24 October 2020, 01:45 WIB

Lebih Presisi Diagnosis Penyakit


(Ata/Wan/H-2) | Fokus

DENGAN merujuk penelitian Accenture, teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mampu mereduksi human error (kesalahan manusia) di industri kesehatan sekaligus membantu penghematan biaya sampai US$16 miliar pada 2026 mendatang.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM mengamini bahwa kemajuan teknologi tinggi melalui AI berdampak besar pada penegakan diagnosis dan arah pengobatan masa depan serupa personalized medicine.

Gambarannya begini, pendekatan klinis pengobatan pasien tidaklah sama karena disesuaikan dengan informasi genetik dan epigenetik setiap individu. Informasi genetik ini juga dibutuhkan untuk melakukan berbagai upaya pencegahan.

"Dengan menggunakan sistem rekam medik yang baik, dokter dibantu oleh teknologi untuk mendapat gambaran tentang kondisi pasien dan memprediksi apa yang akan terjadi kemudian sehingga perawatan pasien dapat diberikan lebih baik," kata Prof Ari kepada Media Indonesia, Rabu (21/10).

Kemudahan itu akan dirasakan oleh pasien dan juga dokter. Sebab, dokter tidak perlu satu per satu melihat tumpukan berkas data pasien sebab akan ada penanda yang memberikan informasi ringkasnya.

"Sehingga kerja dokter semakin mudah," imbuhnya.

Selain menegakkan diagnosis dan memutuskan terapi yang tepat, teknologi kecerdasan buatan juga akan merekomendasikan obat secara personal. Ini amat dibutuhkan dalam mengatasi berbagai penyakit yang semakin kompleks, terutama penyakit kanker.

Teknologi akan berguna di tangan orang yang tepat. Begitu juga dengan AI. Prof Ari menyampaikan dokter harus mempunyai skill berbasis internet of thing (IoT) untuk bisa memaksimalkan teknologi AI itu.

Dokter juga harus memiliki kompetensi di bidang riset untuk membuat proposal, menghasilkan penelitian dan publikasi atau paten dengan inovasi yang tinggi, serta mempunyai kemampuan untuk mengomersialisasikan inovasi yang telah diciptakan.

Di Indonesia, kata Prof Ari, pemanfaatan AI di bidang kesehatan telah diaplikasikan dalam sejumlah bidang ilmu. Di bidang endoskopi gastrointestinal, kemunculan kapsul endoskopi tanpa kabel (wireless capsule endoscopy) yang dilengkapi indikator penanda memudahkan dokter untuk menandai lokasi perdarahan pada saluran cerna.

Kecerdasan buatan juga menjadi solusi dalam pengolahan dan pemanfaatan big data untuk pelayanan publik. Hal ini disadari betul oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang mengelola jaminan kesehatan nasional (JKN).

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris menuturkan pemanfaatan big data diterapkan melalui 10 komitmen perbaikan layanan BPJS, seperti melakukan simplifikasi prosedur layanan cuci darah, menghadirkan layanan antrean elektronik untuk memberikan kepastian waktu layanan, dan melakukan integrasi sistem informasi FKTP dan rumah sakit dengan sistem informasi BPJS Kesehatan melalui mobile JKN. (Ata/Wan/H-2)

BERITA TERKAIT