20 October 2020, 12:53 WIB

Kerajinan Bambu Menghidupi Penyandang Disabilitas


Gabriel Langga | Nusantara

TERLAHIR dengan keterbatasan fisik tidak membuat Herman Meang (50) warga Halat, Desa Nelle Barat, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur ini putus semangat. Sejak bergabung di Bumdes Teguh Mandiri, Herman Meang yang divonis polio yang diterima sejak kecil merasa terbantu dengan membuat berbagai produk kerajinan dari bahan baku bambu.

Saat ditemui mediaindonesia.com, Senin (19/10) di Bumdes Teguh Mandiri, Herman sudah sejak 1995 mengerjakan produk kerajinan dari bahan bambu. Namun pengerjaan produk dari bambu itu  masih dilakukan sendiri di rumahnya. 

"Tahun 1992 itu, saya ikut pelatihan. Dan pada tahun 1995, saya mulai mengerjakan produk kerajinan bambu sampai sekarang dengan menjualnya masih sendiri," papar Herman.

Dari keuntungan itu, ia mengaku untuk membiayai pendidikan sepupu dan keponakannya. 

"Saya dulu masih kerja sendiri. Semua produk kerajinan dari bambu saya bisa kerjakan seperti kursi, meja dan lampu dan lain-lainya. Intinya produk yang saya kerjakan tergantung dari para pemesan. Sudah banyak produk yang saya buat dan telah terjual," tandas dia.

Saat bergabung dengan Bumdes Teguh Mandiri yang baru jalan satu tahun, ia mengaku merasa terbantu karena tidak bekerja sendirian lagi. 

"Dulu saya masih sendiri kerjakan. Tetapi sekarang, dengan adanya Bumdes ini saya merasa terbantu karena ada beberapa orang. Jadi satu minggu itu, saya biasa kerjakan satu set. Itupun juga tergantung dari model yang diinginkan pemesan. Untuk sekarang pesan paling banyak kursi, meja, tempat tidur dan tirai," terangnya.

Ia hanya mengerjakan produk saja. Untuk bahan baku dan pemasaran itu yang urus di Bumdes. 

"Jadi kami hanya kerja saja. Bahan baku itu disediakan oleh Bumdes sampai tingkat pemasaran. Kadang-kadang pemesan yang datang langsung ke bumdes untuk pesan produk kerajinan bambu ini," paparnya.

Selain itu, dengan keterbatasan fisik, ia mengaku juga pernah memberikan pelatihan membuat kerajinan bambu di berbagai daerah seperti di Kabupaten Ende dan Flores Timur. Pelatihan tersebut diberikan kepada warga yang ada di setiap desa-desa. Kendati memiliki keterbatasan fisik, Herman tetap menularkan ilmunya kepada warga desa dan mengedukasi belajar hidup mandiri dari hasil kerajinan.

"Saya hanya berharap bagi orang muda, jangan malu untuk berkarya. Saya hanya seorang penyandang disabilitas tetapi saya tidak malu untuk bekerja. Saya hanya minta orang muda harus berkarya apapun jenis pekerjaannya," pesan Herman.

baca juga: Dinkes Palembang Sayangkan Ambulans Dipakai untuk Pernikahan

Direktur Bumdes Teguh Mandiri, Yanurius Hariyanto mengatakan di Kecamatan Nelle ada lima desa yang ditumbuhi pohon bambu. Selama ini, bambu hanya dijual ke pasar dengan model gelondongan. Ini yang memotivasi lahirnya Bumdes khusus mengolah bambu menjadi produk kerajinan.

"Kita hanya memaksimal saja. Tenaga kerajinan ada. Jadi kita di Bumdes ini hanya menyiapkan bahan baku saja dan tingkat pemasaran. Jadi produk yang sudah jadi, kami yang pasarkan," jelas Yanurius. (OL-3)

BERITA TERKAIT