19 October 2020, 12:10 WIB

Siswi Bunuh Diri di Gowa Diduga karena Tuntutan Belajar Daring


Syarief Oebaidillah | Humaniora

DIDUGA lantaran beban tugas daring dari sekolahnya, MI, seorang siswi SMA di Gowa, Sulawesi Selatan berinisial MI berusia 16 tahun nekat bunuh diri dengan meminum racun, Sabtu (17/10).

Koban bunuh diri akibat depresi dengan banyaknya tugas-tugas daring dari sekolahnya. Sebelum kematiannya, korban kerap bercerita pada teman-temannya perihal sulitnya akses internet di kampungnya hingga menyebabkan tugas-tugas daringnya menumpuk.

Mirisnya, MI merekam aksi bunuh dirinya dalam sebuah video. Rekaman ponsel berdurasi 32 detik itu menunjukkan detik-detik ketika korban meminum racun rumput.

"Kami mendug ini bukan kejadian tunggal. Stres yang dialami siswa akibat PJJ yang tidak memiliki standar khusus dan cenderung sangat memberatkan siswa dari sisi tugas-tugas dari  guru mengakibatkan depresi bagj siswa yang berujung pada kejadian bunuh diri tersebut, " kata Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia ( IGI) M Ramli Rahim melalui keterangannnya kepada Media Indonesia.

Menurut Ramli jumlah mata pelajaran yang sangat banyak ditambah dengan mudahnya guru memberikan tugas kepada siswa menjadi beban yang begitu berat bagi siswa, sekitar 14-16 mata pelajaran tentu bukan sesuatu yang mudah apalagi dengan dukungan jaringan internet yang tidak memadai.

IGI, kata Ramli, sejak awal sudah meminta pemerintah pusat dan menyampaikan langsung ke Mendikbud Nadiem Makarim bahwa beban mata pelajaran yang dialami siswa sesungguhnya menjadi masalah utama rendahnya kualitas pendidikan. Namun hingga saat ini upaya penyederhanaan kurikulum tampaknya masih mengalami jalan buntu.

Standar penugasan oleh guru juga tidak diatur, baik oleh Kemendikbud, dinas pendidikan provinsi maupun dinas pendidikan Kabupaten Kota. Bisa dibayangkan jika setiap guru memberikan satu saja tugas setiap minggu maka setiap siswa akan mendapatkan 14-16 tugas yang harus dituntaskan sebelum mata pelajaran dilanjutkan minggu depannya.

"Guru sangat mudah memberikan tugas apalagi mereka saat ini dengan dukungan teknologi tak perlu tampil di depan kelas lagi dan cukup memberikan tugas lewat aplikasi yang ada. Tetapi mereka tidak memperhitungkan secara komprehensif beban tugas yang diberikan ke siswa tersebut," beber Ramli.

Ia pun mengingatkan kejadian bunuh diri oleh siswa di kabupaten Gowa Ini seharusnya menjadi alarm yang sangat keras kepada pemerintah bahwa beratnya penugasan selama belajar di rumah bisa memberikan dampak depresi kepada siswa.

Ramli menilai seharusnya kepala sekolah dan para guru konseling mampu mengetahui dan mengukur beban yang dialami siswa akibat banyaknya penugasan para guru di suatu sekolah terhadap 1 siswa sehingga dapat menjadi standar bagi guru di sekolah terkait dalam memberikan penugasan.

"Sehingga pemerintah tidak berlepas tangan,tidak cukup dengan memberikan kuota data kepada siswa saja tetapi memahami secara penuh suasana dan kondisi pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Semua itu seharusnya diatur dan dibuat standarnya oleh Kemendikbud. (H-2)

BERITA TERKAIT