19 October 2020, 16:25 WIB

Belajar Bahasa Prancis dengan Menjadi Pemandu Wisata Virtual


Myrna Laksman-Huntley, Pengajar Bahasa dan Sastra Prancis FIB Universitas Indonesia | Opini

Pandemi covid-19 memaksa pemerintah Indonesia mewajibkan proses belajar mengajar dilakukan secara daring atau PJJ (Pengajaran Jarak Jauh). Pelaksanaan PJJ merupakan tantangan tersendiri baik bagi pengajar maupun peserta didik karena mereka dituntut untuk pandai menggunakan teknologi.

Berbagai masalah dihadapi para peserta pembelajaran, seperti perangkat elektronik yang digunakan yang dapat berpengaruh pada kemampuan pengajar untuk menyampaikan materi secara efektif, apalagi untuk sekolah-sekolah yang bukan merupakan sekolah khusus pengajaran bahasa, seperti MAN 2 Kota Bogor.  

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Bogor, yang terletak di Jalan Raya Pajajaran No. 6, Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, dan yang berdiri sejak 1950 dengan nama Sekolah Guru Agama Islam (SGAI), berdasarkan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 277/C9 Tanggal 15 Agustus 1950, awalnya adalah sebuah institusi pendidikan Guru Agama (PGAN) Bogor. Setelah beberapa kali berganti nama dan masa belajar, akhirnya pada 1990, melalui Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor : 64 / 1990 PGAN Bogor dialihfungsikan menjadi Madrasah Aliyah Negeri Bogor II, kemudian disempurnakan dengan Surat Keputusan Penyempurnaan Tanggal 27 Januari 1992 Nomor 42 / 1992 menjadi Madrasah Aliyah Negeri 2 Bogor (sekarang lebih dikenal MAN 2 Kota Bogor). MAN 2 Kota Bogor merupakan satu dari tiga sekolah di Bogor yang mengajarkan bahasa Prancis sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok) yang wajib diampu oleh semua siswa mulai dari kelas X sampai dengan XII.

Kurikulum pengajaran bahasa Prancis yang sesuai dengan CECR (Cadre Européen Commun de Référence pour les Langues)  dengan target A1 telah diupayakan disusun oleh MAN 2 Kota Bogor. Namun, berdasarkan informasi dari pengajar bahasa Prancis di MAN 2 Kota Bogor, waktu pengajaran yang kurang menjadi kendala yang dihadapi sekolah dalam hal pengajaran bahasa Prancis. Kegiatan pembelajaran bahasa Prancis hanya diselenggarakan satu kali seminggu @45 menit. Sementara itu, untuk mencapai target A1, menurut CECR, waktu yang harus dipenuhi oleh pemelajar adalah 120 jam. A1 merupakan tingkat kemahiran berbahasa pemula. Menurut CECR, pada tingkat A1, kompetensi produksi bahasa baik oral (Production Orale) ataupun tertulis (Production Écrite), yang diharapkan adalah pemula dapat memahami dan menggunakan ungkapan sehari-hari dan pernyataan yang sangat sederhana yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konkret serta mampu mendeskripsikan seseorang atau sesuatu dengan kalimat sederhana. Lebih terperinci, pemelajar diharapkan dapat memperkenalkan diri mereka sendiri atau seseorang dan mengajukan pertanyaan kepada seseorang tentang mereka—misalnya, di mana mereka tinggal, hubungan mereka, apa yang menjadi milik mereka, dan lain-lain—dan dapat menjawab jenis pertanyaan yang sama. Dengan demikian, pemelajar seharusnya dapat berkomunikasi dengan cara yang sederhana jika pembicara berbicara dengan lambat, jelas dan kooperatif (https://www.france-langue.fr/niveaux-de-francais/). Namun, minimnya waktu yang dimiliki oleh MAN 2 Kota Bogor dan sistem PJJ yang dilaksanakan secara mendadak semakin berdampak pada kualitas siswa dalam bahasa Prancis karena tidak tersampaikannya materi ajar target A1 secara optimal.

Berdasarkan uraian situasi di atas dapat dikatakan bahwa permasalahan pengajaran bahasa Prancis yang dihadapi oleh MAN 2 Kota Bogor adalah bagaimana membuat pengajaran bahasa Prancis yang efisien dan yang disesuaikan dengan waktu yang tersedia, namun tetap mencapai target sekaligus meningkatkan kualitas siswa dalam bahasa Prancis melalui PJJ.

Melihat permasalahan yang dihadapi oleh MAN 2 Kota Bogor, dua orang pengajar bahasa Prancis dari Program Studi Prancis FIB UI, melalui Program Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat UI 2020, berinisiatif untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh para pengajar dan siswa MAN 2 Kota Bogor untuk mencapai target kemahiran yang sudah ditentukan dengan menggunakan metode pengajaran le français pour l’objective spécifique (FOS) melalui kegiatan pemandu wisata.

FOS merupakan metode pengajaran kemahiran berbahasa Prancis untuk tujuan spesifik, seperti perkantoran, periklanan, perhotelan, dan pariwisata.  Program Studi Prancis FIB UI telah memiliki pengalaman selama lebih dari 20 tahun hingga sekitar tahun 2001 dalam menyelenggarakan Program Diploma III dengan pengajaran kemahiran berbahasa Prancis untuk objektif spesifik (FOS), khususnya bidang perkantoran, periklanan, dan pariwisata. Pemilihan FOS sebagai solusi permasalahan MAN 2 Kota Bogor pun tak terlepas dari dua pendekatan pengajaran Français comme Langue Étrangère ‘bahasa Prancis sebagai bahasa asing’ (FLE)  yang digunakan pada penelitian ini.

Proses Pelaksanaan Kegiatan

Uji coba pengajaran bahasa Prancis FOS ini dimulai dengan 15 siswa pilihan kelas XII MAN 2 Kota Bogor. Adapun kriteria pilihan yang dimaksud adalah siswa kelas XI yang berhasil naik ke kelas XII dengan nilai akhir bahasa Prancis 80-90. Kegiatan ini berlangsung dalam lima tahap. Pertama, pengajar (yang juga merupakan peneliti) membuat silabus pengajaran berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pengajar serta observasi di kelas virtual yang diselenggarakan oleh Institut Français d’Indonésie (IFI) dengan siswa MAN 2 Kota Bogor. Dari observasi itu, peneliti mengetahui kelemahan peserta didik: pelafalan, pengetahuan tentang jam, dan angka. Selain itu, para siswa dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 3 siswa.

Kedua, memberikan tes awal kemampuan bahasa Prancis, yaitu tes struktur dan kosakata, tes kemampuan menulis, dan tes kemampuan berbicara. Ketiga tes dilakukan secara daring melalui Google Classroom. Tes struktur dan kosakata serta tes kemampuan menulis merupakan tes individual yang dilakukan secara sinkronus: siswa diberikan waktu 30 menit untuk mengerjakan tes struktur dan kosakata berupa pilihan ganda menggunakan Google Form, kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan soal tes menulis melalui Google Documents yang sudah diunggah di Google Classroom, dan dikerjakan selama 45 menit. Sementara itu, tes berbicara merupakan tes yang dikerjakan per kelompok secara asinkronus: masing-masing kelompok diminta untuk membuat dialog percakapan berdasarkan situasi komunikasi yang mereka pilih dari 2 tema yang diberikan, tiap kelompok diberikan waktu 24 jam untuk membuat video rekaman dan dikumpulkan di Google Classroom. Tes awal dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat bahasa Prancis siswa dan di akhir penelitian akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengukur keberhasilan akan solusi yang diberikan.

Ketiga, proses belajar mengajar. Selama proses belajar mengajar, kuis (cerdas cermat) secara daring melalui WAG diberikan secara berkala di luar jam pelajaran reguler. Jam reguler adalah Selasa, Kamis, dan Sabtu pk. 10.00-12.00 (total jam ajar reguler 24 jam: 12x pertemuan @2 jam). Selama proses belajar mengajar, perkembangan siswa dicatat berdasarkan nilai kuis dan keaktifan siswa.

Keempat, pelaksanaan proyek akhir sebagai pemandu wisata di 5 tempat wisata terkenal di Bogor, yaitu Kebun Raya Bogor, Zoologi Bogor, Vihara Dhanagun, Jalan Surya Kencana, dan Istana Presiden. Siswa akan mempraktikkan apa yang sudah mereka pelajari dan latih di kelas daring dengan cara merekamnya dalam bentuk video pemandu wisata. Pada tahap ini, 3 narasumber, yaitu perwakilan IFI, perwakilan dosen Prodi Prancis FIB UI, dan perwakilan PT Jagaddhita Tourism Consultant berperan sebagai evaluator video pemandu wisata. IFI dan Prodi Prancis menilai dari aspek bahasa, dengan kriteria penilaian: penguasaan materi pemandu wisata dalam bahasa Prancis, pelafalan, intonasi dan ekspresi, struktur kalimat dan kosakata, gestur, kreativitas video. Sementara itu, PT. Jagaddhita Tourism Consultant menilai dari aspek profesi sebagai pemandu, dengan kriteria penilaian: tata cara pemandu wisata, penyajian objek wisata, sikap, dan video. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengevaluasi peserta didik. Hasil dari evaluasi itu dijadikan evaluasi untuk keseluruhan tahap pembelajaran. Tahap kelima, merupakan tahap terakhir, yaitu analisis data yang bersumber dari hasil tahap kedua sampai dengan keempat: hasil tes awal, hasil perkembangan siswa, dan hasil akhir. Tahap ini bertujuan untuk mengukur keberhasilan akan solusi yang diberikan.  

FOS dan FLE secara PJJ

Di awal kegiatan, semua peserta didik memperlihatkan ketertarikan dan antusiasme yang sama. Meskipun demikian, berdasarkan penilaian peneliti, hasil tes awal dan proses belajar mengajar memperlihatkan kemampuan berbahasa Prancis peserta yang masih lemah. 85% peserta didik lemah pada dua kemampuan berbahasa, yaitu menulis dan berbicara. Kelemahan juga terlihat pada aspek pelafalan, struktur dan kosakata.

Latar belakang peserta didik yang beragam: mulai dari yang aktif berkegiatan pengembangan diri untuk mengisi waktu liburan, yang hanya di rumah saja, sampai dengan yang bekerja sebagai marbot masjid, merupakan tantangan tersendiri bagi pengajar yang dalam artikel ini juga sebagai peneliti, dalam memberikan pengajaran. Hal ini mengakibatkan 3 orang siswa dari kelas agama tidak menyelesaikan proyek kelompok. Kegiatan pengajaran terus dilanjutkan kepada 12 peserta sampai dengan akhir silabus.

Mengacu pada tulisan Gaonach dalam Enseigner le FLE (français langue étrangère) Pratique de classe (2005) pengajar menerapkan pendekatan déterministe et environnementaliste yang berpusat pada pengajar dalam menentukan materi dan menggunakan konteks komunikasi (dialog otentik) sebagai media ajar dan communicationnelle centrée sur l’apprenant ‘komunikasi yang berpusat pada pelajar’.

Dengan demikian, berikut 6 karakteristik utama pendekatan pertama. (1) Pengajar bahasa harus memotivasi pemelajarnya untuk mempraktikkan bahasa, karena bahasa adalah sebuah perilaku atau cara buat; (2) materi yang harus disampaikan pertama adalah materi lisan; (3) praktik berdialog dengan simulasi dari situasi atau keadaan di dunia nyata dibutuhkan karena dapat mendorong pembelajaran bahasa; (4) kegiatan yang dapat membangun pembentukan otomatisme harus dipraktikkan; (5) kegiatan imitasi atau peniruan serta pememorian lewat pemberian suatu acuan atau peragaan dapat membantu praktik berbahasa; (6) praktik pemakaian bahasa merupakan yang utama. Sementara itu, pendekatan kedua berkarater pengajaran yang dilakukan berdasarkan pada pemakaian, fungsi, dan konteks bahasa dalam suatu komunikasi. Terdapat empat formula dalam pelaksanaan dengan pendekatan ini, yaitu observasi, diskusi, praktik/latihan, dan produksi. Kedua pendekatan ini tepat diaplikasikan kepada siswa MAN 2 Kota Bogor, khususnya dalam memberikan materi ajar sebagai pemandu wisata. Pemberian acuan (observasi), kegiatan imitasi/peniruan dan pememorian (diskusi), serta seringnya praktik pemakaian bahasa, akan mempermudah peserta didik dalam menyerap materi ajar dan kemudian mampu memproduksi luaran bahasa yang diharapkan,  baik lisan maupun tulisan.

Pembelajaran dimulai dari Juni 2020 dan berakhir pada Juli 2020 dengan pelaksanaan kelas sebanyak 3 kali seminggu pada hari dan jam yang telah ditentukan. Setiap pertemuan pengajaran kecuali kuis dilaksanakan secara intensif selama 120 menit. Agenda pembelajaran terdiri atas 16 kali pertemuan yang dapat terbagi atas 12 kali pelaksanaan kelas wajib dan 4 kali pelaksanaan kuis di luar jam pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan dengan bantuan media daring seperti WhatsApp, Google Meet, dan Google Classroom. Selain memberikan jadwal kelas reguler, pengajar juga memberikan durasi yang cukup longgar dalam hal mengumpulkan tugas. Pengajar pun memberikan kebebasan waktu dan ruang kepada peserta untuk bertanya, melalui WAG, mengenai materi ajar yang sudah diberikan.

Materi ajar disampaikan secara bertahap dimulai dengan pelafalan, kemudian masuk ke pokok materi pemandu wisata: kalimat pembuka, isi, dan kalimat penutup, pemandu wisata, pembuatan flyer wisata, kemudian dilanjutkan dengan latihan/praktik secara berulang-ulang, baik dalam kompetensi menulis—untuk menghasilkan naskah guiding—maupun dalam kompetensi berbicara—untuk memandu wisata secara virtual—khususnya dalam hal pelafalan. Pengajar menggunakan formula observasi, diskusi, praktik/latihan, dan produksi dalam setiap penyampaian materi ajar. Hal itu sesuai dengan dua pendekatan FLE yang digunakan.

Pada setiap pertemuan, pengajar selalu didampingi oleh dua asisten pengajar, yaitu mahasiswa prodi Prancis FIB UI tingkat akhir, yang bertugas untuk mendata keaktifan peserta didik lewat bantuan media Google Form secara daring. Adapun aspek keaktifan yang didata adalah kehadiran, ketepatan waktu hadir dan pengumpulan tugas, inisiatif peserta didik di kelas untuk bertanya atau menjawab pertanyaan, inisiatif peserta didik untuk bertanya dan menjawab di luar kelas seperti saat kuis maupun ketika bimbingan pribadi, dan kualitas jawaban peserta didik ketika mengikuti kuis atau saat menyerahkan tugas. Di akhir pembelajaran, peserta didik dibimbing  secara intensif per kelompok selama 1 minggu untuk membuat proyek akhir, yaitu video pemandu wisata. Pembimbingan dilakukan pertama-tama oleh pengajar yang kemudian dilanjutkan oleh mahasiswa dengan pantauan pengajar melalui grup WhatsApp. Lewat bimbingan pribadi ini, setiap kelompok mampu menyampaikan ide-ide dan perkembangan penyusunan video mereka secara mudah dan lancar.

Selama tatap muka masing-masing 2 jam pembelajaran, peserta dapat mengikuti pelajaran dengan sangat baik, meskipun pada pertengahan proses pembelajaran, karena alasan personal, Setelah menempuh 1-2 minggu pengajaran, mulai terlihat antusiasme dan kemampuan masing-masing peserta dalam menyerap materi. Antusiasme, keingin-tahuan, dan kemampuan peserta dalam mengikuti proses pembelajaran terlihat dari kecepatan mereka dalam menyerap materi yang diberikan menyebabkan pengajaran berjalan lebih cepat (22 jam) dari rencana ajar (24 jam) yang sudah dibuat dan pengajar pun harus mengubah sedikit silabus dan menyesuaikan dengan kenyataan lapangan.  

Pemanduan Wisata Virtual sebaga Hasil Akhir

Melalui rekaman keaktifan peserta didik yang sudah dibuat sejak pertemuan pertama, pengajar dapat menentukan 3 peserta didik dengan skor keaktifan tertinggi yang ditentukan sebagai peserta didik terbaik untuk program pengajaran ini. Namun, meski hanya menentukan tiga peserta didik sebagai siswa terbaik, pengajar tetap memerhatikan perkembangan setiap peserta didik yang berjumlah 12 orang ini. Melalui data yang terkumpul, tampak bahwa siswa-siswa dengan skor terbaik selalu hadir pada setiap pertemuan tepat waktu, bahkan terkadang hadir sebelum pertemuan dimulai. Selain itu, mereka juga aktif untuk bertanya dan menjawab di kelas maupun di luar kelas serta rutin mengumpulkan tugas. Sementara itu, siswa yang  jarang hadir dan mengumpulkan tugas tidak menunjukkan hasil yang sama baiknya. Namun, secara keseluruhan, hampir setiap siswa mengalami kemajuan pesat dalam berbahasa Prancis, terutama dalam pelafalan dan struktur kata. Hal ini tampak dari video pemandu wisata peserta didik di mana mereka dapat melafalkan kata-kata bahasa Prancis dengan baik dan benar sepanjang video dengan menggunakan intonasi yang tepat, seperti intonasi naik untuk bertanya dan ketika sedang berinteraksi dengan pengunjung yang awalnya tidak mereka kuasai sebelum program pembelajaran dilaksanakan. Selain itu, peserta didik juga berhasil menunjukkan gestur pemandu wisata yang baik seperti dari gerakan tangan dan ekspresi wajah yang ditunjukkan dari video (https://www.youtube.com/watch?v=stp2U6EegPY&t=10s; https://www.youtube.com/watch?v=3bK2so9t06Q&t=8s; https://www.youtube.com/watch?v=cl9jVvq_yX0&t=39s; https://www.youtube.com/watch?v=wFjx-FYPivc&t=17s; )

Hasil positif juga ditunjukkan dari nilai dan komentar yang diberikan oleh para evaluator untuk setiap video. Para evaluator sangat mengapresiasi hasil akhir dari peserta didik, bahkan salah satu evaluator menyarankan agar memasukkan semua video di semua sosial media milik IFI (https://www.facebook.com/138800286216976/posts/3196145147149126/).

Dengan demikian, kegiatan tambahan uji coba pengajaran bahasa Prancis dengan tujuan spesifik (FOS) sebagai pemandu wisata kepada siswa MAN 2 Kota Bogor ini menunjukkan bahwa FOS untuk FLE dapat menjadi solusi bagi MAN 2 Kota Bogor karena FOS dapat memacu motivasi siswa dalam mempelajari bahasa Prancis. Hal itu sejalan dengan hasil penelitian Bilyalova di dalam tulisannya ICT in teaching a foreign language in high school (2017) yang bahwa teknologi yang digunakan dalam pengajaran dengan tujuan yang spesifik akan memotivasi pemelajar dalam belajar. Siswa MAN 2 Kota Bogor termotivasi karena mereka melihat FOS sebagai cara baru dalam menyampaikan pelajaran bahasa Prancis, meskipun proses pembelajaran dilakukan secara daring dengan menggunakan teknologi yang familiar untuk mereka, yang juga sudah digunakan pada kelas reguler di sekolah. Hal itu disebabkan oleh pengajaran FOS memiliki tujuan akhir pembelajaran yang jelas, sehingga hasil akhir lebih terlihat dibandingkan dengan pengajaran kelas reguler yang tidak memiliki tujuan spesifik. Dengan metode FOS secara berkelompok, pengajar memberikan ruang siswa untuk berkembang karena banyaknya latihan atau praktik yang harus dilakukan oleh peserta serta siswa diberikan kebebasan dalam berekspresi ketika harus memproduksi luaran bahasa baik tulis maupun lisan, misalnya pada saat memproduksi tulisan yang isinya menjelaskan dan mendeskripsikan satu tempat wisata, serta kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok yang dapat membantu anggota kelompok yang agak lemah. Dengan demikian, perkembangan tidak hanya terjadi dari sisi bahasa, tetapi juga dari sisi siswa sebagai individu - membangkitkan kompetensi mereka dalam berimajinasi, berinteraksi sosial, dan memperkuat mental siswa.  Namun, tetap ada hal-hal yang harus diperhatikan ketika mengaplikasikan FOS, yaitu minat peserta didik dan cara pengajar dalam mendorong siswa untuk mengulang kembali materi ajar. Salah satu cara yang digunakan pada penelitian ini, yaitu dengan memberikan kuis di luar jadwal reguler, yang diadakan rutin seminggu sekali melalui WAG. Kuis akan menciptakan kompetisi sehat antarsiswa, sehingga mendorong siswa untuk giat belajar.

Kendala dan Solusi

Masalah dalam pengajaran jarak jauh, terutama terkait dengan teknologi, seperti yang dikemukakan oleh Digtyar dkk. di dalam artikel mereka berjudul The problems of distance learning education while teaching foreign languages at the non-linguistic higher school (2019) juga ditemukan oleh pengajar pada kegiatan ini. Namun, dengan banyaknya platform yang memadai saat ini, masalah teknologi itu pun dapat teratasi dengan baik. Ada baiknya, sebelum memulai kelas secara daring, sebaiknya pengajar memperhitungkan terlebih dahulu kemungkinan yang akan terjadi terkait teknologi dan sudah harus menyiapkan solusi untuk itu semua. Sebagai contoh yang dilakukan dalam kegiatan ini: pemberian kuota kepada peserta didik, merupakan solusi atas kemungkinan ketidakmampuan peserta dalam menyediakan kuota. Contoh lainnya, yaitu kendala signal peserta didik yang tidak stabil. Dalam kondisi demikian, pengajar dapat memberikan penjelasan dengan alternatif  lainnya, misalkan dengan menuliskan apa yang sedang dijelaskan pada aplikasi chat video conference yang digunakan, setelah itu percakapan chat itu disalin dan ditempel ke ruang chat lainnya, misalnya Grup WhatsApp. Dengan demikian, peserta yang mendapatkan kendala dalam mengikuti kelas secara sinkronus maupun peserta yang berhalangan hadir tetap dapat mempelajari materi ajar yang diberikan bahkan itu bisa dijadikan sebagai pengingat untuk semua peserta dan juga bisa membuka ruang untuk diskusi baru.

BERITA TERKAIT