24 October 2020, 04:05 WIB

Di Makassar, Mahasiswa Disusupi Aliansi Makar


LN/OL/N-3 | Nusantara

UNJUK rasa anarkistis di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (22/10) petang, membuat Partai NasDem merugi besar. Kaca-kaca Kantor NasDem pecah dan sebuah ambulans dibakar massa.

Kemarin, Polrestabes Makassar sudah menangkap 21 orang yang diduga sebagai pelakunya. "Mereka terdiri dari mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum," kata juru bicara Polrestabes Komisaris Supriadi Idrus.

Peristiwa itu, menurut Kapolda Inspektur Jenderal Merdisyam, terjadi karena aksi itu telah disusupi. "Awalnya mahasiswa dan buruh menggelar unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja, tapi setelah magrib ada penyusup dengan tujuan makar. Mereka merusak dan membakar."

Polisi mendapat kesimpulan itu setelah memeriksa sejumlah CCTV. Massa yang disebut kapolda sebagai aliansi makar itu, mendapat perlawanan dari warga.

Polisi berusaha meminta mereka membubarkan diri dengan cara persuasif dan mendorong massa. "Aliansi makar ini menyusup ke barisan mahasiswa. Mereka melakukan provokasi dan akhirnya anarkistis," tandas kapolda.

Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman berharap ini menjadi unjuk rasa anarkistis yang terakhir. "Adik-adik mahasiswa yang perjuangannya murni jadi tercederai, jika disusupi seperti ini. Ada tamu tidak diundang. Jadi harus berhati-hati dan rapi karena tidak mungkin mahasiswa merusak."

Adanya penyusup juga diungkapkan Ketua NasDem Makassar, Rachmatika Dewi. "Selain merusak, mereka juga menjarah. Laptop, televisi, komputer, dan berkas-berkas diambil."

Sampai kemarin, penyidik belum menyatakan motivasi penyerangan dan perusakan Kantor NasDem itu. "Kami minta polisi mengusut tuntas masalah ini."

Unjuk rasa juga terjadi di Bali. Mahasiswa dan buruh menolak UU Cipta Kerja, di bagian lain sekelompok masyarakat menolak unjuk rasa yang acap kali berlangsung anarkistis.

Kapolda Bali Irjen Petrus Reinhard Golose mengaku untuk menangani demo, pihaknya mengakomodasi kearifan lokal. "Bukan karakter orang Bali untuk bertindak anarkistis. Kami melibatkan pecalang karena polisi tidak ingin bertindak represif terhadap mahasiswa." (LN/OL/N-3)

BERITA TERKAIT