20 October 2020, 02:45 WIB

MTQ Nasional Tetap Digelar dengan Protokol Kesehatan Ketat


Ihfa Firdausya | Humaniora

MUSABAQAH Tilawatil Quran (MTQ) Nasional 2020 dipastikan tetap digelar secara fisik di tengah pandemi covid-19. Kali ini, Kota Padang, Sumatra Barat, akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQ Nasional Ke-28 pada 12-21 November 2020.

Kepastian ini diumumkan Menteri Agama Fachrul Razi saat melakukan launching MTQ Nasional 2020 akhir Juli lalu. Kementerian Agama (Kemenag) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Barat pun telah berkoordinasi untuk mematangkan persiapan penyelenggaraan, khususnya mengenai penerapan protokol kesehatan. Saat ditemui di Kantor Kemenag, Jakarta, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kamaruddin Amin menyatakan MTQ Nasional 2020 sudah sangat siap dilaksanakan. Menurutnya, diskusi intensif antara Kemenag dan Pemprov Sumbar sudah beberapa kali dilakukan.

“Pertama, dari sisi persiapan pemerintah daerah untuk melaksanakan itu sudah sangat siap. Pak Gubernur sudah presentasi di depan Pak Menteri tentang kesiapannya. Teman-teman juga sudah ke lapangan, venue-venue-nya sudah sangat siap. Semuanya insya Allah sudah siap,” ujar Kamaruddin kepada Media Indonesia, Senin (12/10).

Kesiapan juga dilakukan dari sisi dewan hakim, pengawas, dan panitera. Mereka telah melalui proses seleksi. Begitu pun dari sisi peserta. Kemenag mencatat hingga pendaftaran MTQ Nasional ditutup pada 30 September, sebanyak 1.969 peserta mendaftarkan diri secara daring melalui aplikasi e- MTQ. Finalisasi kepesertaan akan rampung pada sekitar minggu ketiga Oktober.

MTQ Nasional merupakan ajang dua tahunan dan menjadi barometer perkembangan pendidikan Alquran di Tanah Air. Tahun ini sebanyak 33 provinsi mengirimkan perwakilannya untuk berlombalomba mencatatkan prestasi dalam berbagai cabang dan golongan yang dilombakan.

Kamaruddin menjelaskan keputusan melaksanaan MTQ Nasional saat situasi pandemi covid-19 melalui pertimbangan panjang. “Kami mengambil keputusan ini juga tidak mudah. Kami mempertimbangkan berbagai risiko. Karena itu, kami berdiskusi dengan pemda. Kemudian kami memberi saran dan masukan kepada Menteri Agama,” ungkapnya.

Keputusan itu tidak terlepas dari komitmen bersama untuk menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat dalam MTQ Nasional kali ini. Hal ini terlihat dari kewajiban melakukan tes usap (swab test) bagi seluruh pihak yang terlibat dalam acara nanti.

“Peserta, dewan hakim, dewan juri, semuanya harus di-swab. Jadi bukan rapid test. Ini untuk memastikan mereka yang hadir tidak terinfeksi covid-19,” jelas Kamaruddin.

Tak berhenti di situ, protokol kesehatan secara umum dan teknis akan diterapkan di setiap venue dan event. Karena itu, pihak penyelenggara optimistis MTQ Nasional tidak menjadi klaster baru penyebaran covid-19.

Untuk mencegah terjadinya kerumunan, panitia juga akan meniadakan dua agenda rangkaian penyelenggaraan MTQ Nasional, yaitu pawai taaruf dan pameran (bazar). Selain itu, panitia akan membatasi jumlah penonton pada majelis-majelis musabaqah (lokasi perlombaan).

“Semua acara berlangsung physical, tidak ada virtual. Penonton sangat terbatas sesuai protokol covid-19, mungkin 20% dari kapasitas ruangan, misalnya. Jadi tidak penuh dan ada jarak 1-2 meter,” ujar Kamaruddin.

Dirjen menyebut ketentuanketentuan itu memang mengurangi semarak MTQ Nasional yang biasanya sangat meriah. Namun, itu tidak mengurangi makna dan substansi penyelenggaraan MTQ Nasional. Hal itu juga yang jadi alasan lain perhelatan ini tetap digelar di situasi pandemi.

Kamaruddin menjelaskan MTQ ialah bagian dari artikulasi keberagamaan yang sangat monumental. “Juga bersejarah dalam artikulasi Islam di Indonesia. Jadi rasanya kalau kami tiadakan agak berat karena kami berharap ini punya nilai syiar yang sangat berbobot,” ungkapnya.


SDM unggul

MTQ Nasional tahun ini mengangkat tema MTQ mewujudkan SDM yang unggul, profesional, dan qurani menuju Indonesia maju. Kamaruddin berharap MTQ Nasional dapat mewujudkan ge nerasi qurani dan unggul. “Salah satu bentuk manusia unggul kan punya kompetensi dan kapasitas berbagai hal. Di antaranya kapasitas qurani, jadi pemahaman Alquran yang memadai,” katanya.

“Seni kaligrafi, misalnya, itu juga pembentukan SDM bermutu. Makanya diakomodasi dalam perlombaan yang menurut kami melahirkan SDM unggul dan berkualitas. Lalu, menghafal Alquran juga bentuk SDM unggul,” imbuhnya.

Cabang dan golongan yang dilombakan pada MTQ Nasional Ke- 28 antara lain seni baca Alquran (tilawah dan tartil), qiraat sab’ah (mujawwad dan murottal), tahfizh, tafsir (bahasa Arab, Inggris, Indonesia), syarhil Quran, fahmil Quran, seni kaligrafi Alquran (naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer), dan karya tulis ilmiah Alquran. MTQ Nasional kali ini juga mengakomodasi cabang khusus untuk tunanetra.

“Insya Allah Presiden akan hadir meski belum ada kepastian. Namun, kami masih optimistis karena selama ini Presiden selalu hadir,” tuturnya.

Dia pun berharap MTQ Nasional berjalan lancar tanpa meninggalkan masalah terutama tidak menjadi klaster baru penyebaran covid-19. “Itu komitmen kolektif dari pusat sampai daerah untuk sama-sama mewujudkan itu. Kami juga berharap MTQ bisa jadi salah satu instrumen mewujudkan ge nerasi profesional, qurani, berkualitas, dan berkarakter,” jelasnya

“Sekaligus bisa melestarikan MTQ ini sebagai instrumen syiar agama dan syiar Islam yang monumental dan berkontribusi meningkatkan kesalehan umat,” imbuhnya.

Itu sesuai dengan salah satu visi Kemenag, yakni meningkatkan kesalehan umat. Karena itu, MTQ Nasional merupakan salah satu bentuk terjemahan dan program untuk mewujudkan salah satu visi Kemenag yang merupakan turunan dari visi presiden.

Dia pun mengajak seluruh pemerintah daerah bisa berpartisipasi secara maksimal dan bersama- sama berkomitmen menjaga protokol covid-19 dan memastikan seluruh kontingen sehat walafiat. (Ifa/S3-25)

BERITA TERKAIT