24 October 2020, 04:45 WIB

Gerakan Pungut Sampah Mendongkrak Ekonomi Masyarakat


Gan/S1-25 | Ekonomi

GERAKAN memungut sampah sepanjang 50 km di bibir pantai di Bali memberi efek pada ekonomi masyarakat. Upaya mengatasi permasalahan sampah melalui daur ulang tersebut menghasilkan produk ekspor dengan harga premium.

Aktivis daur ulang Prevented Ocean Plastic, Alvaro Aguilar menilai gerakan memungut sampah yang dilakukan di Pulau Dewata itu merupakan aksi hebat yang dilakukan mitra pemulung.

Prevented Ocean Plastic terus mengkampanyekan produk-produk daur ulang ke mancanegara.

Alvaro menjelaskan, bahan baku yang berkualitas sangat penting untuk mendukung usaha daur ulang plastik. Apalagi, dengan adanya sertifikasi yang dilakukan Prevented Ocean Plastic akan menaikan nilai ekonomis dari plastik daur ulang. “Tentunya ini penting, konsumen percaya pada bahan yang telah tersertifikasi. Sehingga menjadikan produk tersebut memiliki nilai ekonomis tinggi,” jelas Alvaro pada acara The Nations yang disiarkan Metro TV.

Hasil daur ulang sampah memiliki QR Code yang bisa membuktikan asal sampah.

Dampak dari sertifikasi pun dirasakan oleh 500 mitra pemulung yang telah bekerja sama. “Tentu memberikan dampak baik pada mereka. Terutama dalam hal memperoleh harga yang tinggi. Pendapatan stabil buat keluarga. Selain itu dalam hal pengolahan sampah ini pun kami berusaha menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan,” jelas dia.

Alvaro mengatakan, dalam industri pengolahan sampah plastik, pihaknya fokus dalam mengolah plastik jenis PET, seperti botol dan galon air
mineral sekali pakai. Sebab, sampah plastik jenis inilah yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Namun, pihaknya tetap menawarkan sampah
jenis lain untuk didaur ulang.

Untuk mendaur ulang sampah plastik jenis lain, ia mengaku butuh dukungan banyak pihak karena tingkat kesulitan dan biaya pengolahan yang tidak sedikit.

Alvaro juga mengaku pihaknya hanya mengolah sampah yang belum masuk ke laut. “Masalahnya adalah plastik yang terlanjur masuk
ke laut sudah terdegradasi kualitasnya. Sekali plastik menyentuh laut sudah sangat terlambat. Susah diatur ulang. Kualitas pun akan
memburuk dan menjadi sulit dipilah,” jelas dia.

Namun, untuk hasil sampah plastik yang dikumpulkan dari laut tetap dikirimkan kepada pabrik mitra. Biasanya pabrik pembuat pavingblock ‘Polindo’ di Tangerang.

Prevented Ocean Plastic mampu mengolah 1.000 ton plastik daur ulang setiap bulan. Tiap tahunnya, sebanyak 10.000 permintaan ekspor produk daur ulang berdatangan dari luar negeri, seperti Amerika dan Eropa.

Seorang tokoh Bali muda, Made Robi mengatakan, tata kelola sistem pengolahan sampah plastik di Bali meningkat dalam tiga tahun terakhir. Namun, hal itu tidak bisa diterapkan secara berkelanjutan bila tidak dimulai dari keluarga, atau rumah tangga. “Karena rumah tangga kan unsur terkecil di negara ini, jadi memang harus dimulai dari pemilahan sampah rumah tangga dulu,” ungkap Robi.

Menurut Robi, seharusnya masyarakat berpegang teguh pada prinsip 3R, reduce, reuse dan recycle dalam mengatasi masalah sampah. “Untuk itu, harus beriringan 3 hal tersebut,” kata dia.

Robi mengaku dirinya bukan antiplastik. “Karena plastik merupakan barang ekonomis yang menyelamatkan pembabatan hutan dan lainnya. Dengan plastik ada solusinya,” jelas dia.

Dia berharap dalam penggunaan plastik masyarakat lebih peduli terhadap sampah plastik dengan menggunakan konsep circular ekonomy.

Di sisi lain, Kadis Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Teja mengaku tengah mendorong berbagai pihak untuk mengurangi pemakaian sampah plastik. Terutama di pasar tradisional.

Ia pun mengimbau agar masyarakat pintar memilah dan memanfaatkan sampah plastik. Dengan dua hal tersebut pemerintah, masyarakat dan pihak lain pun bisa berkolaborasi dalam mengolah sampah plastik. (Gan/S1-25)

BERITA TERKAIT