19 October 2020, 08:45 WIB

Pejabat Gedung Putih ke Suriah untuk Bebaskan Warga AS


Faustinus Nua | Internasional

SEORANG pejabat Gedung Putih melakukan perjalanan ke Damaskus, awal tahun ini, untuk pertemuan rahasia dengan pemerintah Suriah terkait pembebasan setidaknya dua warga negara Amerika Serikat (AS) yang diduga ditahan di sana. Hal itu diungkapkan seorang pejabat administrasi Trump, Minggu (18/10).

Sumber yang berbicara dengan syarat anonim, menyebut pejabat itu adalah Kash Patel, wakil asisten Presiden Donald Trump dan pejabat tinggi kontraterorisme Gedung Putih. Patel telah terbang ke Damaskus.

"Ini adalah lambang bagaimana Presiden Trump menjadikan prioritas utama untuk membawa pulang warga Amerika yang ditahan di luar negeri," kata sumber tersebut.

Baca juga: Beijing Peringatkan Washington Terkait Warga Amerika yang Ditahan

Sumber itu juga membenarkan laporan di Wall Street Journal. Surat kabar itu, mengutip pejabat pemerintahan Trump dan orang lain yang mengetahui negosiasi tersebut. Hal itu merupakan kali pertama seorang pejabat tingkat tinggi AS bertemu di Suriah dengan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad yang terisolasi dalam lebih dari satu dekade.

Surat kabar itu juga mengatakan para pejabat AS berharap kesepakatan dengan Assad dapat membebaskan Austin Tice, jurnalis lepas dan mantan perwira Marinir yang menghilang saat bertugas di Suriah pada 2012, dan Majd Kamalmaz, seorang terapis Suriah-Amerika yang menghilang setelah dihentikan di pos pemeriksaan pemerintah Suriah di tahun 2017.

Setidaknya empat warga AS lainnya diyakini ditahan pemerintah Suriah, tetapi sedikit yang diketahui tentang kasus-kasus itu.

The Journal melaporkan bahwa Trump menulis surat pribadi kepada Assad pada Maret, mengusulkan dialog langsung tentang Tice.

Dikatakan pula bahwa kepala keamanan utama Libanon Abbas Ibrahim, pekan lalu, bertemu di Gedung Putih dengan penasihat keamanan nasional Robert O'Brien untuk membahas warga AS yang ditahan di Suriah.

Pembicaraan dengan Suriah belum terlalu jauh, tetapi Damaskus telah berulang kali menuntut Washington menarik semua pasukannya dari negara itu.

Suriah meletus ke dalam perang saudara hampir satu dekade lalu setelah Assad pada 2011 memulai penumpasan brutal terhadap pengunjuk rasa yang menyerukan diakhirinya pemerintahan keluarganya. (CNA/OL-1)

BERITA TERKAIT