19 October 2020, 03:53 WIB

Publik Khawatirkan Hoaks Pagebluk Covid-19


Insi Nantika Jelita | Politik dan Hukum

SUDAH delapan bulan pagebluk yang disebabkan virus korona baru menghantui kehidupan sehari-hari warga masyarakat di Indonesia.

Akan tetapi, kekhawatiran publik terhadap informasi atau berita bohong (hoaks) tentang covid-19 yang berseliweran di media sosial tak juga kunjung surut.

Demikian ungkap Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi ketika memaparkan hasil Survei Nasional Mitigasi Dampak Covid-19: Tarik-menarik Kepentingan Ekonomi dan Kesehatan melalui tayangan Youtube, kemarin.

“Sebanyak 55,7% responden sangat khawatir dengan hoaks. Ini penting disampaikan agar masyarakat mendapatkan informasi yang betul. Responden memiliki kekhawatiran luar biasa tinggi terkait hoaks yang menyesatkan tentang virus korona,” kata Burhanuddin.

Adapun responden yang mengaku khawatir luar biasa terhadap validitas informasi covid-19 sebanyak 12,7%. Lalu sekitar 5,3% responden tidak merasa khawatir (lihat grafik). Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengungkapkan pihaknya mengidentifikasi sebanyak 2.020 hoaks soal covid-19 dengan 104 orang menjadi tersangka. Ribuan hoaks itu ditemukan di empat platform digital yang ada di Indonesia.

“Yakni di Facebook ada 1.497, di Instagram 20, di Twitter ada 482, di Youtube ada 21,” jelas Johnny.

Burhanuddin melanjutkan mereka yang sangat khawatir meminta pemerintah memprioritaskan penanganan kesehatan. “Tuntutan responden soal kesehatan itu tinggi. Sebaliknya yang menyatakan tidak khawatir covid-19 meminta pemerintah memprioritaskan ekonomi.”

Survei Indikator kali ini melibatkan 1.200 responden melalui metode wawancara via telepon pada 24-30 September dengan margin of error sekitar 2,9% dan tingkat kepercayaan 95%.

Kolaborasi

Dalam menanggapi tingginya harapan warga agar pemerintah mengedepankan aspek kesehatan dalam menangani pandemi korona, Kepala Badan POM Penny K Lukito menyatakan hingga kemarin pihaknya memastikan pelaksanaan uji klinis fase ketiga terhadap vaksin covid-19 berjalan sesuai rencana.

“Pada 8-9 September 2020, Badan POM menginspeksi pelaksanaan uji klinis ke seluruh pusat uji klinis. Hasilnya tidak ada temuan bersifat kritikal,” ungkap Penny dalam keterangan resmi, kemarin.

Sebanyak 1.620 relawan pun tuntas mendapatkan suntikan pertama vaksin covid-19 buatan Sinovac, Tiongkok, yang dilakukan dalam beberapa sesi di Bandung.

Dirut PT Bio Farma, Honesti Basyir, dalam siaran persnya di Bandung, kemarin, mengatakan pengadaan vaksin covid-19 untuk Indonesia telah ditetapkan pemerintah, yakni untuk 170 juta jiwa atau sekitar 60% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengemukakan bahwa kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat merupakan modal untuk keluar dari krisis kesehatan dan ekonomi akibat covid-19.

“Kuncinya jangan sampai pasien positif korona melonjak. Sebab, kalau sampai ada kenaikan signifikan, pemerintah bakal mempertimbangkan untuk kembali mengetatkan PSBB yang membatasi gerak ekonomi,” tandas Rerie, sapaan akrab Lestari, kemarin. (Ata/BY/RO/Ant/X-3)

BERITA TERKAIT