21 October 2020, 05:20 WIB

Jangan Sepelekan Sariawan pada Anak


Ant/H-2 | Humaniora

SARIAWAN (Stomatitis aftosa) merupakan peradangan yang terjadi di dalam rongga mulut ditandai dengan kemerahan, bengkak, luka, bahkan pendarahan. Meski ini hal biasa, jika terjadi pada bayi dan anak, dampaknya bisa memenga­ruhi tumbuh kembang.

“Selama masa sariawan berlangsung, biasanya seorang anak menjadi tidak nafsu makan dan minum,” ujar dokter Herwanto, SpA dari rumah sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta, saat webinar, pekan lalu.

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh orangtua ialah selalu rajin memberikan minum untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Untuk meredakan nyeri yang dialami, orangtua bisa memberikan paracetamol yang sesuai dengan dosisnya.

Selain itu, sambung Herwanto, jaga agar luka sariawan tidak kotor dan berikan makanan yang lunak, seperti bubur, sayur, atau susu. “Makanan itu kalau kena sariawan, tidak nyeri.”

Orangtua juga bisa mengoleskan aloevera atau lidah buaya pada bagian sariawan. Namun, pastikan bahwa lidah buaya itu sudah dibersihkan terlebih dahulu.

Jika sariawan berada pada rongga mulut bagian dalam, kata Herwanto, carilah yang berbentuk semprot. “Kalau bayi apa pun yang masuk ke mulut pasti ditelan, kalau oles, kan tepat sasaran. Kalau sudah 8 tahun atau remaja, mungkin bisa menggunakan yang kumur,” kata dr Herwanto.

Herwanto mengungkapkan sariawan terbagi dalam tiga jenis, yakni minor (kurang dari 1 cm), mayor (lebih dari 1 cm), dan herpetiform (kurang dari 1 cm tapi banyak). “Kalau sudah mayor atau herpetiform, itu langsung ke dokter baik dokter umum atau dokter anak, lebih dini lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, sariawan ini tidak menular. Penyebab sariawan beragam mulai trauma, seperti tergigit atau terbentur, penggunaan alat gigi (sikat dan kawat gigi), makanan asam, alergi, sistem imunitas yang menurun serta gangguan nutrisi. (Ant/H-2)

BERITA TERKAIT