19 October 2020, 03:25 WIB

Siasat Tepat, Usaha pun Maju


Kristiadi | Nusantara

KHOTUM Hotimah juga terdampak oleh pandemi covid-19. Ketika orang lain terpuruk di tengah wabah, perempuan asal Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, itu justru menerima berkah.

Khotum ialah pemilik Rumah Madu di Jalan Galunggung. Berkah yang datang di tengah pandemi itu ialah omzet penjualannya yang mengalami kenaikan drastis.

“Naiknya mencapai 80% kalau dibandingkan dengan sebelum pandemi. Selain di dalam negeri, kami mendapat pesanan untuk dikirim ke India dan Pakistan,” tambahnya, kemarin.

Madu sudah umum diketahui sangat baik untuk menjaga imunitas tubuh. Karena itu, komoditas itu tidak terdampak, bahkan mengalami peningkatan permintaan.

“Pada masa pandemi, kami tidak hanya menjual madu dengan menjajakan langsung, tapi juga mempromosikannya secara daring. Banyak permintaan dari luar daerah, termasuk dari luar negeri,” sambung Khotum.

Madu produk Rumah Madu itu dijual dengan harga Rp50 ribu- Rp175 ribu per botol dengan berbagai ukuran. Saat ini, setiap minggu, ia berhasil menjual hingga 10 karton, per karton terdiri dari 12 botol.

Variasi madu yang dijual beragam, mulai odeng, kaliandra, rambutan, randu, hingga bawang putih tunggal, lanang, bunga karet, teuweul, dan madu hutan.

“Dalam tiga bulan terakhir, omzet kami mencapai Rp150 juta. Sebelum pandemi, omzet Rp30 juta per tiga bulan,” lanjutnya.

Produksi dan penjualan madu dilakoni Khotum sejak 2018. Ia menerima pesanan dari Bandung, Bekasi, Cianjur, dan Tasikmalaya.

Dalam perkembangannya, madu juga dikirim ke India dan Pakistan. Khotum mengaku mendapat pasokan madu murni dari petani lebah odeng di Garut dan Tasikmalaya. Ia mengemas dan menyajikannya dalam berbagai variasi, di antaranya madu jahe, cengkih, kopi, dan rempah-rempah.

“Alhamdulilah, usaha kami tetap bertahan, bahkan meningkat di tengah pandemi. Tapi, kami tetap berharap, mudah-mudahan virus korona dengan cepat teratasi sehingga pelaku UMKM lain juga bisa bangkit kembali,” ungkap Khotum.

Masih di Tasikmalaya, tangantangan terampil penghuni penjara juga mendapat berkah. Kelompok narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan Tasikmalaya itu mampu memproduksi kerajinan rotan, berupa kursi dan meja.

“Di tengah pagebluk, kami kebanjiran pesanan dari perkantoran, perhotelan, dan perorangan. Kami menjual satu set kursi dan meja seharga Rp1,8 juta hingga Rp4 juta,” kata Kepala Seksi Kegiatan Kerja LP Tasikmalaya, Arief Setiyo Budiarto. (Kristiadi/N-3)

BERITA TERKAIT