibarat naik pesawat, yang pertama menggunakan bantuan oksigen ibu dulu, baru anak. Di masa pandemi, orangtua dulu yang dikuatkan sehingga mereka bisa kreatif membantu anak-anaknya.

Dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah, tim satgas memberi perhatian terhadap warga lanjut usia dengan penyakit penyerta. “Kami sudah menyosialisasikan tips untuk kelompok rentan yang biasanya berusia di atas 50 tahun ini. Ada 10 tips, mulai mengurangi aktivitas di luar rumah, menjaga daya tahan tubuh, hingga menghindari stres,” kata anggota satgas, Rita Juliawaty.

Yang juga tidak kalah penting, lanjut dia, saat ada masalah, mereka harus terbuka membicarakannya dengan keluarga. “Saling menguatkan, perbanyak ibadah, dan hindari cemas,” tandasnya.

Pandemi juga jadi masalah besar buat warga yang menderita gangguan autoimun. “Satu-satunya cara bagi penderita autoimun untuk bertahan di masa pandemi ialah dengan rutin melakukan pengecekan ke rumah sakit,” ungkap dokter spesialis penyakit dalam alergi-imunologi, Alvina Widhani.

Sayangnya, menurut survei yang ia lakukan bersama tim dokter lainnya, cukup banyak pasien autoimun yang justru putus berobat sejak pandemi datang. “Dari 685 responden, 13,9% menyatakan berhenti minum obat selama pandemi. Sebagian besar atau 57,5% mengaku takut berobat ke rumah sakit,” paparnya. (Wan/SS/N-2)

BERITA TERKAIT