20 October 2020, 10:00 WIB

Prodi S-3 Dibuka, UT Jamin Kualitas


Syarief Oebaidillah | Humaniora

TUNTUTAN akan ketersediaan sumber daya manusia yang berkompeten sudah sepantasnya direspons setiap perguruan tinggi di Tanah Air. Setelah 36 tahun berdiri dengan pengalaman pembelajaran jarak jauh yang tak diragukan lagi serta telah meluluskan sekitar 1,8 juta  mahasiswa, tak terlalu sulit bagi Universitas Terbuka (UT) untuk mengembangkan jenjang pendidikan setingkat doktoral (S-3).

Melihat kesiapan dan infrastruktur yang sudah lengkap dimiliki perguruan tinggi yang berkantor di Pondok Cabe, Tangerang Selatan ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberi izin pembukaan jenjang S-3 Prodi Administrasi Publik dan Ilmu Manajemen pada 2019. Rektor UT Ojat Darojat menyambut gembira keputusan pemerintah tersebut.

Dengan begitu, warga masyarakat yang sibuk bekerja namun ingin  meningkatkan kompetensi diri dapat menempuh pendidikan S-3 di UT.  "Tentu kami berterima kasih atas kepercayaan ini kepada UT. Alhamdulilah program S-3 mendapat sambutan antusias masyarakat hingga sekarang sudah diikuti sekitar 100 orang yang mengikuti pembelajaran," ungkap Ojat.

Program S-3 yang dibuka UT ini mendapat animo besar dari masyarakat juga termasuk para pejabat di pemerintahan karena sistem PJJ yang sangat fleksibel dari segi waktu tanpa mengurangi kualitas pembelajaran.

Adapun Prodi S-3 tersebut, Program Doktor Administrasi Publik dengan pilihan bidang minat Administrasi Publik dan Kebijakan Publik, dan Program Doktor Ilmu Manajemen pilihan bidang minat Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, dan Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM).

Keberhasilan UT membuka program doktoral itu setelah jajaran UT berhasil menyakinkan pemerintah bahwa alumni UT tidak kalah bersaing dengan alumni perguruan tinggi lainnya dan memiliki jejaring yang kuat. Meski diakui, capaian UT ini lebih butuh waktu dibandingkan Universitas Terbuka Malaysia (UOM) yang baru didirikan pda 2000, mereka sudah lengkap program doktornya. Akibatnya banyak orang Indonesia terutama dari Sumatra mengambil S-3 di UOM.

"Kita bersyukur akhirnya kita diberikan kesempatan untuk membuka S-3 dan insya Allah kita kawal dengan ketat kualitasnya," tukas Rektor Ojat.

Tak sekadar cari gelar

Terkait pengembangan dan jaminan kualitas atau kompetensi di jenjang doktoral, Kepala Layanan Pendidikan Tinggi (LL- Dikti) Agus Setyo Budikendati mengapresiasi pembukaan S-3 di UT tersebut. Ia pun berharap S-3 di  UT tidak dengan metode PJJ saja kecuali Prodi Sosial Humaniora.

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta ( UNJ) ini beralasan jenjang S-3 masih memerlukan integrasi keterampilan psikomotorik, softskill dalam bentuk building character dan kompetensi substansi bidang studi. "Hal ini hanya dapat ditempuh melalui luring," ujarnya.

Budi pun mengapresiasi pihak UT saat menjaring mahasiswa S-3 yang mau meningkatkan kompetensi dan skill-nya bukan sekadar mencari gelar atau ijazah. Ia pun berpesan UT mesti memikirkan kualitas lulusan dibandingkan dengan kuantitas saja.

Sementara itu, Dirjen Dikti Kemendikbud Nizam mengemukakan untuk program S-3 fokusnya pada penelitian, penciptaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. "Riset menjadi moda utama dalam program S-3. Metodologi penelitian, konsultasi dan lain lainnya ditentukan dapat dilakukan secara daring, sedangkan riset akan bergantung pada sifat prodinya. Apakah lebih banyak riset di laboratorium atau di lapangan," imbuh Nizam.

Guru Besar Universitas Gadjah mada (UGM) itu berpendapat selama wahana riset tersebut tersedia, supervisor tersedia, program S-3 dapat dilakukan baik secara langsung maupun melalui PJJ.(H-1)

BERITA TERKAIT