21 October 2020, 13:06 WIB

India akan Luncurkan Tes Covid-19 Berbasis Kertas


Nur Aivanni | Internasional

TES virus korona berbasis kertas yang cepat dan murah akan segera tersedia di seluruh India. Para ilmuwan pun berharap itu akan membantu membalikkan gelombang pandemi di salah satu negara yang paling parah terkena dampak di dunia itu.

India telah mencatat lebih dari 7,5 juta infeksi, nomor dua setelah Amerika Serikat. Wabah telah menyebar dari kota-kota besar yang padat seperti Mumbai ke masyarakat pedesaan dengan layanan medis terbatas.

Baca juga: Tunangan Khashoggi Gugat Putra Mahkota Arab Saudi di AS

Tes korona berbasis kertas tersebut dinamai Feluda. Feluda menyerupai alat tes kehamilan dan memberikan hasil dalam kurun waktu satu jam.

Peneliti optimis biayanya yang murah dan penggunaannya yang mudah dapat membantu membendung penyebaran patogen di daerah miskin dan terpencil.

"Tes ini tidak memerlukan peralatan canggih atau tenaga yang sangat terlatih," kata salah satu pencipta Souvik Maiti, seorang ilmuwan di CSIR-Institute of Genomics and Integrative Biology (IGIB) di New Delhi.

"Ada banyak daerah terpencil di India di mana Anda tidak memiliki laboratorium yang canggih. (Alat tes ini) akan jauh lebih mudah untuk didistribusikan," tambahnya.

Saat ini, India mendiagnosis covid-19 dengan tes RT-PCR, yang sangat akurat tetapi membutuhkan mesin lab canggih, atau tes antigen, yang dapat memberikan hasil hanya dalam beberapa menit dengan biaya terbatas tetapi dengan akurasi yang jauh lebih rendah.

Feluda, seperti tes berbasis kertas murah lainnya yang sedang dikembangkan di negara lain, mengklaim menggabungkan akurasi tes PCR dengan aksesibilitas kit antigen.

Feluda telah diberikan persetujuan peraturan pemerintah. Pekan lalu, Menteri Kesehatan Harsh Vardhan mengatakan alat tes tersebut dapat diluncurkan dalam beberapa minggu ke depan oleh Tata Group.

Untuk harganya belum dirilis, tetapi media lokal mengatakan harganya bisa sekitar 500 rupee ($ 6,80), sekitar seperlima dari biaya tes PCR di New Delhi. (AFP/OL-6)

BERITA TERKAIT