21 October 2020, 01:30 WIB

Pilkada Kota Semarang Selesai sebelum Berperang


Akhmad Safuan | Pilkada

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) Kota Semarang 2020 telah selesai meski ‘peperangan’ yang dijadwalkan 9 Desember 2020 masih lama.

Proses pilkada yang saat ini berlangsung terkesan hanyalah untuk memenuhi persyaratan berdemokrasi. Calon tunggal pasangan Hendrar Prihadi-Hevearita F Rahayu yang didukung 9 partai tak akan mendapat perlawanan berarti dari lawan yang berwujud benda mati.

Kotak kosong yang menjadi lawan dalam pilkada serentak akhir tahun ini terasa benar-benar melompong karena sama sekali tidak terlihat adanya pergerakan penghimpunan kekuatan melawan petahana. Tidak salah jika warga Kota Semarang kebanyakan menyebut pilkada di ibu kota Jawa Tengah itu telah selesai.

Kondisi sekarang ini di Semarang kontras dengan Pilkada Kabupaten Pati pada 2017. Saat itu, perlawanan oleh relawan kotak kosong terhadap Haryanto-Saiful Arifin cukup sengit.

Mereka memasang alat peraga kampanye, yang tentu saja mengeluarkan uang cukup banyak, juga berkampanye hingga ke pelosok desa meskipun hasilnya tidak mampu menjungkalkan petahana.

Perlawanan pendukung kotak kosong di Pilkada Pati itu sempat membuat situasi politik daerah panas dan petahana ketar-ketir. Terbukti kemudian hasinya sangat mengejutkan. Kotak kosong menang di beberapa kecamatan.

Dari 711.402 orang yang menggunakan hak pilih, kotak kosong mampu mengumpulkan 177.682 suara (25,48%). Adapun suara tidak sah sebanyak 15.195.

Berkaca dari sengitnya demokrasi di Pati itu, pasangan Hendrar Prihadi-Hevearita F Rahayu tidak mau tinggal diam.

Mereka berdua rutin berkampanye, baik secara virtual maupun pertemuan tatap muka dengan calon pemilih. “Bagi kami, kotak kosong juga pilihan sehingga kotak kosong tetap saja merupakan lawan. Masa kampanye tetap saya manfaatkan untuk tancap gas,” kata Hendrar, pekan lalu.

Kampanye petahana mulai memasuki pekan ketiga. Dalam beberapa kesempatan paslon turut mengampanyekan kotak kosong dengan menjelaskan bahwa dalam pencoblosan pada 9 Desember, ada dua kotak yang menjadi pilihan. Satu kotak gambar paslon dan satu lagi kotak tanpa gambar. “Jadi jangan beranggapan tidak ada ruang pilihan,” ujarnya.

Paslon Hendrar Prihadi-Hevearita F Rahayu yang diusung PDIP, NasDem, Golkar, PKB, Demokrat, PKS, PAN, Gerindra, dan PSI patut merasa lega sebab kesembilan partai bertekad berjuang penuh memenangkan petahana.

Ditinggalkan


Suasana berbeda terasa pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. Di Kota Doloksanggul, ibu kota Kabupaten Humbang Hasundutan, terlihat pernak-pernik pendukung kotak kosong.

Ada yang beranggapan bahwa pernak-pernik itu berasal dari pendukung Saut Parlindungan Simamora, Wakil Bupati Humbang Hasundutan, yang ditinggalkan pasangannya, Dosmar Banjarnahor.

Pada 2016, Dosmar Banjarnahor bersama Saut berjuang sengit untuk mendapatkan kursi Bupati/Wakil Bupati Humbang Hasundutan. Periode kedua ini, Dosmar lebih memilih berpasangan dengan Oloan Paniaran Nababan.

Sebaliknya Saut yang diharapkan masyarakat menjadi pesaing malah memutuskan tiarap. Salah seorang pendukung Saut yang enggan namanya disebutkan mengaku heran dengan seluruh petinggi partai yang utuh memberikan dukungan kepada Dosmar.

“Semua partai mendukung Dosmar. Apakah semua pimpinan partai di Humbang Hasundutan terdampak covid-19? Kredibilitas mereka patut dipertanyakan karena gagal menyemaikan demokrasi di kota ini,” tegasnya.

Pengamat politik dari Universitas Diponegoro Semarang, Wijayanto, menilai paslon tunggal melawan kotak kosong bukan merupakan pilihan yang terbaik dalam membangun proses demokrasi.

“Kenapa? Karena masyarakat hanya mempunyai pilihan yang terbatas dan tidak ada pilihan lain sebagai pembanding,” tuturnya.

Kemunculan paslon tunggal di suatu daerah, ungkap Wijayanto, merupakan refleksi bahwa partai gagal melakukan kaderisasi politik dan melahirkan calon alternatif yang bertujuan mencetak pemimpin bangsa.

Di sisi lain, paslon tunggal tidak menstimulus adanya debat dan penajaman visi-misi. “Ini memunculkan anggapan bahwa melawan kotak kosong lebih mudah memenangi perolehan suara karena masyarakat cenderung pasif,” tukasnya. (JH/N-1)

BERITA TERKAIT