20 October 2020, 06:15 WIB

Jumlah Profesor Baru Capai 2,16% dari Total Dosen di Indonesia


Agus Utantoro | Humaniora

JUMLAH Guru Besar atau Profesor di Indonesia saat ini baru mencapai 5.664 orang atau sekitar 2,16 persen dari total dosen di Indonesia yang mencapai 261.827 orang.

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Islam Indonesia Prof. Fathul Wahid, ST., M.Sc., Ph.D., dalam penyambutan Guru Besar baru di lingkungan Universitas Islam Indonesia, Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., kemarin.

Ia mengemukakan, dengan bertambahnya satu Guru Besar di Universitas Islam Indonesia (UII), maka perguruan tinggi tertua di Indonesia ini kini memiliki 21 Guru Besar.

Lebih lanjut Prof. Fathul Wahid mengatakan sebagai warga elit, seorang Guru Besar membawa dua implikasi yakni pertama, harapan publik sangat tinggi kepada para profesor, sebagai pengembang ilmu pengetahuan yang mengawal standar akademik tertinggi dan kedua, karenanya, jabatan profesor seharusnya tidak dimaknai sebagai akhir  perjalanan akademik.

"Justru, ini adalah momentum untuk lebih kontributif. Isu-isu publik pun perlu mendapatkan perhatian dan semakin ditekuni," katanya.

Ia mengingatkan, akar kata profesor sudah mengindikasikan hal ini. Kata profesor, jelasnya  berasal dari bahasa Latin profess yang diserap ke dalam bahasa Inggris yang berarti "secara terbuka menyatakan atau secara publik mengklaim kepercayaan, keyakinan, atau opini".

Karenanya, lanjut Prof. Fathul Wahid, seorang profesor tidak hanya menyimpan isu-isu penting yang terinformasikan atau dibenarkan, tetapi bersedia menyatakan, mempertahankan, atau merekomendasikan isu-isu penting secara terbuka, baik di dalam kelas maupun melalui tulisan.

Ia menambahkan, dalam bahasa Arab, profesor disebut dengan al-ustadz, yang dalam penggunaannya di Indonesia, mengalami 'pergeseran' makna, menjadi guru ngaji.

Dalam kesempatan  itu, Rektor UII mengajak semua profesor, terutama di UII, untuk ngemong orang lain, terutama yang lebih muda, untuk tumbuh dan berkembang. "Bukan sebaliknya, minta diemong, dan membuat repot banyak orang," ujarnya.

Ia kemudian mengingatkan lagi tentang Metode Socrates. Metode ini, imbuhnya,  dijalankan Socrates yang menempatkan diri sebagai penanya yang persisten, bidan intelektual yang membantu orang lain melahirkan idenya sendiri dan kemudian menguji ide tersebut.

Socrates percaya bahwa manusia mempunyai sumber daya pengetahuan yang terkubur di dalam dirinya. "Yang dibutuhkan adalah seseorang yang membantunya membawa keluar pengetahuan yang tersembunyi tersebut," katanya. (OL-13)

Baca Juga: Di Perbatasan NTT-Timor Leste Banyak Pemilih akan Hilang Hak Suara

BERITA TERKAIT