19 October 2020, 05:30 WIB

Literasi Keuangan Percepat PEN


GANA BUANA | Ekonomi

KEBIASAAN masyarakat dalam penggunaan teknologi keuangan digital diperkirakan akan terus bertumbuh. Hal itu diharapkan akan membantu percepatan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang sedang digalakkan pemerintah saat ini.

“Kami meyakini dengan tingkat literasi atau pemahaman masyarakat yang lebih baik mengenai produk dan layanan keuangan bisa menjadi solusi mempercepat PEN,” kata anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara dalam pembukaan Bulan Inklusi Keuangan (BIK), baru-baru ini.

Ia melanjutkan, dengan diiringi kemampuan pengelolaan keuangan yang memadai, masyarakat bisa terdorong untuk menggunakan produk dan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan mereka dalam beraktivitas ekonomi.

Seperti diketahui, saat ini OJK menetapkan beberapa program untuk meningkatkan akses keuangan masyarakat dan menjalankan program PEN, antara lain kredit usaha rakyat (KUR), Laku Pandai,
Jaring, bank wakaf mikro, dan kredit pembiayaan melawan rentenir (KPMR).

Berbagai inisiatif itu dikoordinasikan dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah yang berjumlah 195 tim di berbagai daerah di Tanah Air.

Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Financial Technology (Fintech) OJK Munawar Kasan menyampaikan literasi keuangan masyarakat terhadap layanan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi informasi atau fi ntech lending, misalnya, sangat membantu program PEN.

Fintech lending diyakini bisa memberikan dukungan bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar PEN bisa terpacu. Sayangnya, jangkauan penyelenggara fintech masih dominan terjadi di Pulau Jawa.

“Kini baru 15% transaksi fi ntech lending di luar Jawa, masih relatif kecil. Untuk itu, OJK terus meningkatkan kualitas dan produktivitas industri ( fi ntech lending). Kami tekankan kontribusi sektor pembiayaan produktif dan berharap ada pemerataan dari penyelenggara (industri fi ntech lending) untuk di luar Pulau Jawa,” ucap Munawar.

Dia pun menjelaskan salah satu dukungan OJK agar literasi keuangan meluas di luar Jawa ialah membuat aturan bagi penyelenggara fi ntech lending, sejak terdaftar wajib melakukan edukasi sebanyak 12 kali di berbagai daerah di luar Jawa.


Terus tumbuh

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyatakan penyaluran pembiayaan oleh fi ntech peer to peer (P2P) lending terus tumbuh setiap tahun.

Terbukti pada 2018, pembiayaan naik 567% secara tahunan (yoy) menjadi Rp20 triliun. Pada 2019, pembiayaan kembali naik 205% (yoy) menjadi Rp58 triliun.

Tahun ini, Ketua Harian AFPI Kuseryansyah optimistis fi ntech lending mampu menyalurkan pembiayaan sekitar Rp60 triliun atau naik 2%-5% (yoy) sehingga bisa mempercepat realisasi PEN.

“Untuk tahun depan, kami optimistis mencapai angka Rp89 triliun, atau tumbuh 48%,” katanya.

Hal itu diyakini, lanjut dia, karena kebiasaan masyarakat yang kini aktif mengadopsi layanan digital termasuk layanan fintech lending sehingga diharapkan memacu permintaan pembiayaan pada
fi ntech lending.

General Manajer Kredivo Indonesia Lily Suriani menambahkan, pihaknya akan melakukan penetrasi pasar dengan menjajakan pembiayaan produktif untuk mendukung program PEN sesuai dengan
arahan OJK.

“Kami juga akan mengantisipasi risiko pembiayaan dengan aktif mengedukasi penerima pinjaman,” pungkas Lily. (S-3)

BERITA TERKAIT