23 October 2020, 00:50 WIB

Obama Kecam Trump soal Covid-19


Faustinus Nua | Internasional

MANTAN Presiden Barack Obama mengecam Presiden Donald Trump terkait penanganan pandemi virus korona, tanggapan Trump terhadap kerusuhan rasial, dan berbagai hal mendasar lainnya.

Itu disampaikan Obama dalam kampanye pertamanya secara langsung untuk Joe Biden, mantan wakil presidennya.

Dengan waktu kurang dari dua minggu hingga hari pemilihan, Obama mendesak warga kulit hitam, progresif, dan pemilih lainnya untuk tidak absen dalam pemilihan 3 November.

“Pemilu ini menuntut setiap dari kita untuk melakukan bagian kita. Apa yang kita lakukan 13 hari ke depan akan menjadi masalah selama beberapa dekade mendatang,” kata Obama.

“Fakta bahwa kita tidak mendapatkan 100% dari apa yang kita inginkan dengan segera bukanlah alasan yang baik untuk tidak memilih,” tambahnya.

Kunjungan Obama ke Philadelphia menggarisbawahi pentingnya Pennsylvania, negara bagian yang paling sering dikunjungi Biden pada musim kampanye ini.

Trump juga memprioritaskan negara bagian itu dan para pembantunya mengakui bahwa jalannya menuju kemenangan akan sangat sempit tanpa 20 suara elektoral negara bagian.

Trump sebelumnya berkampanye di Erie, salah satu wilayah negara bagian Pennsylvania yang dimenangkan Obama dua kali sebelum beralih ke Trump.


Rencana Demokrat

Secara khusus menargetkan pemilih yang mungkin kecewa, Obama menawarkan pembelaan atas Biden dan pasangannya, Senator California Kamala Harris. “Amerika ialah tempat yang baik dan layak, tetapi kami baru saja melihat begitu banyak omong kosong dan keributan sehingga terkadang sulit untuk diingat,” katanya.

“Saya meminta Anda untuk mengingat seperti apa negara ini. Saya meminta Anda untuk percaya pada kemampuan Joe dan Kamala untuk
memimpin negara ini keluar dari masa-masa kelam dan memba ngunnya kembali dengan lebih baik,” ujarnya.

Ini terkait pidato Joe Biden dalam kampanye soal rencana Partai Demokrat. Partainya mempunyai agenda untuk menghadapi virus korona sambil menangani ketegangan sosial dan ekonomi negara, termasuk kesenjangan yang mengakar dalam rasisme.


Argumen penutup

Empat tahun lalu, Obama juga menyampaikan argumen penutup untuk calon presiden Hillary Clinton di Philadelphia pada rapat umum yang dihadiri oleh ribuan orang di malam sebelum hari pemilihan.

Sekarang, dengan pandemi virus korona yang meningkat, jauh lebih sedikit pemilih yang melihat mantan presiden itu secara langsung.

Namun, Obama mengingatkan para pemilih pada Pilpres 2016, ketika Trump menyingkirkan Clinton di Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin dengan meraih suara elektoral mayoritas meskipun kalah dalam suara populer secara nasional.

“Kita tidak bisa berpuas diri. Saya tidak peduli dengan jajak pendapat. Ada banyak jajak pendapat saat ini. Pemilu lalu tidak menang karena banyak orang tinggal di rumah dan menjadi malas dan berpuas diri. Tidak kali ini. Bukan pemilihan ini,” kata Obama.

Kota tuan rumah, Philadelphia, ialah salah satu benteng Partai Demokrat di negaranegara bagian yang menjadi medan pertempuran utama. Jumlah pemilih kulit hitam pada Pilpres empat tahun lalu turun dalam jumlah yang cukup besar untuk mendorong pemilihan yang menguntungkan Trump dibanding ketika pemilihan kembali Obama di tahun 2012. (AFP/War/X-11)

BERITA TERKAIT