24 October 2020, 10:35 WIB

10 Buku Terbaik tentang Himalaya yang Wajib Dibaca


Indrastuti | Hiburan

Himalaya adalah gunung tertinggi di Bumi yang terletak di perbatasan India dan Tibet. Sosoknya menjadi magnet bagi para petualang, misionaris dan para pencari ketenangan spiritual.

Namun Himalaya bukan semata hutan belantara yang tak terjamah. Himalaya menjadi tempat tinggal masyarakat yang sangat beragam dengan tradisi sastra yang telah berlangsung lama. Tak heran, banyak buku mengenai Himalaya ditulis, dengan berbagai pendekatan. 

Penulis seperti Manjushree Thapa dan Prajwal Parajuly, yang memenangkan penghargaan Dylan Thomas untuk koleksi cerita pendek The Gurkha’s Daughter, mempunya penggemar dari Eropa dan Amerika Utara.

Baca juga: Ben Affleck Teken Sejumlah Film Batman dan Seri HBO Max

Beberapa karya penting mengenai Himalaya sedang diterjemahkan dan dikupas ulang, salah satunya karya penulis Darjeeling Indra Bahadur Rai. Sejarawan juga mulai membongkar mitos-mitos eksotik mengenai Himalaya.

Dilansir dari The Guardian, berikut 10 buku terbaik mengenai Himalaya: 

  1. The High Road karya Kate Teltscher. 

    Sejarah kunjungan pertama ke Tibet oleh warga Inggris ini mendapat pujian ketika pertama kali diterbitkan pada tahun 2006. Dikisahkan, George Bogle,seorang Skotlandia yang bekerja untuk Gubernur Jenderal India, Warren Hastings, berjalan kaki melintasi Himalaya untuk bertemu dengan Panchen Lama, orang terpenting kedua setelah Dalai Lama

    Bogle ramah dan membumi, menyukai Himalaya dan mencintai orang-orangnya, kontras dengan rasisme dari warga Inggris tentang Tibet. Teltscher dengan baik menceritakan kisah dan perang batin Bogle.

  2. There's a Carnival Today oleh Indra Bahadur Rai 

    Hingga abad ke-19, kota Darjeeling yang sekarang ramai masih berupa hutan. Ketika Inggris tiba di Himalaya, dimulailah penebangan pohon dan pembukaan kebun teh. Perkebunan tersebut membutuhkan pekerja, sehingga banyak orang dari seluruh Himalaya pindah, terutama orang Nepal. 

    Karya ini diterjemahkan dengan cemerlang oleh Manjushree Thapa. Berlatar tahun 1950-an, buku ini menceritakan kisah Janak, seorang pengusaha dan politisi terkemuka yang menghadapi kehancuran, dengan konflik identitas di antara masyarakat.

  3. Coronation Everest oleh Jan Morris 

    Buku ini terbitaan pada tahun 1950-an, masa penuh gejolak di Himalaya saat India merdeka dan Tibet memulai perjuangannya melawan pendudukan China. Kisah ini dibingkai dengan pendakian pertama Everest.

    Dikisahkan, James Morris a melakukan perjalanan ke Nepal sebagai reporter untuk Times, surat kabar resmi ekspedisi, membuat pengamatan yang cermat terhadap para pendaki.
     

  4. The Wayward Daughter oleh Shradha Ghale 

    Status wanita di Nepal kerap menjadi masalah. Kekerasan dalam rumah tangga marak terjadi sementara perawatan kesehatan dan pendidikan perempuan kurang memadai. Bahkan konstitusi pun diskriminatif. 

    Wartawan terkemuka Shradha Ghale tahu ini lebih baik dari siapa pun. Ia membuat novel dengan tokoh utama bernama Sumnima. Sumnima dan para wanita di sekitarnya adalah karakter yang bulat dan berkesan yang memahami perubahan pada masyarakat tradisional.

  5.  A Rage for Rock Gardening karya Nichola Shulman                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Buku ini berkisah tentang perjalanan Reginald Farrer, yang menjelajahi Hilamaya Timur. Meski ingin dikenal sebagai penulis yang serius, Farrer menjadi penulis mengenai cara berkebun yang ternama dan berakhir dengan mati muda di hutan kawasan Burma.                                                                                                                                                                                                 
  6. Kathmandu oleh Thomas Bell

    Tom Bell pergi ke Kathmandu sebagai koresponden muda asing yang bersemangat, bekerja untuk Daily Telegraph melaporkan perang saudara Nepal yang dimulai pada tahun 1996. Kemudian dia jatuh cinta dengan kota tersebut dan menikah dengan warga setempat.

    Bell menggambarkan Kathmandu dengan baik. Menurutnya, Kathmandu adalah tempat perburuan sastra yang kaya seperti Istanbul.

  7. Thamel oleh Rabi Thapa

    Sebagian besar turis yang mengunjungi Kathmandu menghabiskan waktu dalam hiruk pikuk Thamel, yang dulunya merupakan desa sepi di pinggiran. Sekarang, Thamel dikisahkan penulis dan editor Rabi Thapa sebagai bagian kota paling gelap, di mana 'semua dewasa dan menuntut sepasang Levi's'. 

    Thapa menceritakan kawasan ini dari sudut pandang penduduk setempat, tentang bagaimana dia  menjadi peminum di bar Thamel yang kumuh. 

  8. The King’s Harvest oleh Chetan Raj Shrestha

    Sebelum dikuasai India, Sikkim adalah kerajaan Himalaya kecil yang cukup berkuasa di antara Nepal dan Bhutan. Shrestha lahir di kota Gangtok Sikkim. 

    Novel ini berkisah tentang petani yang telah lama tidak berhubungan dengan dunia luar. Ketika ia hendak memberikan panen bagi raja Sikkim, ia terheran-heran dengan keadaaan dunia luar yang jauh dari bayangannya.
     

  9.  The Waiting Land oleh Dervla Murphy

    The Waiting Land menangkap sesuatu dari arus dan kehilangan peluang Nepal tahun 1960-an. Kisah perempuan yang hanya naik sepedanya dan mengayuh ke mana pun yang dia suka. 

    Tulisan Murphy memadukan ketangguhan dan peka menghadapi masalah dunia. Buku Murphy terlihat menonjol di antara karya penulis Barat lain yang berkisah tentang pembukaan Himalaya.  
     

  10. Tibet on Fire oleh Tsering Woeser

    Buku Barbara Demick tentang bakar diri di Tibet, Eat the Buddha, menarik perhatian, tapi buku ini sangat layak untuk dibaca. Tsering Woeser adalah penyair dan blogger Tibet yang lahir di Lhasa. 

    Ia keturunan Han yang menjadi salah satu kritikus China yang paling berani dan berwawasan luas di Tibet. Tibet on Fire adalah garis besar alasan mengapa begitu banyak orang Tibet membakar diri mereka sendiri. (TheGuardian/H-3)

 

 

 

 

BERITA TERKAIT