21 October 2020, 05:00 WIB

LPI Beroperasi 2021


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

WAKIL Menteri (Wamen) BUMN Kartika Wirjoatmodjo menuturkan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) berskema dana abadi sovereign wealth fund (SWF) akan beroperasi di awal 2021.

Pembentukan lembaga itu merupakan turunan dari Un­dang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) atau omnibus law.

“Dalam omnibus law, yakni pendirian Indonesia investment authority diharapkan beroperasi pada Januari 2021,” ujar Kartika dalam acara Capital Market Summit & Expo 2020 secara virtual, kemarin.

Pembentukan LPI bertujuan menjadi wadah investasi dari luar negeri ke berbagai proyek pembangunan di dalam negeri, khususnya Proyek Strate­gis Nasional (PSN).

Kartika mengatakan pihaknya kini tengah berjuang memulihkan perusahaan BUMN yang terdampak akibat covid-19.

“Cukup banyak BUMN yang terdampak serius dari covid-19. Seperti Garuda yang melakukan restrukturisasi keuangan yang fundamental. Lalu ada Waskita, Perumnas, yang mengalami penurunan penjualan yang signifikan,” ujarnya.

Dengan adanya LPI, pihaknya berharap terjadi peningkatan dan optimalisasi nilai aset dalam jangka panjang guna mendukung pembangunan secara berkelanjutan.

Peran IFG

Dalam kesempatan terpisah, Indonesia Financial Group (IFG) menyatakan siap menjadi salah satu solusi demi memperkuat fungsi investasi dalam ekosistem asuransi nasional.

Sebagaimana diketahui, IFJ telah resmi ditetapkan sebagai BUMN holding perasuransian dan penjaminan BUMN. Hal itu merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2020 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara ke dalam Modal Saham PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) yang sekarang menjadi IFG.

Dengan konsolidasi, holding itu memiliki aset Rp72,5 triliun per Maret 2020. Holding ini memiliki sembilan anggota, yaitu PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), PT Jasa Raharja, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), PT Bahana Sekuritas, PT Bahana TCW Investment Management, PT Bahana Artha Ventura, PT Grahaniaga Tata Utama, dan PT Bahana Kapital Investa.

“Sebagai BUMN holding perasuransian dan penjaminan, IFG akan menghadirkan perubahan di bidang keuangan, khususnya asuransi, inves­tasi, dan penjaminan yang akuntabel, prudent, dan transparan. Dengan sinergi ini, IFG akan menjadi salah satu solusi untuk memperkuat fungsi in­vestasi dalam ekosistem asuransi nasional, terutama di dalam BUMN,” ujar Direktur Utama IFG, Robertus BiIlitea, dalam konferensi pers virtual, kemarin.

Dalam upaya untuk meleng­kapi dan memperkuat ekosis­tem IFG dibentuklah IFG Life yang menawarkan bisnis asuransi yang komprehensif sebab potensi pasar asuransi jiwa di Indonesia sangat besar. Total aset industri asuransi per Juli 2020 senilai Rp703 triliun atau setara 4% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

“Kami optimistis, dengan hadirnya IFG Life dapat mendobrak pasar asuransi nasional dan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya di bidang proteksi jiwa, kesehatan, serta dana pensiun, dan termasuk melakukan migrasi portofolio Jiwasraya yang telah selesai direstrukturisasi (oleh pihak Jiwasraya),” ucap Direktur Bisnis IFG Pantro Pander Silitonga.

Dalam aspek finansial, IFG akan mendukung dan melakukan review atas kebutuhan modal anggota holding, melakukan monitoring dan evaluasi atas penggunaan dana. Dengan begitu, penyertaan modal negara pada IFG akan disalurkan secara tepat jumlah, waktu, dan sasaran.(Try/E-1)

BERITA TERKAIT