24 October 2020, 10:13 WIB

Mengenal Dokumen Abu Dhabi dalam Pertemuan JK-Paus Fransiskus


Thomas Harming Suwarta | Internasional

WAKIL Presiden RI ke-10 dan 12 Muhammad Jusuf Kalla (JK) bertemu Paus Fransiskus di Istana Kepausan Vatikan, Jumat (23/10) pagi Waktu Roma Italia. JK bertemu Paus Fransiskus atas undangan Komisi Tinggi Dokumen Abu Dhabi “Persaudaraan Insani“ (Human Fraternity) yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Azhar Dr. Ahmad al-Tayyib di Abu Dhabi tanggal 4 Februari 2019.

JK merupakan salah satu dari 5 dewan juri Zayed Award for Human Fraternity yang insipirasinya berasal dari Dokumen Abu Dhabi. Bersama JK sebagai dewan juri adalah mantan Presiden Republik Afrika Tengah Catherine Samba Panza, mantan Penasihat Khusus PBB untuk Pencegahan Genosida dan mantan anggota dewan Institut Internasional untuk Demokrasi dan Bantuan Pemilihan dan mantan pencatat Pengadilan Kriminal Internasional untuk Rwanda Adama Dieng, Prefek Signatura Apostolik dalam Kuria Roma, Gubernur Jenderal Kanada ke-27 Cardinal Dominique Mamberti dan Sekretaris Jenderal Komisi Tinggi Dokumen Abu Dhabi “Persaudaraan Insani” Mohamed Mahmoud Abdulsalam. 

Dokumen Abu Dhabi merupakan bagian tak terpisahkan dari kunjungan bersejarah Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab pada 3-5 Februari 2019. Dokumen setebal 26 halaman tersebut (vesi terjemahan bahasa Indonesia) berjudul ‘Dokumen Tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Beragama.

Pada bagian awal dokumen tersebut ditegaskan bahwa kunjungan Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab menjadi tonggak sejarah dalam dialog antaragama dan membuka pintu-pintu untuk pembicaraan tentang toleransi yang perlu didengar oleh seluruh dunia. Paus menegaskan, “iman kepada Allah mempersatukan dan tidak memecah belah. Iman itu mendekatkan kita, kendatipun ada berbagai macam perbedaan, dan menjauhkan kita dari permusuhan dan kebencian.“

Tepat pada tanggal 4 Februari 2019 di Abu Dhabi, Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed el-Tayeb menandatangani “The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together.” Dokumen Abu Dhabi ini disebutkan menjadi peta jalan yang sungguh berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama dan berisi beberapa pedoman yang harus disebarluaskan ke seluruh dunia.

Baca juga: Bertemu Paus Fransiskus, JK Bahas Perdamaian dan Kemanusiaan

Pada bagian isi dokumen tersebut disampaikan bahwa Al-Azhar al-Sharif dan umat Muslim dari Timur dan Barat bersama-sama dengan Gereja Katolik dan umat Katolik Timur dan Barat menyatakan menerima budaya dialog sebagai jalan kerja sama timbal balik sebagai kode etik, saling pengertian sebagai metode dan kriteria.

“Kami, yang percaya pada Allah dan pada perjumpaan akhir dengan-Nya dan penghakiman-Nya, berdasarkan tanggung jawab agama dan moral kami, dan melalui Dokumen ini, menyerukan kepada diri kami sendiri, kepada para pemimpin dunia serta para pembuat kebijakan internasional dan ekonomi dunia untuk bekerja keras menyebarkan budaya toleransi dan hidup bersama dalam damai; untuk ikut campur tangan selekas mungkin untuk menghentikan pertumpahan darah dari orang-orang yang tidak bersalah serta mengakhiri peperangan, konflik, kerusakan lingkungan dan kemerosotan moral dan budaya yang dialami dunia saat ini. Kami menyerukan kepada kaum terpelajar, para filsuf, tokoh agama, seniman, praktisi media dan para budayawan di setiap bagian dunia, untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, persaudaraan manusia dan hidup berdampingan dalam rangka meneguhkan nilainilai ini sebagai jangkar keselamatan bagi semua, dan untuk memajukannya di mana-mana,” tulis dokumen tersebut.

Dokumen ini juga mengingatkan sejarah menunjukkan ekstremisme agama, ekstremisme nasional dan juga intoleransi telah muncul di dunia, baik itu di Timur atau Barat, apa yang mungkin disebut sebagai tanda-tanda "perang dunia ketiga yang sedang berlangsung sedikit demi sedikit" dan bahwa krisis politik besar, situasi ketidakadilan, dan kurangnya distribusi sumber daya alam yang adil - yang hanya menguntungkan segelintir minoritas kaya, hingga merugikan mayoritas penduduk bumi - telah melahirkan, dan terus melahirkan, banyak sekali jumlah orang miskin, sakit dan meninggal.

“Kami juga dengan tegas menyatakan bahwa agama tidak boleh memprovokasi peperangan, sikap kebencian, permusuhan, dan ekstremisme, juga tidak boleh memancing kekerasan atau penumpahan darah. Kami menyerukan kepada semua pihak untuk berhenti menggunakan agama untuk menghasut (orang) kepada kebencian, kekerasan, ekstremisme dan fanatisme buta, dan untuk menahan diri dari menggunakan nama Allah untuk mem-benarkan tindakan pembunuhan, peng-asingan, terorisme, dan penindasan,” tulis dokumen itu.

Pada bagian akhir dokumen, Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Azhar Ahmad al-Tayyib mengajak agar deklarasi ini menjadi undangan untuk rekonsiliasi dan persaudaraan di antara semua umat beriman, juga di antara umat beriman dan yang tidak beriman, dan di antara semua orang yang berkehendak baik. Termasuk menjadi seruan untuk menolak kekerasan dan ekstremisme buta; seruan bagi mereka yang menghargai nilai-nilai toleransi dan persaudaraan.

“Dan akhirnya deklarasi ini dapat menjadi saksi keagungan iman kepada Allah yang mempersatukan hati yang terpecah dan mengangkat jiwa manusia; Deklarasi ini dapat menjadi tanda kedekatan antara Timur dan Barat, antara Utara dan Selatan, dan antara semua yang percaya bahwa Allah telah menciptakan kita untuk saling memahami, saling bekerja sama dan hidup sebagai saudara dan saudari yang saling mengasihi. Inilah yang kami harapkan dan ingin capai dengan tujuan menemukan perdamaian universal yang dapat dinikmati semua orang dalam hidup ini,” tutup dokumen tersebut dengan diakhiri tanda tangan Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Azhar, Dr. Ahmad al-Tayyib.(OL-5)

BERITA TERKAIT