20 October 2020, 03:32 WIB

Pertamina Memberi Energi untuk Indonesia Maju


Gan/S1-25 | Ekonomi

PT Pertamina (Persero) terus berupaya merealisasikan agenda prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Ma’ruf Amin, yakni Program Nawacita terkait kemandirian energi.

Upaya tersebut tercermin dari sejumlah program yang dilakukan oleh Pertamina, diantaranya terus mendorong peningkatan produksi di sektor hulu, terus meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam setiap proyek yang sedang dikerjakan, memperkuat kemandirian energi dengan bahan bakar alternatif, serta terus memperluas pelayanan masyarakat akan kebutuhan energi.

Menjaga Keberlangsungan Industri Migas Nasional

Di tengah pandemi covid-19, Pertamina terus menjaga kinerja untuk memenuhi target produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional dengan catatan produksi hulu migas sebesar 919 MBOEPD (setara ribu barel minyak bumi per hari), pada triwulan I-2020.

Produksi tersebut cukup stabil dan terjaga baik. Hal itu terlihat dari produksi minyak bumi rata-rata sebesar 421 MBOPD (ribu barel per hari), sedangkan produksi gas bumi mencapai rata rata sebesar 2887 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari).

Hal itu ditopang kinerja positif berbagai anak perusahaan hulu Pertamina yang berhasil berproduksi sesuai target. “Sejumlah sumur baru
yang selesai dibor pada 2019 telah mulai berproduksi pada awal tahun ini serta upaya pemeliharaan sumur-sumur (work over dan well services) yang ada menjadikan produksi migas Pertamina relatif stabil,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman.

Sepanjang triwulan 1-2020, meskipun harus melakukan optimalisasi biaya dan efi siensi, sebagai perusahaan negara yang bertugas mengelola energi nasional, Pertamina bersama anak usaha sektor hulu bergerak mengejar target produksi demi menjaga keberlangsungan industri migas nasional.

Fajriyah menambahkan, walaupun menghadapi triple shock akibat pandemi covid 19, Pertamina juga optimis menjalankan amanah untuk memutar roda perekonomian dan menghindari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan tetap mengoperasikan wilayah kerja hulu maupun sejumlah proyek strategis lainnya, seperti Proyek RDMP Balikpapan, Proyek Aromatic TPPI, Proyek Jambaran Tiung Biru, dan Proyek PLTG Jawa-1. Selain itu, seluruh aktivitas di Hilir maupun distribusi juga tetap berjalan baik.

“Terdapat 1,2 juta tenaga kerja yang langsung terkait dengan seluruh aktivitas bisnis Pertamina yang diupayakan untuk tetap dipekerjakan dan tidak dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK),” imbuhnya.

Di sisi lain, Pertamina berkomitmen meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) secara bertahap untuk memberikan kesempatan kepada pengusaha lokal untuk bersinergi dengan BUMN maupun swasta. “Sesuai data hasil evaluasi Badan Pengawas Keuangan dan Pem-
bangunan (BPKP), selama 3 tahun terakhir yaitu 2017 sampai 2019, TKDN Pertamina telah mencapai rata-rata 45,8%,” ujar Fajriyah.

Pertamina akan terus meningkatkan TKDN dari minimal 30% pada 2020 menjadi 50% pada tahun 2026. Komitmen Pertamina itu tampak pada realisasi semester 1 2020, dimana TKDN Pertamina mencapai rata-rata 54%. Hal itu berupa barang sebesar 43%, dan jenis jasa mencapai 65%. Nilai ini lebih tinggi dari standar TKDN dalam proyek Pertamina 2020 yang sebesar 30%.

Fajriyah menambahkan, untuk menjamin nilai komponen dalam negeri terus meningkat, maka Pertamina melakukan program strategis TKDN melalui 6 langkah sebagai berikut; merumuskan Sistem Tata Kerja (STK) TKDN yang berlaku untuk seluruh Pertamina Group dan melakukan alignment STK pengadaan barang dan jasa dengan STK TKDN agar sesuai regulasi. Berikutnya merumuskan dan mengimplementasikan Key Performance Indicators (KPI) terkait TKDN dan mengembangkan digital dashboard dan e-katalog TKDN Pertamina. Selanjutnya juga meningkatkan sinergi dengan surveyor dimulai dari tahap perencanaan, monitoring realisasi, dan compliance TKDN. Dan terus melakukan penguatan sinergi dengan pemerintah, industri manufaktur, dan Perbankan serta sinergi BUMN dalam peningkatan TKDN.

“Pertamina terus berupaya bersinergi dengan pemerintah dan melibatkan industri dalam negeri baik BUMN maupun swasta untuk memastikan bahwa kehadiran bisnis dan proyek Pertamina diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan negara dengan menggerakan perekonomian nasional,”jelasnya.

Selain mengerakkan ekonomi nasional, Pertamina juga terus melakukan transparansi dan keterbukaan dalam menjalankan bisnisnya. Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama, mengatakan Pertamina terus meningkatkan transparansi, terutama dalam proses pengadaan barang dan jasa dengan mendorong pengumuman pengadaan barang dan jasa agar disampaikan ke publik melalui saluran yang mudah diakses seperti website.

Energi Yang Terus Berinovasi

Untuk terus menjaga ketahanan energi nasional, Pertamina berhasil melakukan lompatan besar dengan sukses melakukan uji coba produksi green diesel D100 menggunakan bahan baku 100% minyak sawit sebesar 1.000 barel per hari di Kilang Dumai, Riau, pada Juli lalu.

Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2020, mengapresiasi upaya besar yang telah dan sedang dilakukan dalam membangun kemandirian energi. Presiden mengapresiasi Pertamina yang telah bekerja sama dengan para peneliti ITB untuk memproduksi katalis ‘merah putih’ sebagai komponen utama dalam pembuatan D100 yang akan menyerap minimal 1 juta ton sawit produksi petani per harinya.

Direktur Utama PT Pertamina, Nicke Widyawati menyebutkan bahan bakar ramah lingkungan D100 menjadi ikhtiar Pertamina dalam mewujudkan Nawacita, yakni mengoptimalkan sumber daya dalam negeri untuk membangun ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional.

Perluas Layanan

Pertamina terus berkomitmen untuk melayani dan memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat melalui berbagai inovasi dalam bidang layanan. Sebagai wujud komitmen itu, tampak sepanjang 2017-2019, Pertamina berhasil menyalurkan BBM Satu Harga di 160 titik di seluruh Indonesia. Sementara pada 2020, lembaga penyalur BBM Satu Harga akan bertambah dengan target 83 titik.

Hingga Juli 2020, Pertamina telah menuntaskan pembangunan BBM Satu Harga di 12 titik dari target 83 titik, sehingga total menjadi 172 titik BBM Satu Harga. Ke-12 titik tersebut tersebar di Sulawesi Tengah (2 titik), Kalimantan Barat (1 titik), Maluku & Maluku Utara (2 titik), Kalimantan Selatan (2 titik), Sumatra Utara (1 titik), NTB (1 titik) dan Papua (3 titik). Sedangkan 56 titik lainnya dalam proses pembangunan dan sisanya dalam proses perijinan.

Untuk memperluas layanan masyarakat akan energi, Pertamina terus menjalankan program pembangunan Pertashop di seluruh wilayah Indonesia. Menggandeng Kementerian Dalam Negeri (Ke- mendagri), Pertamina telah membangun 713 outlet Pertashop dari target 4.558 outlet Pertashop di tahun 2020. Menurut CEO PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading Pertamina Mas’ud Khamid, Pertashop menjadi peluang usaha bagi calon mitra Pertamina di pedesaan untuk peningkatan kegiatan ekonomi, sehingga pada akhirnya dapat memaksimalkan potensi desa, meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Di sektor pelayanan jaringan gas yang dilakukan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai subholding gas, Pertamina menegaskan seluruh
penugasan dari pemerintah tetap berjalan sesuai target. Pengembangan jargas PGN telah menunjukkan kenaikan sambungan rumah yang signifikan dari sekitar 64.800 Sambungan Rumah (SR) menjadi sekitar 399.600 SR pada 2019. Pada 2020, meski mendapatkan tantangan di masa pandemi covid-19, PGN melanjutkan pembangunan jargas rumah tangga dengan target 127.800 SR di 23 kabupaten/kota. (Gan/S1-25)

BERITA TERKAIT