24 October 2020, 14:20 WIB

HIPMI Apresiasi BKPM Soal Capaian Realisasi Investasi Kuartal III


M Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

WAKIL Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Eka Sastra mengapresiasi kinerja pemerintah dalam hal ini Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia. Pasalnya, BKPM mampu melampaui realisasi investasi.

"HIPMI mengapresiasi kinerja pemerintah. Walaupun situasi pandemi covid-19, investasi tumbuh positif," ujar Eka dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (24/10).

Baca juga: Dampak Pandemi terhadap Investasi Global

Selain investasi tumbuh, lanjut Eka, Penanaman Modal Asing (PMA) semakin meningkat. Luar Jawa semakin meningkat investasinya.

"Artinya, ada penyebaran investasi. Penyerapan tenaga kerja bagus dan target akan tercapai di tahun 2020 ini," ucapnya.

Sebelum diberitakan bahwa BKPM mencatat realisasi investasi sepanjang kuartal III-2020 mencapai Rp209 triliun, atau naik sebanyak 8,9% secara Quarter over Quarter (QoQ).

Realisasi investasi tersebut secara Year on Year (yoy) bertumbuh 1,6% jika dibandingkan periode yang sama pada triwulan III 2019 dengan angka investasi sebesar Rp205,7 triliun.

Realisasi investasi pada triwulan III 2020 lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat Rp191,9 triliun. Di kuartal III ini, investasi Indonesia sebesar Rp209 triliun atau 74,8% dari total target investasi 2020 Rp817,2 triliun.

BKPM juga mencatat lima sektor utama realisasi investasi pada triwulan III 2020 yakni sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebanyak Rp32,1 triliun. Lalu, sektor industri logam dasar, barang logam dan bukan mesin dan peralatannya sebanyak Rp24,6 triliun.

Kemudian, sektor listrik, gas dan air sebanyak Rp24,4 triliun, sektor konstruksi sebanyak Rp23,2 triliun, serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran sebanyak Rp21,3 triliun.

Adapun berdasarkan sebarannya, realisasi investasi tertinggi di Jawa Barat sebesar Rp28,4 triliun, DKI Jakarta sebesar Rp22,3 triliun, Banten sebesar Rp21,5 triliun, Jawa Timur sebesar Rp15,5 triliun dan Riau sebesar Rp13,0 triliun.

Sementara lima negara asal investor utama sepanjang triwulan III yakni Singapura mencapai US$2,5 miliar, Tiongkok US$1,1 miliar, Jepang US$0,9 miliar, Hong Kong US$0,7 miliar dan Belanda US$0,5 miliar.

Eka menambahkan, BKPM berkomitmen untuk investor yang hendak menanamkan dananya di Indonesia dengan jumlah yang besar kini wajib menggandeng UMKM. Syarat ini diberikan demi memajukan sektor UMKM di Indonesia dan komitmen BKPM ini disambut baik oleh HIPMI.

"Saya percaya rencana BKPM mendorong investasi masuk ke Indonesia. Sehingga, bisa menciptakan lapangan pekerjaan bisa optimal," ungkapnya.

Menurutnya, UMKM harus tetap hidup di tengah pandemi. Pasalnya, sektor itu yang akan mendorong perekonomian domestik usai dihantam covid-19.

"Selain itu, HIPMI juga tidak mau pelaku usaha di daerah tidak bertambah. Dengan pola kolaborasi antara investor besar dan UMKM, maka akan tumbuh wirausaha baru di tiap daerah," tuturnya.

Ia menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia minimal berada di rentang 3,5 - 4% jika pemerintah bisa mengelola UMKM berkembang dengan baik. Artinya, kunci ekonomi domestik terletak pada UMKM.

"Kalau pemerintah fokus mengelola UMKM dengan baik, itu sama dengan pertumbuhan ekonomi minimal 3,5 persen-4 persen Insya Allah sudah dapat. Jika industri UMKM kuat, maka otomatis ekonomi domestik akan sejahtera. Pasalnya, kontribusi UMKM terhadap ekonomi nasional mencapai 60 persen. Selain itu, UMKM juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru di Indonesia," pungkasnya. (Iam/A-1)

BERITA TERKAIT