20 October 2020, 22:58 WIB

NasDem: Pendidikan dan Kesehatan Butuh Perhatian Lebih


Ferdian Ananda Majni | Politik dan Hukum

ANGGOTA DPR RI Fraksi NasDem M Farhan menyoroti kekhawatiran pada dua persoalan mendasar yang harus menjadi perhatian dan butuh peningkatan bagi masyarakat dalam sisa masa periode kepemimpinan Presiden Jokowi-Amin.

"Saya sangat khawatir pada masalah dua saja yang menjadi dasar, kebutuhan kita yaitu akses dan kualitas pendidikan, serta kualitas pelayanan kesehatan publik," kata Farhan dalam diskusi 1 tahun Jokowi-Amin: Benderang atau Buram?, di IG Live Media Indonesia yang dipandu Jurnalis Irvan Sihombing, Senin (19/10).

Menurutnya, pandemi Covid-19 telah menguji dua sektor tersebut. Namun, justru ketahanan sektor pendidikan dan sektor layanan kesehatan publik itu masih perlu ditingkatkan.

"Itu kritik saya, saya mengerti kesulitan yang dialami karena sama seperti dengan distribusi dan penentuan harga BBM satu harga di seluruh Indonesia, maka kualitas pendidikan dan kualitas pelayanan kesehatan di komisi 1 sama di seluruh Indonesia, memang tidak mudah sama sekali tetapi justru di situlah tantangan terbesarnya kita," sebutnya.

Baca juga: Antisipasi Ancaman La Nina, Mitigasi Nonstruktural Paling Penting

Dia tak memungkiri bahwa ketika bertemu masyarakat di seluruh, dua perihal itu yang selalu dipertanyakan. Kemudian tentunya persoalan peluang atau peluang pekerjaan.

"Dua hal ini menjadi sangat penting sayangnya memang pak menteri Nadiem dengan pak menteri Terawan belum setahun menjabat, sudah dihajar pandemi, ya wajar lah kalau mereka agak tergagap sedikit," paparnya.

Terkait kapasitas keduanya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan sektor kesehatan. Dirinya berprasangka baik dengan pilihan presiden Jokowi memberikan mandat tersebut.

"Saya sih husnudzon aja bahwa Menteri pilihan presiden itu adalah yang terbaik. Nah, ketika sekarang menghadapi kondisi yang unprecedented, nggak disangka-sangka saatnya sekarang sebetulnya peluang emas para menteri itu untuk menunjukkan kualitasnya. Kata filsuf Tiongkok bahwa dibalik krisis ada peluang," tegasnya.

Menurutnya, bagaimanapun juga Indonesia tidak akan pernah bisa mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi ke level negara sejahtera. Meskipun sempat masuk Januari lalu pada posisi middle high income.

"Kita semua pengen masuk ke high income dan bangsa ini tercapai ketika layanan kesehatan dan layanan pendidikannya itu, kualitasnya juga meningkat. Ngak dibalik, kita tidak meningkatkan ekonomi baru meningkatkan pendidikan dan kesehatan, sudah terbukti tingkat pendidikan dan kesehatan maka ekonomi dengan mudah punya landasan untuk take off," pungkasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT