25 October 2020, 03:45 WIB

Santri bukan lagi Kalangan Marginal


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

SANTRI yang pernah diidentikkan dengan sebutan ‘kaum sarungan’ sebagai olok-olok atas stigma ndeso atau kampungan, kini telah berkontribusi sangat signifikan dalam pembangunan.

Alih-alih sekadar mengaji di lingkungan pesantren, banyak alumnus santri yang kini bergerak dan melebur ke dalam modernitas. Tidak sedikit tokoh santri yang sukses di berbagai bidang. Mulai bidang ekonomi, literasi keberagaman atau moderasi beragama, kebudayaan, kesusastraan, hingga mencapai puncak karier sebagai presiden dan wakil presiden RI (lihat grafik).

Karena itu, Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 pun mengukuhkan eksistensi santri dan menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada Kamis (22/10), banyak kalangan mendorong agar peran kalangan santri ke depan semakin sentral.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Anwar Abbas, misalnya, menilai para santri di pesantren-pesantren kini sudah jauh lebih berkembang. Jika dahulu pesantren hanya mempelajari agama, kini pesantren sudah mengajarkan ilmu-ilmu umum.

“Dengan demikian, wawasan para santri kita semakin luas dan semakin terbuka. Sekarang saya lihat banyak sekali lulusan pesantren yang jadi dokter, insinyur, bidang penerbangan, sudah merambah ke segala bidang ilmu. Yang ada selama ini ialah orang menjadi dokter, tapi tidak tahu agama, orang menjadi insinyur tidak tahu agama. Kalau sekarang, saya lihat mereka menjadi dokter tahu agama, jadi insinyur tahu agama, jadi pilot tahu agama, dan itu jadi bagus sekali,” kata Anwar saat dihubungi, Sabtu (24/10).

Bukan hanya itu, menurut Anwar, karakter para santri zaman now juga mencerminkan warga yang pancasilais karena Berketuhanan Yang Maha Esa, yang beriman dan bertakwa, taat menjalankan ajaran agama sehingga dia menilai bahwa dunia pendidikan pesantren sudah berjalan di jalurnya.

Meskipun demikian, kalangan santri tetap diminta tidak berpuas diri dan terus meningkatkan kualitas dan peranannya di masyarakat. Dalam kaitan itu, Panglima Santri Jawa Barat Uu Ruhzanul Ulum mendorong agar para santri terus meningkatkan kepercayaan diri sehingga lulusan pondok pesantren dapat lebih berperan saat terjun di masyarakat.

“Tantangan terbesar yang dihadapi, yaitu santri tradisional kurang mampu bergaul dengan kalangan menengah atas. Karena mereka menganggap bahwa wawasan berpikir masih lemah, akhirnya kurang memiliki keberanian dalam bersikap dengan kalangan tersebut,” kata Wakil Gubernur Jawa Barat itu.

Era pandemi

Dalam konteks yang sama, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) M Ali Yusuf mengatakan para santri di Tanah Air harus dapat menyesuaikan perannya di setiap keadaan.

Saat negeri ini mengalami pandemi covid-19, Ali berharap, dalam momentum peringatan Hari Santri 2020, para santri menjadikan momentum tersebut menumbuhkan dan memperkuat budaya sadar risiko bencana.

“Di situasi pandemi covid-19 saat ini, betapa banyak orang atau pihak yang belum sadar risiko yang akan dihadapi jika tidak melaksanakan protokol kesehatan,” ujar kata Ali Yusuf melalui keterangan tertulis, Sabtu (24/10).

Senada, founder Santri Mengglobal, Dito Alif Pratama, menyatakan santri dan pesantren harus belajar banyak di tengah kondisi pandemi. “Ini momentum untuk berbenah di banyak aspek, sekaligus menjadi ikhtiar untuk mewujudkan santri dan pesantren yang lebih sehat sekaligus juga untuk mengikis stigma pesantren dan santri itu jorok dan kumuh.”

Sementara itu, Kalis Mardiasih, penulis, influencer, dan aktivis muda NU, melihat santri-santri dan pesantren di era pandemi banyak yang ikut kampanye soal pentingnya protokol kesehatan. “Misalnya, Gus Mus itu kan selalu berkampanye pakai masker dan menjaga jarak. Banyak pula tokoh santri lain yang melakukan hal yang sama,” pungkas Kalis. (Ata/Wan/ Bus/Ant/X-6)

BERITA TERKAIT