24 October 2020, 05:00 WIB

Manfaat Mikrob dalam Produk Probiotik


(Atikah IshmahWinahyu/H-2) | Humaniora

INDONESIA memiliki kekayaan alam yang sangat beragam, termasuk di dalamnya ialah mikroorganisme atau mikrob. Peneliti Bidang Mikrobiologi BPTBA
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ema Damayanti menuturkan ruang lingkup mikrob sangat luas meliputi bacteria, archaea, protozoa, algae, fungi,
virus, dan multicellular animal parasites (helminths).

Organisme hidup berukuran sangat kecil ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan alat. Perannya pada kehidupan manusia sangat penting, mulai
menghasilkan produk pangan, produk pertanian organik, energi biofuel, hingga bermanfaat bagi lingkungan. Akan tetapi, imbuh Ema, mikrob juga dapat
menimbulkan penyakit bagi manusia. “Jadi, ada dua sisi mata uang,” ujar Ema dalam diskusi daring, Jumat (16/10).

Mikrob, kata Erna, membantu proses pengolahan pangan, mempercepat pembusukan. Di sisi lain, ia mampu mengubah pangan menjadi cepat basi dan dapat menyebabkan sakit foodborne illness.

Peneliti Bidang Tenologi Pangan BPTBA LIPI Rifa Nurhayati menyebutkan beberapa mikrob yang bermanfaat pada produk pangan adalah bakteri, khamir,
dan jamur. “Aplikasinya digunakan pada proses pengolahan pangan misal pada produk tempe, tape, kecap, dan oncom,” imbuhnya.

Selain itu, mikrob juga digunakan pada proses pengolahan minuman, seperti yogurt, kefi r, serta suplemen probiotik. Jika dikonsumsi dalam jumlah yang
memadai, probiotik dapat memberikan dampak kesehatan pada saluran cerna dan memproduksi chain fatty acid serta menekan pertumbuhan patogen.

“Jika populasi (mikrob) pada posisi seimbang yang di sana bakteri baiknya lebih banyak jika dibandingkan dengan patogen sehingga akan memberikan efek
menguntungkan bagi orang dan orang itu menjadi sehat,” ungkapnya.

Sebaliknya, sambung Rifa, saluran pencernaan akan mengalami kondisi dysbosis ketika rasio bakteri dan mikroba baik ataupun buruk di dalam perut tidak seimbang.

Pada anak, dysbiosis akan menurunkan kekebalan tubuh anak terhadap masuknya kuman-kuman penyakit, misalnya yang menyebabkan ISPA dan diare.
Seperti diketahui, saluran cerna adalah organ kekebalan tubuh terbesar yang meliputi 80% sistem kekebalan tubuh.

“Karena itu, kita perlu menjaga keseimbangan mikrob di saluran cerna dengan salah satunya mengonsumsi probiotik sehingga bisa menekan pertumbuhan
patogen,” jelasnya.

Selain mampu memproteksi tubuh dari patogen, probiotik juga mampu meningkatkan imun tubuh dengan menginduksi pembentukan IgA dan memproduksi metabolik spesifi k seperti SCFA, vitamin, hingga peptide bioaktif.

Dengan alasan itu pula, Rifa mengembangkan tiga produk berbasis probiotik yang mampu menghasilkan glucosidase inhibitors (AGIs), yakni snack bar dan
pudding yang terbuat dari umbi serta probiotik, serta produk cokelat.

Dari uji in-vivo pada hewan coba, didapatkan hasil bahwa ketiga produk ini dapat menurunkan glukosa darah pada tikus diabet. “Ketiga produk yang dibuat kaya akan serat pangan karena kandungannya ternyata di atas 6% semua. Indeks glikemiknya juga di bawah 55,” pungkasnya. (Atikah IshmahWinahyu/H-2)

BERITA TERKAIT