20 October 2020, 03:53 WIB

Sektor Pertanian Andalan Ekonomi Bangsa


S3-25 | Politik dan Hukum

PRESIDEN Joko Widodo selalu menitikberatkan masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan tiga sektor strategis, yakni sektor pangan, energi, dan sumber daya air. Pada pemerintahan Jokowi-Ma’ruf 2019-2024 ini, membangun Indonesia sebagai negara besar masih menempatkan sektor pertanian untuk memperkuat ekonomi dan pertahanan nasional.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) sangat menyadari betul hal ini. Pada berbagai kesempatan, ia menegaskan urusan pangan ialah tugas utama negara yakni berkewajiban menyediakan makan rakyat 267 juta jiwa. Karena itu, arah pembangunan pertanian yang hendak diwujudkan ialah pertanian yang maju, mandiri dan modern agar pertanian Indonesia dalam tantangan apapun tetap berproduksi bahkan ekspor sehingga sektor pertanian menjadi penopang utama pertumbuhan perekonomian nasional.

“Di tengah keterbatasan akibat pandemi covid-19, sesuai arahan Presiden Jokowi, kami terus mendorong peran penting sektor pertanian dalam menciptakan lapangan kerja di perdesaan, memberikan perlindungan sosial, meningkatkan pendapatan keluarga petani, serta memastikan ketahanan pangan nasional,” ujar Syahrul dalam keterangannya, kemarin.

Data BPS menyebutkan peran sektor pertanian di Indonesia saat ini cukup signifikan. Ini terlihat dari kontribusinya terhadap total PDB mencapai 14% dan menyediakan lapangan kerja bagi hampir separuh total penduduk. Juga, dari peningkatan pertumbuhan PDB sektor pertanian sekitar 2,19% ketimbang tahun sebelumnya (year on year) serta kuartal II 2020 yang menunjukkan pertumbuhan sektor pertanian hingga 16,24% ketimbang kuartal sebelumnya. Padahal, pandemi covid-19 belum usai dan sektor lain masih cenderung terpuruk di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang turun sampai 4,19% (q to q) dan 5,32% (YoY).

“Sektor pertanian jadi sektor penyelamat perekonomian nasional karena pertumbuhannya terhadap PDB kuartal II 2020 sangat tinggi, di tengah PDB nasional dan sektor lainya yang turun. Jadi, untuk bisa survive dan menghidupkan manusia adalah kita harus memajukan pertanian. Jangan sampai triwulan kedua naik, triwulan ketiganya anjlok,” terang Syahrul.

Syahrul menegaskan hampir semua negara di dunia merasakan begitu hebatnya dampak pandemi covid-19 terhadap ketahanan pangan, bahkan muncul isu akan terjadinya krisis pangan akibat terbatasnya aktivitas produksi dan distribusi karena pembatasan sosial. Namun demikian, tidak berpengaruh terhadap penyediaan pangan di Indonesia.

Syahrul mengatakan itu bisa terjadi karena kebijakan dan program yang dijalankan fokus pada menggenjot produksi 11 komoditas pangan strategis. Berdasarkan data Kementan-BPS tentang perkiraan ketersediaan pangan pokok nasional, ketersediaan 11 komoditas pangan nasional hingga akhir 2020 untuk beras diperkirakan mencapai 7,1 juta ton, jagung 2,6 juta ton, bawang merah 26.826 ton, bawang putih 192.808 ton, cabai besar 16.791 ton, cabai rawit 38.128 ton, daging sapi/kerbau 242.360 ton, daging ayam 282.140 ton, gula pasir 1,5 juta ton, dan minyak goreng 7,3 juta ton.

“Untuk mempertahankan kecukupan stok beras sampai Desember 2020, Kementan mengakselerasi tanam padi musim tanam II sebesar 5,6 juta hektare dengan menggerakkan semua komponen sumber daya yang didukung ketersediaan air di sentra produksi dan wilayah lainnya,” kata Syahrul.

Generasi milenial

Berdasarkan data BPS, kinerja sektor pertanian pun mampu mengendalikan inflasi pada Ramadan dan Idul Fitri 2020, inflasi pada Mei 2020 berada pada posisi rendah, yakni 0,07%. Kemudian, Januari sampai Agustus 2020, ekspor sektor pertanian Indonesia naik 8,82%, yakni Rp258 triliun.

BPS pun mencatat kenaikan signifikan Nilai Tukar Petani (NTP) periode September 2020, yakni 101,66 ketimbang NTP Agustus 2020 yang hanya 100,65. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional September 2020 se- besar 101,74 atau naik 0,90% ketimbang NTUP Agustus.

Tak ayal dari deretan kinerja nyata sektor pertanian itu, Staf Khusus Presiden Bidang Inovasi, Entrepreneurship, dan Milenial Billy Mambrasar mengapresiasi kinerja positif Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian SYL. Sebab, berhasil meningkatkan nilai ekspor sektor pertanian sehingga membuktikan pertanian menjadi sektor paling kuat di masa pandemi covid-19 dan menjalankan program yang menggairahkan generasi milenial terjun ke sektor pertanian.

“Saya siap mendukung semua program yang diusung Kementan khususnya untuk meningkatkan sumber daya manusia terutama generasi
milenial di sektor pertanian,” ujar Billy saat bertemu dengan Menteri Pertanian di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (13/10)

Billy menyatakan Menteri Pertanian SYL memiliki pro- gram sangat krusial untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional melalui food estate yang kini tengah dilakukan di Kalimantan Tengah. Billy selaku generasi milenial ingin berkontribusi mencapai output pertanian yang optimal melalui peningkatan penggunaan teknologi pertanian dan meningkatkan minat generasi muda di sektor pertanian untuk menjadi petani milenial.

“Menteri Pertanian SYL memiliki program mendorong munculnya 2,5 juta petani milenial untuk menggerakkan pertanian secara modern dan mengakses pasar secara leluasa. Kami selaku staf khusus Presiden khususnya bidang inovasi, entrepreneurship, dan milenial ikut mendukung program itu untuk menciptakan ketahanan pangan nasional,” ujar Billy.

Pihaknya juga membuat rencana program untuk mendukung terlaksananya program petani milenial seperti program resonator atau leader petani milenial untuk memodernkan pertanian serta meningkatkan akses produk pertanian ke pasar di level desa. “Di tahap awal kita akan menyasar provinsi krusial seperti Papua dan Kalimantan Tengah sebagai provinsi percontohan untuk menciptakan farming leaders di kalangan milenial. Dari beberapa provinsi itu ditargetkan mencetak ribuan orang petani milenial, ke depan hasilnya tidak hanya men-supply kebutuhan pangan nasional, tapi juga berorientasi pada ekspor,” tutup Billy. (S3-25)

BERITA TERKAIT