20 October 2020, 08:00 WIB

Riset: Penilaian Moral Bisa Berkorelasi ke Indera Anda


Abdillah Marzuqi | Weekend

ADA hipotesis yang menunjukkan jika perilaku buruk bisa memicu penilaian moral yang kemudian menghasilkan emosi dasar yang memperngaruhi indera anda. Emosi itulah yang berkontribusi pada kemampuan manusia untuk bertahan hidup. Sebagian peneliti lalu memilih rasa jijik, sementara yang lain memilih rasa sakit. 

Dengan pendekatan baru dalam pencitraan otak, tim peneliti dari UNIGE mengambil sisi jijik. Studi itu menunjukkan emosi terhadap rasa jijik mampu memicu respons otak yang mirip dengan saat mnengenali bau tak sedap. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi biomarker di otak untuk rasa jijik.

Rasa jijik adalah emosi dasar yang terkait dengan kemampuan bertahan hidup. Bau menginformasikan kesegaran bahan makanan. Dengan memiliki rasa jijik berarti manusia dapat melakukan tindakan untuk menghindari potensi sumber keracunan. 

Dengan prinsip sama, rasa sakit membantu manusia mengatasi cedera yang mungkin diderita dengan mengaktifkan daya refleks tubuh. Para psikolog mempercayai jenis refleks bertahan hidup ikut berperan sebagai respons terhadap perilaku buruk orang lain.

“Hubungan ini telah dibuktikan dengan adanya asosiasi antara situasi dan sensasi,” ujar Corrado Corradi-Dell’Acqua sebagaimana dilansir sciencemag.com (19/10).

Ia menjelaskan lebih lanjut dengan perumpamaan membaca artikel tentang korupsi sembari menikmati minuman. Korupsi terasa buruk dalam penilaian moral dan mungkin saja anda bisa mendapati minuman yang sedang dinikmati lantas berbau dan terasa tidak enak.

"Sama dengan kebalikannya: bau dapat menghasilkan penilaian moral yang tidak tepat. Dalam istilah konkret, jika seseorang berbau tidak sedap, orang lain cenderung menilai bahwa mereka tidak sehat,” tambahnya.

Sebelumnya, beberapa penelitian menunjukkan rasa jijik terlibat dalam proses emosi dasar, karena penilaian moral dianggap dibuat berdasarkan fakta aktual. Begitupun, paralel dengan mekanisme yang terlibat dalam rasa sakit. 

Lalu tim peneliti membuat paradigma eksperimental dan teknik magnetic resonance imaging (MRI) yang disesuaikan dalam upaya untuk memutuskan antara hipotesis yang kontradiktif. Tahap pertama, para ilmuwan melibatkan sukarelawan yang terkena bau tak sedap atau nyeri yang disebabkan panas. Gagasannya adalah untuk mendapatkan tingkat ketidaknyamanan yang sama dengan kedua cara tersebut.

Pembacaan terhadap dilema yang tidak menyenangkan itu memiliki pengaruh pada bau yang tercium oleh peserta dan menyebabkan rasa jijik, tetapi tidak mempengaruhi rasa sakit. Itu adalah pengukuran fisiologis dari konduktansi listrik pada kulit yang mencerminkan tingkat berkeringat dan aktivitas sistem saraf yang bertanggung jawab atas perilaku tidak disengaja. Corradi-Dell’Acqua bersama tim kemudian memusatkan perhatian pada respons otak. 

Dengan mengukur aktivitas neuron global melalui MRI, para peneliti dapat membuktikan bahwa respons otak secara keseluruhan terhadap rasa jijik dipengaruhi oleh penilaian moral sebelumnya. Sehingga, penilaian moral memang terkait dengan rasa jijik.
 
“Selain penemuan penting untuk psikologi, studi ini adalah kesempatan untuk pengembangan prototipe biomarker untuk rasa jijik penciuman. Ini adalah dua langkah maju," pungkas Corradi-Dell’Acqua. (Zuq/M-1)

BERITA TERKAIT