21 October 2020, 21:06 WIB

Everyday is a Lullaby Tayang Perdana di Busan


Fathurrozak | Weekend

Film garapan Putrama Tuta, Everyday Is A Lullaby, premier di Busan International Film Festival (BIFF) 2020.

Film keempat sutradara Putrama Tuta ini menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang ikut berpartisipasi di BIFF tahun ini. Everyday Is A Lullaby bakal tayang dalam program A Window on Asian Cinema, bersama 31 film Asia lainnya. Film yang dibintangi Anjasmara, Fahrani, dan Raihaanun itu akan tayang pada hari terakhir BIFF, Jumat (30/10).

Dalam BIFF ke-25, jumlah film yang berpartisipasi hanya 192 film dari 68 negara, lebih sedikit dari edisi-edisi terdahulu. Film-film akan ditayangkan satu kali selama festival berlangsung.

Film yang naskahnya ditulis Ilya Sigma dan diproduseri John Badalu ini berkisah tentang seorang penulis yang sekarat yang mencoba menulis karyanya, dan menyadari ia telah mati dan hidup di dalam ceritanya. 

Bagi Tuta, film ini berbicara mengenai hubungan manusia dengan dirinya dalam melawan rasa takut, dengan menggunakan imajinasi tanpa batas, mendobrak ruang dan waktu demi mencari jalan pulang yang terbaik.

Everyday Is A Lullaby memiliki perjalanan panjang sampai akhirnya bisa tayang tahun ini. Diproduksi sejak empat tahun silam. Dalam film ini, almarhum Deddy Soetomo juga ikut bermain.

“Film ini dibangun untuk menciptakan berbagai sudut pandang. Para aktor tidak hanya dituntut untuk berakting dan berubah menjadi sebuah karakter, tetapi untuk memainkan, mengisolasi karakter tersebut dan menyampaikannya dengan cara yang paling jujur untuk mengungkapkan kebenaran dari situasi yang diciptakan oleh pikiran," kata Tuta dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Rabu, (21/10).

BIFF yang dimulai hari ini (21/10) ialah salah satu festival film yang prestisius di Asia.  Beberapa film Indonesia yang juga pernah tayang di BIFF antara lain Hiruk-Pikuk Si Al-kisah, Sekala Niskala, Kucumbu Tubuh Indahku, dan Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. (RO/M-2) 

BERITA TERKAIT