21 October 2020, 21:59 WIB

Sejumlah Proyek Pemkot Surabaya Dinilai Tanpa Perencanaan Matang


Syaikhul Hadi | Nusantara

KALANGAN Dewan mengkritik Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini lantaran selama 10 tahun memimpin Kota Pahlawan, banyak pembangunan dan pengembangan kawasan yang tanpa perencanaan, terutama di kawasan utara Surabaya.

Anggota Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kota Surabaya Buchori Imron menegaskan, Tri Rismaharini, tidak memiliki perencanaan matang setiap pembangunan wilayah.

Baca juga: Kebijakan Jokowi Dinilai Berpihak ke Sektor Usaha Jangka Panjang

"Banyak sekali proyek Pemkot itu tanpa perencanaan dan DED (Detail Engineering Design) yang matang," ujarnya kepada wartawan, Rabu, (21/10).

Ketua DPC PPP Kota Surabaya ini mencontohkan, jembatan bambu yang dibangun di Kawasan Wisata Mangrove, Wonorejo, Rungkut, Surabaya. Jembatan yang dibangun dengan APBD Kota Surabaya senilai Rp 1,2 miliar itu saat ini tidak terawat dan beberapa bagian sisinya kondisinya ambruk. 

"Proyeknya kebanyakan tanpa konsep dan DED yang jelas, langsung dikerjakan begitu saja," tegasnya. 

Anggota DPRD Surabaya dua periode ini mempertanyakan anggaran pembangunan jembatan dengan bahan bambu yang menghabiskan dana miliaran rupiah. 

Menurutnya, Pemkot Surabaya perlu mencontoh ke Probolinggo dalam penataan kawasan mengrove. Di Probolinggo jembatan yang membentang di mangrove terbuat dari besi dengan memiliki desain yang cantik. Bahkan di tengah hutan mangrove ada rumah makan.

Tak hanya itu, menurutnya pembangunan Jembatan suroboyo di kawasan wisata Kenjeran tidak disertai DED yang matang. Pembangunan jembatan yang menghabiskan dana APBD Kota Surabaya sebesar Rp 208 miliar itu saat ini kondisinya tidak difungsikan, bahkan ditutup.

Tidak berhenti disitu, Terminal Kedung Cowek yang kondisinya sudah sekian tahun mangkrak, padahal kata dia pembangunannya menyedot APBD Kota Surabaya hingga puluhan miliar, namun lagi-lagi tidak memberikan dampak ekonomi pada masyarakat.

"Dewan seperti tidak pernah dianggap keberadaannya. Komisi C mestinya diajak dialog, karena prioritas utama pembangunan itu mengedepankan azas manfaat, tidak seperti yang terjadi selama ini. Mirisnya ratusan miliar uang rakyat hanya terbuang sia-sia untuk proyek mangkrak," tandasnya (Medcom.id/OL-6)

BERITA TERKAIT