21 October 2020, 14:15 WIB

Akurasi Laporan Penyuluh Program Utama Kementan


mediaindonesia.com | Nusantara

PENYULUH pertanian di seluruh Indonesia dituntut menyampaikan Laporan Program Utama Kementerian Pertanian RI (Kementan) secara akurat, lengkap dan simpel karena dinamika di lapangan harus menyesuaikan dengan potensi pertanian di seluruh pelosok Indonesia.

Upaya Kementan dikemukakan Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi dan Kepala Pusluhtan BPPSDMP Leli Nuryati di Lombok Tengah, NTB dengan Kepala Pusdatin, Akhmad Musyafak di Jakarta, kemarin, secara virtual pada kegiatan Ngobrol Asyik Penyuluhan (Ngobras) Vol. 9.

"Kementan berupaya membangun mekanisme pelaporan program utama. Kita pakai internet untuk mendobrak birokrasi dalam hal pelaporan ini. Sekarang pelaporan bisa dilaporkan BPP KostraTani secara langsung," kata Dedi Nursyamsi melalui zoom meeting dari Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurutnya, pelaporan dari Balai Penyuluhan Pertanian pelaksana Komando Strategis Pembangunan Pertanian (BPP KostraTani) perlu dipersingkat tanpa abaikan kelengkapan, faktual dan lugas.

"Pelaporan BPP perlu dipersingkat. Dinamika lapangan harus sesuai potensi daerah. Ada yang cocok tanaman pangan. Ada hortikultura. Lainnya lebih pas perkebunan atau peternakan," kata Dedi Nursyamsi di NTB pada peluncuran Model BPP KostraTani di Lombok Tengah.

Dia menambahkan akurasi pelaporan sangat vital, erat kaitannya dengan program dan kebijakan yang akan diambil pemerintah pusat bagi kepentingan daerah.

"Laporan program menjadi dasar alokasi pupuk, benih, obat-obatan. Misal jadwal distribusi. Akurasi sangat vital. Dampaknya buruk, kalau salah. Pembangunan pertanian akan lebih baik, kalau laporan benar dan tepat," kata Dedi di NTB didampingi Kapusluh Leli Nuryati dan Kabid Penyelenggaraan Penyuluhan - Pusluhtan, Joko Samiyono.

Hal itu, katanya, sejalan instruksi dan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo, penyuluh adalah garda terdepan mengawal program utama dan mendampingi petani mencapai target produksi pertanian nasional.

"Penyuluh BPP Kostratani yang terdepan mengawal program-progam utama Kementan, karena itulah BPP diperkuat agar tugas, fungsi dan peran Kostratani berjalan maksimal," kata Mentan Syahrul dikutip Dedi.

Sekitar 300 partisipan video conference (Vcon) dan lebih 5.000 pemirsa live streaming memadati jagat virtual Ngobras, dipancarluaskan dari Agriculture Operation Room (AOR) di Kementan ke kantor Balai Penyuluhan Pertanian selaku Komando Strategis Pembangunan Pertanian [BPP KostraTani] maupun Kostrada/Kostrawil di kantor dinas pertanian kabupaten/kota dan provinsi.

Kepala Pusdatin Akhmad Musyafak mengingatkan sub menu input data komoditas strategis ada 20 item. Input data luas tanam dan luas panen kakao belum berubah. "Memang belum semua, karena baru sosialisasi."

Pelaporan utama Kementan melalui beberapa cara: WAG untuk kontrol monitoring agar lebih cepat dan mudah untuk reminder. Sementara input laporan satu kali tiap dua pekan, sebagai acuan pelaporan yang dilaporkan oleh Admin. Penguatan Data Pangan Strategis (PDPS) bagi acuan dan pengecekan data oleh petugas PDPS menjadi pegangan utama data final.

Menurut Akhmad Musyafak data pertanian khususnya Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) akan menjadi basis data, maka kualitas data harus dijaga tetap akurat dan lengkap. "Apabila tidak ada yang dilaporkan, tulis nol saja. Data Simluhtan diintegrasikan e-RDKK."

Kapusluh Leli Nuryati mengingatkan para penyuluh, data petani harus berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil - Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Dukcapil Kemendagri).

"Ke depan, akan dibuat sistem Android apabila sudah satu data. Sistem Android dibuat khusus untuk petani hasil kerjasama dengan Dukcapil," kata Leli Nuryati.

Kegiatan Ngobras berlangsung dinamis setelah Kasubbid IM Pusluhtan, Septalina Pradini selaku Anchor Ngobras memberi kesempatan sejumlah penyuluh untuk bertanya. Mereka antara lain Koordinator BPP KostraTani Tujuh Belas di Kabupaten Bengkayang (Kalbar), BPP Panurangan di Cirebon (Jabar), BPP Ungaran Timur (Jateng) dan Kabupaten Bogor. (OL-13)

Baca Juga: Warga Mondoretno Lakukan Budidaya Sayuran Organik di Pekarangan

BERITA TERKAIT