19 October 2020, 05:45 WIB

Aura Pilpres di Pilgub Kalimantan Selatan


DENNY S | Pilkada

PILKADA Provinsi Kalimantan Selatan 9 Desember nanti menjadi pertaruhan bagi pasangan calon petahana, Sahbirin Noor-Muhidin. Keduanya mendapat tantangan yang tak ringan dari Denny  Indrayana-Difriadi Darjat.

Pilgub Kalsel 2020 ini mengingatkan kita pada persaingan antara pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin (petahana) dan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno di Pilpres 2019 lalu. Secara kebetulan, sebagai
incumbent, Sahbirin-Muhidin juga mendapatkan nomor urut 01 dan penantangnya, Denny-Difriadi nomor urut 02.

Pasangan Sahbirin-Muhidin (SahbirinMu) diusung mayoritas parpol di DPRD Kalsel, yaitu Golkar, PAN, PDIP, PKS, Partai NasDem, dan PKB, ditambah partai pendukung nonparlemen, yaitu PKPI dan PSI.

Jumlah kursi dukungan untuk pasangan ini mencapai 40 kursi atau hampir 75%.

Dari kubu penantang, Denny-Difriadi yang dikenal dengan jargon Hijrah Gasan Banua diusung Partai Gerindra, Partai Demokrat, dan PPP dengan modal 14 kursi parlemen. Partai Hanura yang memiliki satu kursi di DPRD Kalsel memilih tidak mendukung pasangan calon.

Dengan perimbangan seperti itu, di atas kertas Sahbirin-Muhidin patut diunggulkan. Akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin Fikri Hadin menyebut pasangan petahana berada di atas angin.

“Jika melihat perbandingan dukungan berdasarkan kursi di legislatif, petahana secara teori lebih unggul. Namun, ini tidak serta-merta mencerminkan elektabilitas di tengah masyarakat  karena bisa jadi berbeda,” ujarnya.

Hal itu becermin pada hasil Pilpres 2019. Di Kalsel, pasangan 02 Prabowo-Sandi unggul atas Jokowi-Ma’ruf meski dengan keunggulan jumlah suara yang tak tidak signifi kan.

Aura pilpres di Pilgub Kalsel juga terlihat, yakni pasangan 02 didukung pula oleh timses dan relawan emak-emak, pasangan 01 didukung parpol berisikan milenial PSI.

Sahbirin selama ini juga meniru gaya Jokowi dengan blusukan menyapa masyarakat. Dia memopulerkan istilah turun ke desa (turdes), menemui masyarakat hingga pedalaman Pegunungan Meratus.


Lebih unggul

Hasil survei untuk kedua paslon ini menempatkan pasangan petahana lebih unggul meski tidak terlalu besar. Selain berstatus petahana, Sahbirin yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kalsel mendapat tambahan kekuatan dari Muhidin.

Ketua DPW PAN Kalsel itu pernah menjabat Wali Kota Banjarmasin dan memiliki basis massa yang kuat.

Kendati begitu, Denny tidak bisa dipandang sebelah mata. Jualan Denny yang pernah menjabat Wakil Menteri Hukum dan HAM di era Presiden SBY pun cukup memikat. Dia berkomitmen untuk mengusung misi pemberantasan korupsi, penataan birokrasi, dan antipolitik uang.

Posisi Difriadi juga patut diperhitungkan. Dia pernah menjadi Wakil Bupati Tanah Bumbu dan kini menjabat Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalsel. Tentunya, dukungan dari masyarakat adat cukup besar untuk pasangan ini.

Salah satu isu menonjol di Pilgub Kalsel ialah keberpihakan para kandidat pada lingkungan. Terkait isu itu, Sahbirin-Muhidin menegaskan komitmennya dengan mengampanyekan Revolusi Hijau sebagai sebuah gerakan penanaman pohon besar-besaran untuk penyelamatan lingkungan dan lahan kritis.

Denny-Difriadi tak mau kalah. Keduanya menggaungkan gerakan #SaveMeratus untuk melestarikan kawasan Pegunungan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Yang patut diapresiasi dari kedua pasangan ialah kepatuhan mereka terhadap peraturan untuk mencegah penularan covid-19 di setiap tahapan pilkada. Menurut Kapolda Kalsel Irjen Nico Afinta,  pihaknya belum menerima laporan adanya pelanggaran protokol kesehatan selama kampanye.

Dia juga menyambut baik beragam inovasi, termasuk memaksimalkan kampanye daring melalui media sosial. (Ant/X-8)

BERITA TERKAIT