24 October 2020, 02:51 WIB

Optimalkan Momentum Relokasi Industri


M Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum

PENGARUH pandemi covid-19 terhadap investasi diyakini sangat besar. Meskipun realisasi investasi pada kuartal III tahun ini mencapai Rp209 triliun, jika dibandingkan dengan kuartal III tahun lalu, pertumbuhannya hanya mencapai 1,8%.

Apalagi jika hal itu dibandingkan secara year on year (yoy) 2018-2019 yang mencapai 18% dan jika dilihat dari rata-rata pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sekitar 5%.

Memitigasi iklim tersebut, ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal berpendapat pemerintah harus memanfaatkan apa pun peluang yang muncul. Salah satunya relokasi industri dan fenomena yang disebut sebagai China factor.

“Pemerintah seharusnya mampu memasukkan portofolio terkait masa depan investasi di Indonesia kepada industri dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Industri RRT cukup menjanjikan. Karena kondisinya masih cukup optimal maka industri RRT memilih Asia Tenggara. Selain itu, Eropa dan Amerika Serikat juga sedang mengincar pasar ASEAN. Artinya investasi bisa masuk ke ASEAN,” cetus Fithra saat dihubungi, kemarin.

Dalam konteks itu, Fithra mendorong pemerintah mencermati apa yang dilakukan Vietnam, yang dinilai optimal dalam memanfaatkan momentum relokasi industri. Menurut Fithra, realisasi investasi Vietnam pada Januari-September terkait relokasi meningkat sebesar 80% jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2019.

“Pemerintah sudah menangkap peluang itu, tetapi tidak maksimal karena penanganan covid-19 harus dijadikan perhatian. Karena investor di jangka pendek ini salah satu perhatian terbesarnya ialah negara yang melandaikan kurva penyebaran covid-19. Nah, Vietnam ini sudah mampu melandaikan kurva tersebut,” tegas dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi investasi kuartal I-III 2020 pada Januari-September berhasil menyerap 861.581 tenaga kerja dari proyeksi investasi sebanyak 102.276 tenaga kerja.

“Bagus nih, berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 861.581 orang. Ini jelas sekali,” ucap Kepala BKPM saat konferensi pers secara
virtual, kemarin.

Adapun realisasi investasi pada Januari-September mencapai Rp611,6 triliun, atau naik 1,7% (yoy), dengan realisasi di kuartal III mencapai Rp209 triliun.

Luar Jawa

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BKPM menyatakan pembangunan infrastruktur pada era kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla sudah mulai terasa dampaknya pada periode Joko Widodo-Kiai Ma’ruf Amin. Pembangunan infrastruktur tersebut mengundang banyak investor yang datang. Salah satu yang menonjol ialah di luar Pulau Jawa.

Realisasi investasi pada kuartal III 2020 di luar Pulau Jawa, menurut Bahlil, lebih besar daripada capaian investasi di Pulau Jawa. Dalam periode tersebut, realisasi investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp110,4 triliun atau sebesar 52,8%, naik 17,9% (yoy).

Di Pulau Jawa sendiri tercatat sebesar Rp98,6 triliun atau 47,2%, turun 12% (yoy). Adapun realisasi investasi di triwulan III 2020 mencapai Rp209 triliun.

“Sekali lagi saya katakan bahwa para investor dari dalam dan luar negeri tidak lagi fokus di Pulau Jawa dan sudah banyak di luar Pulau Jawa,” kata Bahlil. “Karena syarat investor masuk ialah infrastrukturnya bagus, logistiknya bagus, bahan bakunya ada. Saya lihat bagus sekali ekspansi investor di luar Pulau Jawa,” ungkapnya. (X-6)

BERITA TERKAIT