22 October 2020, 20:54 WIB

Tiongkok Kesal Amerika Jual Senjata ke Taiwan


Faustinus Nua | Internasional

TIONGKOK pada Kamis (22/10) mengancam akan membalas tindakan AS terkait penjualan senjata terbaru ke Taiwan, setelah pulau itu menyambut baik paket senjata, meski mengatakan tidak ingin terlibat dalam perlombaan senjata dengan Beijing.

Pemerintahan Trump telah meningkatkan dukungan untuk Taiwan melalui penjualan senjata dan kunjungan pejabat senior AS. Hal itu menambah ketegangan antara Beijing dan Washington, yang terlibat dalam sejumlah masalah, seperti perselisihan tentang Laut China Selatan, Hong Kong, hak asasi manusia, dan perdagangan.

Menanggapi persetujuan AS atas potensi penjualan senjata senilai US$1,8 miliar ke Taiwan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian mengecam langkah tersebut. Dia mengatakan dalam jumpa pers harian bahwa penjualan semacam itu harus dihentikan.

"(Penjualan itu) secara serius mengganggu urusan dalam negeri Tiongkok, sangat merusak kedaulatan dan kepentingan keamanan Tiongkok, mengirimkan sinyal yang sangat salah kepada pasukan kemerdekaan Taiwan, dan sangat merusak hubungan Tiongkok-AS serta perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan," katanya.

"Tiongkok akan membuat tanggapan yang sah dan perlu sesuai dengan bagaimana situasi berkembang," tambah Zhao.

Dia tidak memberikan rincian tindakan balasan yang akan dilakukan Beijing. Namun, dari sejarah hubungan keduanya, Tiongkok telah memberi sanksi kepada perusahaan-perusahaan AS di masa lalu karena menjual senjata ke Taiwan.

Paket senjata AS terbaru, termasuk sensor, rudal, dan artileri. Pemberitahuan kongres lebih lanjut diharapkan untuk drone yang dibuat oleh General Atomics dan rudal antikapal Harpoon berbasis darat yang dibuat oleh Boeing sebagai rudal jelajah pertahanan pantai.

Di Taipei, Menteri Pertahanan Taiwan Yen De-fa berterima kasih kepada AS. Dia mengatakan senjata itu untuk membantu Taiwan meningkatkan kemampuan pertahanan mereka untuk menghadapi ancaman musuh dan situasi terbaru.

"Ini termasuk kemampuan tempur yang kredibel dan kemampuan peperangan asimetris untuk memperkuat tekad kami untuk mempertahankan diri," tambahnya.

"Ini menunjukkan pentingnya AS terhadap keamanan di Indo Pasifik dan Selat Taiwan. Kami akan terus mengonsolidasikan kemitraan keamanan kami dengan Amerika Serikat."

Yen pun menegaskan bahwa pihaknya tidak mencari konfrontasi. Taiwan tidak ingin terlibat dalam perlombaan senjata dan tindakan lain yang mengancam stabilitas kawasan.

"Kami tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata dengan Komunis Tiongkok. Kami akan mengedepankan persyaratan dan membangun sepenuhnya sesuai dengan konsep strategis pencegahan berat, mempertahankan posisi, dan kebutuhan pertahanan kami."

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah menjadikan modernisasi pertahanan sebagai prioritas dalam menghadapi ancaman Tiongkok yang meningkat, terutama kemampuan perang asimetris. Itu mengacu pada upaya membuat serangan Tiongkok menjadi sulit dan mahal, misalnya dengan ranjau pintar dan rudal portabel. (CNA/OL-14)

BERITA TERKAIT