21 October 2020, 04:20 WIB

Saatnya Menyetop Demo Anarkistis


HS/AT/BB/OL/BK/DW/N-3 | Nusantara

PERLAWANAN terhadap aksi-aksi anarkistis muncul dari tengah masyarakat. Di Surabaya, Jawa Timur, warga menyatukan diri untuk menghadapi pengunjuk rasa yang berniat merusak kota.

Kemarin, mereka menandatangani Deklarasi Wani Jogo Suroboyo. Ratusan warga menyatakan diri bergabung di dalamnya.

Kapolda Jawa Timur Irjen M Fadil Imran pun mendukung gerakan mereka. “Saya bangga menjadi warga Surabaya. Saya tidak mau Kota Surabaya dirusak. Kita jaga bersama agar situasi Surabaya aman, tertib, dan damai.”

Fadil juga berharap pada semua warga agar peka dan turut serta menjaga kampung masing-masing.

Kepada pengunjuk rasa, yang kemarin, kembali menggelar aksi, ia mengingatkan mereka untuk tertib, damai, dan tidak anarkistis. “Silakan menyalurkan aspirasi di muka umum. Namun, Polri dan TNI akan melakukan tindakan tegas jika terjadi rusuh, pembakaran.”

Dukungan terhadap unjuk rasa damai juga dilontarkan Rektorat Universitas Gadjah Mada saat mahasiswa menggelar aksi di bundaran UGM. “Tidak ada yang salah dengan demo, tetapi harus sejalan dengan prinsip demokrasi, tidak anarkistis, dan tidak mengganggu orang lain,” kata Kabag Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani.

Sebelumnya, Rektor UGM, Panut Mulyono, justru mengajak akademisi UGM untuk mengkritisi UU Cipta Kerja lewat forum-forum akademis, bukan turun ke jalan. “Tidak usah turun ke jalan. Universitas itu tempatnya intelektual.”

Unjuk rasa di masa pandemi juga menimbulkan kerepotan tersendiri bagi aparat keamanan. Di Cianjur, Jawa Barat, misalnya, polres harus melaksanakan tes cepat untuk anggota yang mengamakan aksi.

“Demo beberapa waktu lalu berisiko menularkan covid-19. Beruntung setelah tes cepat, tidak ada anggota yang reaktif,” kata Kapolres AKB M Rifai.

Kemarin, dari sejumlah daerah dibe­rangkatkan anggota Brimob untuk membantu pengamanan Kota Jakarta. Dari Bali dikirim 100 anggota dan jumlah yang sama dari Sumatra Selatan. (HS/AT/BB/OL/BK/DW/N-3)

BERITA TERKAIT