20 October 2020, 15:06 WIB

Semangat dan Energi Generasi Muda untuk Kendalikan Karhutla


Suryani Wandari | Humaniora

MESKI luas lahan yang terbakar dalam periode Januari-September 2020 menurun 76,2 % dibanding tahun lalu, ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih menghampiri Indonesia.

Generasi muda peduli kebakaran hutan dan lahan pun berpegangan tangan mencegah terjadinya karhutla dengan tergabung dalam Manggala Agni atau Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Indonesia.

Brigade yang dibentuk untuk melaksanakan tugas pengendalian kebakaran hutan ini bahu membahu mengendalikan karhutla mulai dari pencegahan, pemadaman dan penanganan pasca-kebakaran hutan.

Kehadiran generasi muda ini dipercaya Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPI KLHK) Ruandha Agung Sugardiman dapat membawa nilai positif terhadap pengendalian karhutla.

"Generasi muda berperan dalam pengendalian hutan dan lahan, saya percaya dengan energi dan semangat yang dimiliki. Anak muda dapat menjadi agen perubahan yang membuat bangsa ini jauh lebih baik ke depan," kata Ruandha dalam webinar bertajuk Generasi Muda Peduli Kebakaran Hutan dan Lahan, Selasa (20/10).

Baca juga:  Luas Karhutla di Kalsel menurun Dibandingkan Tahun Lalu

Pengalaman turun ke lapangan dan berjibaku dengan api karena kebakaran hutan dijalani beberapa anggota Manggala Agni dan Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL).

"Kendala kami adalah daerah jangkauan yang tak ada aksesnya, juga pada daerah tak ada jaringan internet sehingga komunikasi kadang terputus ketika menjalankan tugas di lapangan," kata Ketua Manggala Agni Daerah operasi Tanah Laut Dody Ronald.

Tak hanya itu, kendala lain yang kerap terjadi yakni penolakan terhadap kehadirannya ketika akan melakukan pemadaman. Dody mengatakan hal itu berkaitan dengan kearifan lokal daerah setempat.

"Ketika ada kebakaran tapi kita ditolak untuk memadamkan, kita tidak harus meninggalkan situasi itu, tapi bercengkerama dengan masyarakat di sana. Kita lihat apakah api akan padam sendiri atau mereka akan minta bantuan kita. Kita dampingi mereka terus," lanjutnya.

Ada juga cerita Sylviaah, anggota PPIKHL Sulawesi yang baru bergabung setahun ini, mengaku sangat bangga kepada sosok Manggala Agni yang loyal dalam bekerja juga ikhlas.

"Saat saya baru masuk Manggala Agni, saya lihat dalam menangani karhutla mereka sudah siap menerjang kabut asap, meraka langung ulur selang dan langsung melakukan pemadaman," kata Sylviah.

Saat itu, menurutnya, kondisi angin kencang dan api sudah naik ke ranting pohon sehingga kemungkinan besar adanya api loncat, namun Manggala Agni sigap melakukan pemadaman.

"Saya sangat bangga hadir di tengah mereka," imbuhnya.

Kehadiran generasi muda ini dirasa peting dalam pengendalian karhutla sebagaimana anak muda memiliki energi dan semangat yang tinggi, belum lagi punya pemikiran yang berbeda.

Putri Lala Kemari, PPIKHL Sumatera, mengatakan teknologi yang telah menjadi bagian dari kehidupan anak muda bisa menjadi andalan dalam pengendalian karhutla.

"Dengan teknolgi dan media sosial yang digemari anak muda, bisa mejadi sarana menyebarkan kebaikan dan energi positif kepada khalayak. Apalagi anak muda memiliki wawasan yang baik," tutur Putri.(OL-5)

BERITA TERKAIT