23 October 2020, 03:59 WIB

Pesantren Diminta Lahirkan Santri Gus Iwan


Mir/X-11 | Politik dan Hukum

WAKIL Presiden Ma’ruf Amin menyatakan pesantren harus menjadi penggerak ekonomi kerakyatan nasional. Untuk itu, ia meminta pesantren melahirkan santri bagus, pintar mengaji, dan usahawan atau disingkat gus iwan.

“Pesantren harus melahirkan gus iwan, santri bagus, pinter ngaji, dan usahawan. Peran pesantren sebagai lembaga dakwah dan pusat pemberdayaan akan bisa kita lakukan. Saya bersyukur semangat ini sudah tumbuh. Pesantren harus bangun, tidak boleh tidur. Mari kita bangkit mengembangkan santri yang kuat sehingga negara juga menjadi kuat,” ujarnya saat memberi sambutan di peringatan Hari Santri Nasional sekaligus peluncuran secara virtual program Akselerasi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pesantren dan Komunitas, kemarin.

Dia berharap pesantren bisa menjadi penggerak dan pusat perekonomian kerakyatan untuk mendorong ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif.

Produktivitas perekonomian pesantren diminta tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri, tapi juga menyasar pasar dunia. Sebab saat ini Indonesia memiliki 28.194 pesantren dengan jumlah santri 18 juta orang.

“Banyak yang sudah memulai, tapi kita ingin semua pesantren menjadi pusat. Maka dari itu dibangun bank wakaf, untuk UMi, ada BMT, itu kita dorong supaya pesantren membangun BMT agar bisa memberdayakan masyarakat,” jelas Ma’ruf.

Dia menegaskan, upaya pengembangan yang dilakukan pesantren akan didukung pemerintah. Itu ditunjukkan dengan pembentukan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) yang diketuai Presiden Joko Widodo. Kehadiran KNEKS bertujuan untuk mengakselerasi dan memperluas ekonomi serta keuangan syariah.

Setidaknya ada empat sasaran yang menjadi fokus yakni pengembangan industri halal, pengembangan industri keuangan syariah, pengembangan social fund, dan pengembangan usaha serta bisnis syariah.

Ma’ruf, yang juga Ketua Harian KNEKS itu menambahkan, pemerintah turut berkomitmen untuk mengembangkan industri keuangan syariah melalui fasilitasi kemudahan pembiayaan bagi pelaku usaha syariah skala ultra mikro dan mikro. Itu terlihat dari keberadaan progam pembiayaan UMi, bank wakaf mikro syariah, dan baitul maal wal tamwil (BMT) yang juga dapat diakses pesantren.

“Pesantren harus menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah. Kita bayangkan, kalau separuhnya (dari total jumlah pesantren) bergerak, itu akan mengubah bangsa ini,” ujar Ma’ruf. (Mir/X-11)

BERITA TERKAIT