19 October 2020, 09:26 WIB

UGM Gandeng WhatsApp untuk Perangi Hoaks


Ardi Teristi Hardi | Nusantara

UNIVERSITAS Gadjah Mada (UGM) dan WhatsApp meluncurkan program pelatihan bertemakan Perempuan Melawan Hoaks Politik di WhatsApp Grup dalam Pilkada 2020. Tujuannya untuk mendukung para tokoh komunitas perempuan di empat kota menjadi agen perubahan dalam memerangi penyebaran hoaks sepanjang Pilkada 2020.

Pelatihan tersebut merupakan kelanjutan dari hasil riset berjudul Grup WhatsApp dan Literasi Digital Perempuan Indonesia yang dipublikasikan awal tahun ini oleh  Departemen Ilmu Komunikasi UGM. Bagi kebanyakan perempuan, WhatsApp adalah perpanjangan dari kehidupan sosial. Lebih dari separuh grup WhatsApp adalah keluarga dan teman-teman. Sebanyak 70% dari 1.250 responden perempuan mengaku memiliki hingga 10 grup WhatsApp, yang seringkali menjadi tempat mereka terpapar hoaks dan disinformasi.

"Riset juga menunjukkan, 74% dari perempuan yang terpapar hoaks memilih untuk tidak menanggapi pesan meragukan yang diterima karena menghindari konflik. Padahal, kamimelihat perempuan justru berkesempatan membawa perubahan dalam komunitasnya asalkan terbekali dengan pelatihan literasi digital yang tepat. Inilah mengapa kami berkolaborasi dengan WhatsApp untuk menyelenggarakan rangkaian program pelatihan ini," kata Novi Kurnia, Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi UGM, Senin (19/10).

Salah satu peserta pelatihan yang telah mendaftarkan dirinya adalah Andi Sri Wulandani, perempuan berumur 38 tahun dari Makassar. Andi pernah bekerja di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Soppeng dan kini mengepalai sebuah institusi penelitian di Makassar.

"Setiap orang, termasuk saya sendiri menggunakan WhatsApp sebagai sarana komunikasi utama untuk terhubung dengan teman, keluarga, dan rekan kerja," kata Andi. 

"Tanpa pengetahuan dan kesadaran yang cukup, mudah bagi kita untuk terperangkap dalam informasi yang belum pasti kebenarannya. Oleh sebab itu, saya tidak sabar untuk mengikuti pelatihan ini dan berharap ilmu yang saya dapatkan bisa saya bagikan ke komunitas saya. Saya yakin kita bisa bersama-sama melawan hoaks dengan upaya kolaboratif," tambahnya.


Pelatihan iakan diadakan di empat kota/kabupaten terpilih, yakni Tangerang Selatan, Mamuju, Tomohon, dan Makassar. Keempat lokasi ini diidentifikasi oleh Badan  Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai daerah yang rentan konflik akibat disinformasi. Novi, yang juga koordinator pelatihan menambahkan di Makassar, 58% perempuan rata-rata menerima satu hingga tiga pesan yang menyesatkan dari grup mereka setiap harinya. Lebih dari tiga perempat isi pesan-pesan tersebut berkaitan dengan politik.

Direktur Kebijakan Publik WhatsApp APAC, Clair Deevy percaya teknologi dan peningkatan literasi digital yang baik dapat menjadi solusi atas isu ini. 

"WhatsApp memiliki teknologi pendeteksi spam terbaik. Dengan teknologi ini, WhatsApp mendeteksi akun-akun yang menunjukkan perilaku mencurigakan, seperti akun baru  terdaftar yang mendadak mengirimkan pesan dalam jumlah besar sekaligus. Akun-akun seperti ini mungkin disalahgunakan untuk menyebarkan spam dan hoaks," kata Deevy.

baca juga: KPU Sulawesi Tenggara Keluarkan 12 Aturan Baru Prokes Pilkada

Deevy melanjutkan, WhatsApp tetap menyarankan penggunanya untuk selalu memeriksa kebenaran pesan yang diterima sebelum membagikannya. Pengguna juga disarankan untuk selalu merujuk informasi penting kepada sumber yang terpercaya dan resmi. Pihaknya pun sangat antusias dapat bekerja sama dengan institusi seperti UGM untuk semakin mendorong keterlibatan pengguna Whatsapp dalam melawan hoaks dan disinformasi.

Pelatihan ini akan berlangsung 19 sampai 23 Oktober 2020, diikuti dengan sesi pendampingan hingga akhir tahun. Para peserta akan dibagi ke dalam beberapa  kelompok dan menerima sesi pembinaan melalui grup WhatsApp. Mereka akan dibekali dengan materi pembelajaran yang memudahkan mereka meneruskan apa yang sudah mereka pelajari kepada komunitas mereka kelak. (OL-3)

BERITA TERKAIT