24 October 2020, 17:05 WIB

Belajar Bahagia dari Raffles


Riduan Situmorang, Guru SMAN 1 Doloksanggul, Aktif Berkesenian di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Medan dan Toba Writers Forum (TWF) | Opini

JOHN Leyden, penyair asal Skotlandia, adalah infantri Inggris Raya pertama yang menginjakkan kakinya di Jawa. Menyusul kemudian Rollo Gillespie, seorang kolonel dari Irlandia. Mereka searmada dengan seorang yang kemudian menjadi legenda di negara ini; Thomas Stamford Raffles. Raffles adalah sosok yang membuat kita 'menyesal' di kemudian hari. Penyesalan itu adalah; mengapa Belanda yang menjajah kita beratus-ratus tahun dan bukannya Inggris? Andai saja Inggris yang menjajah, kemungkinan besar kita akan maju, setidaknya seperti Malaysia dan Singapura, begitulah kita berkilah.

Mengapa Indonesia 'maju' dalam jajahan Raffles? Jawaban normatifnya adalah visi dan misi. Tetapi, satu hal yang jauh lebih penting dari visi dan misi itu adalah mesin penggerak untuk mencapai visi-misi tersebut. Mesin itu adalah hati dan otak. Jadi, melihat mengapa Raffles 'berhasil' menjajah Indonesia berarti juga kita harus melihat situasi hati dan otak Raffles. Apakah bernafsu, berambisi kuat, tertekan oleh atasan atau tidak?

Ini perlu diketahui karena jika otak kita penuh ambisi, apalagi nafsu, gerakan kita akan cenderung didominasi naluri kebinatangan. Apabila tertekan, seperti kata Daniel Coleman, kemampuan berpikir rasional kita pun akan memudar. Bagaimana perasaan Raffles? Dalam catatan hariannya (Tim Hannigan, Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa hal.14, 2015), setibanya di Jawa, Raffles menuliskan, “Salah satu masa ketika aku merasakan kebahagiaan setinggit-tingginya yang bisa dirasakan manusia, salah satu momen yang menginspirasi hidup.”

Bukan cemas karena bersama

Terang sudah, bahwa Raffles sangat mencintai Jawa, bahkan menjadikannya sebagai inspirasi hidupnya. Raffles begitu menikmati Jawa dan menjadi ladangnya untuk berkarya meski pada masa itu, Jawa sangat kejam; kemampuan bertahan hidup di sana sangat angker, di bawah 50%. Namun, Raffles menikmatinya hingga kemudian hutan, desa, jalan-jalan, sungai menjadi tempatnya bersekolah. Alam menjadi laboratoriumnya. Jadi, adalah tak mengherankan jika pada akhirnya, Raffles pun dikenal sebagai penemu ulung.

Saya pikir, dari sepenggal kisah Raffles di atas, kita dapat membuat sebuah simpulan bahwa bahagia adalah kunci. Jika mengerjakan sesuatu dengan bahagia, hasilnya juga akan membahagiakan. Kerjakanlah sesuatu yang rumit tanpa mengeluh karena bahagia telah menanti di ujung jalan. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitulah nasihat leluhur kita. Nasihat ini mengandung arti bahwa kebahagiaan itu tidak terletak pada derita apa yang kini melekat pada kita, namun lebih pada mimpi apa yang akan kita raih.

Itulah kiranya mengapa pejuang negara ini— meski berpeluh darah melawan bangsa kolonial yang menggunakan meriam, bom, dan pesawat tempur— tetap berani maju hanya berbekal pentungan dan bambu runcing. Mimpinya adalah bahagia; lepas dari Belanda lalu bisa mengolah tanah sendiri dengan sanak saudara. Sebab, kebahagiaan ialah kunci bersama. Sonja Lyubormirsky, profesor psikologi di University of California dalam Myth of Happines sudah menyimpulkan hal itu. Lyubormirsky menyebut bahwa bahagia tidak berhubungan dengan kekayaan materi, tetapi pada hubungan antara sesama Itulah mimpi bersama.

Dengan kata lain, yang membebaskan negeri ini dari penjajahan adalah kebersamaan. Maka, jika kini hal itu mulai tergerus, kita harus khawatir; apakah kelak anak cucu kita akan saling terkam sehingga penjajah datang lagi, lalu kita bercerai? Semoga tidak. Namun, menyemogakan saja tak akan mengubah dunia ini. Perlu langkah-langkah teknis dan terukur. Maksud saya, kita harus segera membiakkan rasa persaudaraan kepada anak cucu kita sejak dari sekarang. Anak cucu merupakan masa depan negeri ini.

Di manakah anak cucu itu? Mereka berserak di mana-mana. Titik kumpulnya tak teratur, bahkan makin terpisah di masa pandemi. Jika dulu kita masih bisa berkumpul dengan permain tradisional, kini anak cucu kita sudah bermain dengan cara-cara sendiri. Mereka sudah terasingkan dari sesamanya. Dunia permainan melalui gim membuat mereka tak saling mengenal. Satu-satunya titik kumpul mereka kini adalah sekolah (maya). Karena itu, sekolah sejatinya merupakan tempat strategis untuk mengajari mereka tentang pentingnya bahagia dengan sesama, bukan cemas karena bersama. 

Namun, bagaimana keadaan sekolah kita sekarang? Apakah sekolah kita masih kental dengan kesukacitaan bersama? Ini perlu ditanyakan karena, lagi-lagi, kebersamaan adalah kebahagiaan. Kebersamaan adalah kuncinya. Dalam hal ini, Norwegia bisa menjadi rujukan. Negara paling bahagia keempat menurut PBB ini mengandalkan kebersamaannya. John Helliwell dari British Columbia University menyebutkan bahwa di Norwegia, jika Anda mengecat rumah, tetangga akan datang membantu. Mereka bisa membayar tukang cat, tetapi mereka lebih suka melakukannya bergotong royong.

Bilakah?

Sesungguhnya, apa yang dilakukan Norwegia telah dilakukan oleh leluhur kita. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, begitu kita dinasihati. Namun, kebersamaan seperti ini sudah mulai hilang. Sudah ada gejala kebencian di antara kita. Sangat bisa dibayangkan, jika lingkungan (sesama) sudah dianggap sebagai musuh, bagaimana bangsa ini akan maju? Bagaimana siswa akan belajar dengan suka cita jika teman sebangkunya dianggap musuh? Alih-alih fokus belajar, siswa malah akan fokus membenci, lalu mengusir teman sebangku.

Jika ini terjadi, skema buruk akan timbul; sekolah bukan lagi tempat untuk membiakkan pengetahuan, apalagi persaudaraan. Sekolah akan menjadi ladang kebencian, bahkan kebodohan. Pada saat itu, bersekolah bukan lagi bersukacita. Padahal, bersekolah semestinya bersukacita. Bersekolah semestinya menjadi pembelajaran hidup bagaimana bahagia bersama, bukan benci karena bersama. Bersekolah harusnya seperti Raffles; meski menghadapi alam Jawa yang kejam, tetapi ia menyambutnya sebagai teman akrab. Andai saja sekolah kita penuh keintiman, peserta didik akan belajar dengan suka cita.

Alam yang 'kejam' akan menjadi laboratorium lalu lahirlah penemuan-penemuan hebat dari Indonesia. Siswa Indonesia akan menjadi penemu seperti Raffles. Siswa bahagia dengan penemuannya, dan kita pun merayakannya dengan sukacita. Sayang, di era pandemi ini, kita seperti jauh dari kebahagiaan. Guru terdesak membuat dan mencetak banyak laporan. Orang tua gerah karena merasa terbebani untuk menjadi 'guru' di rumah. Siswa tertekan karena banyak tugas dari sekolah, sementara pada saat yang sama, interaksi guru dengan siswa, juga siswa dengan siswa lainnya tak memadai. Bersekolah dengan bahagia menjadi antonim. 
 

BERITA TERKAIT