22 October 2020, 11:34 WIB

Relawan Uji Coba Vaksin Covid-19 AstraZeneca Meninggal di Brasil


Faustinus Nua | Internasional

SEORANG sukarelawan yang berpartisipasi dalam uji klinis vaksin covid-19 yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca meninggal dunia di Brasil. Hal itu diumumkan para pejabat Brasil, Rabu (21/10), meskipun laporan media mengatakan ia menerima plasebo, bukan vaksin.

Kematian itu merupakan yang pertama dilaporkan dalam berbagai uji coba vaksin covid-19 yang berlangsung di seluruh dunia.

Laporan media mengatakan relawan itu adalah seorang dokter berusia 28 tahun yang bekerja di garis depan pandemi. Dia meninggal karena komplikasi akibat covid-19.

Baca juga: Bolsonaro Batalkan Pembelian Vaksin Covid-19 dari Tiongkok

Meski demikian, penyelenggara studi mengatakan tinjauan independen telah menyimpulkan tidak ada masalah keamanan dan pengujian vaksin. Sehingga uji coba bisa terus berlanjut.

Universitas Federal Sao Paulo, yang membantu mengoordinasikan uji klinis fase 3 di Brasil, membenarkan bahwa komite peninjau independen telah merekomendasikan uji coba dilanjutkan.

Universitas, sebelumnya, mengonfirmasi bahwa sukarelawan itu adalah orang Brasil tetapi tidak memberikan rincian pribadi lebih lanjut.

"Semuanya berjalan seperti yang diharapkan, tanpa catatan komplikasi serius terkait vaksin yang melibatkan sukarelawan yang berpartisipasi," kata universitas Brasil itu dalam sebuah pernyataan.

Sejauh ini, 8.000 dari 10.000 sukarelawan yang direncanakan dalam uji coba telah direkrut. Mereka diberikan dosis pertama di enam kota di Brasil dan banyak yang telah menerima suntikan kedua, kata juru bicara universitas.

Surat kabar Brasil Globo dan kantor berita internasional Bloomberg mengatakan pria itu berada dalam kelompok yang dikontrol. Dia telah menerima plasebo bukan vaksin uji.

"Setelah penilaian yang cermat atas kasus itu di Brasil, tidak ada kekhawatiran tentang keamanan uji klinis, dan tinjauan independen di samping regulator Brasil telah merekomendasikan agar uji coba tersebut dilanjutkan," kata Oxford dalam sebuah pernyataan.

AstraZeneca mengatakan kerahasiaan medis berarti tidak dapat memberikan rincian tentang sukarelawan individu mana pun. Tetapi tinjauan independen itu tidak menimbulkan kekhawatiran tentang kelanjutan studi yang sedang berlangsung.

Regulator kesehatan nasional Brasil, Anvisa, mengonfirmasi telah diberitahu tentang kasus tersebut pada 19 Oktober.

Institut Penelitian dan Pengajaran D'Or (IDOR), yang membantu mengatur tes di Brasil, mengatakan tinjauan independen itu tidak menimbulkan keraguan tentang keamanan studi, dan merekomendasikannya untuk dilanjutkan.

Oxford dan AstraZeneca sebelumnya harus menangguhkan pengujian vaksin pada September ketika seorang sukarelawan di Inggris mengalami penyakit yang tidak dapat dijelaskan. Uji coba dilanjutkan setelah regulator Inggris dan tinjauan independen menyimpulkan penyakit itu bukan efek samping dari vaksin.

Separuh sukarelawan dalam uji klinis tahap akhir--penelitian tersamar ganda, acak, terkontrol--menerima plasebo, kata IDOR. Sejauh ini, sekitar 8.000 sukarelawan telah divaksinasi di Brasil dan lebih dari 20.000 di seluruh dunia. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT